VOLUNTARISME POLITIK KAUM SENIMAN (Studi Kasus : Seniman Folk Mataraman Institute (FMI) dalam Pemilihan Presiden Tahun 2014 di Kota Yogyakarta)
ZULPANDI, Hasrul Hanif, S.IP., M.A
2017 | Tesis | S2 Politik dan PemerintahanPenelitian ini mengkaji tentang fenomena volunterisme politik yang dilakukan oleh kaum seniman dari komunitas FMI pada pilpres tahun 2014 di Kota Yogyakarta. Volunterisme politik muncul sebagai gejala yang unik dalam partisipasi politik di kalangan kaum seniman. Mereka hadir sebagai kekuatan politik baru dalam kontestasi demokrasi elektoral saat ini. Melihat fenomena hadirnya volunterisme politik dalam lingkungan politik yang sarat akan politik uang dan politik transaksional di Indonesia, maka penelitian ini akan fokus pada dua pertanyaan penelitian, yaitu : bagaimana bentuk volunterisme politik yang dilakukan oleh kaum seniman FMI dan apa faktor yang mendorong terciptanya volunterisme politik tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus. Dalam hal ini, volunterisme politik yang dilakukan oleh para seniman FMI diposisikan sebagai kesatuan unit yang akan diteliti. Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, maka dilakukan dengan metode wawancara mendalam (indepth interview) dan dibantu dengan melacak informasi dari berbagai sumber sekunder seperti buku, jurnal, artikel, website, berita dan media sosial. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kaum seniman di Kota Yogyakarta, khususnya para seniman FMI merupakan elemen masyarakat yang sudah lama aktif dalam partisipasi politik non konvensional di Kota Yogyakarta. Namun pada pilpres tahun 2014 partisipasi politik kaum seniman FMI tersebut telah bertransformasi menjadi partisipasi politik konvensional. Hal ini terkait dengan keterlibatan mereka sebagai relawan politik Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Partisipasi politik konvensional para seniman FMI dilakukan melalui dukungan suara dan kampanye politik untuk Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Hal ini merupakan bentuk dari volunterisme politik yang dilakukan oleh para seniman FMI. Kemudian penelitian ini juga menemukan fakta bahwa volunterisme politik yang terjadi di kalangan kaum seniman FMI tersebut, muncul karena disebabkan oleh beberapa faktor yang berasal dari relasi sosial internal dan eksternal komunitas. Dimana dari sisi internal, faktor tradisi gotong royong dan rasa hormat terhadap senior menjadi alasan yang kuat mempengaruhi lahirnya volunterisme politik itu. Sedangkan, dari sisi eksternal diketahui bahwa faktor personality dan program kerja yang diusung kandidat menjadi daya tarik berjalannya partisipasi politik yang berbasis pada nilai-nilai volunterisme itu. Sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa modal sosial di internal komunitas berupa tradisi gotong royong dan rasa hormat dengan senior, jika berhadapan pada citra kandidat yang baik melalui prestasi personality dan program kerja akan mengarahkan pada sebuah partisipasi politik yang berbasis pada nilai-nilai volunterisme politik.
This study examines the phenomenon of political volunteerism performed by the artists of the FMI community in the presidential election in 2014 in the city of Yogyakarta. Political volunteerism emerged as a unique phenomenon in political participation among the artists. They are present as a new political force in the democratic electoral contestation today. Looking at the phenomenon of political volunteerism presence in the political environment which is full of money politics and transactional politics in Indonesia, this research will focus on two research questions, namely: how are the forms of political volunteerism performed by the FMI artist and what factors are driving the creation of political volunteerism. This study is a qualitative study that uses a case study approach. In this case, the political volunteerism performed by FMI artists is positioned as an integrated unit to be studied. To get the data in this study, it is done by in-depth interviews (depth interview) and aided by tracking information from various secondary sources such as books, journals, articles, websites, news and social media. Findings from this study indicate that the artist in Yogyakarta, especially the FMI artist is elements of society that has long been active in non-conventional political participation in the city of Yogyakarta. Conventional political participation of FMI artists is done through voice support and political campaign to Joko Widodo and Jusuf Kalla. This is a form of political volunteerism performed by artists FMI. Then, the study also finds that the political volunteerism among the artists of the FMI arise due to several factors derived from social relations internal and external communities. Wherein the internal side, tradition factors of mutual cooperation and mutual respect for the senior be a strong reason affecting the birth of the political volunteerism. Meanwhile, on the external side is known that personality factors and work program that brought by the candidate to attract the passage of political participation based on the values of volunteerism. Thus, in general it can be said that the internal social capital in the community in the form of a tradition of mutual cooperation and respect with seniors, if facing on the image of good candidate through achievement personality and work program will lead to a political participation based on the values of political volunteerism.
Kata Kunci : Partisipasi Politik, Volunterisme Politik