UTILIZATION OF INFRASTRUCTURE FOR COASTAL TOURISM DEVELOPMENT CASE : PULANGSAWAL AND POKTUNGGAL BEACH
JAN PRABOWO HARMANTO, Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA
2017 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganThe objective of the study is to identify the provision and utilization of coastal tourism in Pulangsawal and Poktunggal beach, to compare performance of coastal tourism in both of study location and to examine determinant factor of coastal tourism performance, to identify the impacts of coastal tourism and the addaptation of community regarding the impacts. This study uses a mixed method descriptive analysis technique between qualitative and quantitative analysis. The results of this study indicated that, firstly, the provision and utilization of coastal tourism in Pulangsawal initiated by private agent, while in Poktunggal initiated by community group (Pokdarwis). Secondly, the performance of coastal tourism in Pulangsawal better than Poktunggal. The determinant factors that influence the performances are the network of promotion and marketing, and capacity in developing tourism attractions and complementary products and the provision of travel services that satisfy travelers. Thirdly, The positive impacts of coastal tourism in economic sector are increasing potential income for local communities, increasing the price of land and increasing village revenue. In social sector, the impacts are decline of unemployment, the decline in the number of outbound migration and decline in the number of school dropouts. In environmental sector, increasing local public awareness about tourism cleanliness. The negative impacts of coastal tourism are land ownership changes (economic impact), change of society value, land conflicts in sultan ground (social impact), congestion, sea waste pollution, problem of garbage (environmental impact). Regarding economic impacts some people succesfully adapt and catch the opportunity by opening some business, but some others are not able to adapt preferring to sell their land assets rather than develop some business. To adapt with social impacts, regarding the changing value, community groups change the day of communal events to the weekday. While regarding the land conflict community try to form network coalition between groups and others beach. Then, to adapt with environmental impacts in case of solidwaste problem, people doing traditional dumping in vacant land which is unsustainable, while in case of wastewater people not able to adapt yet due to lack of awareness.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penyediaan dan pendayagunaan pariwisata pantai Pulangsawal dan Poktunggal, untuk membandingkan kinerja dari pariwisata pantai di kedua lokasi penelitian dan untuk mencari faktor determinan yang mempengaruhi kinerja pariwisata pantai, untuk mengidentifikasi dampak dari pariwisata pantai dan adaptasi dari komunitas terhadap dampak. Studi ini menggunaka suatu pendekatan metode teknik analisis deskriptif gabungan antara analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa, pertama, penyediaan dan pendayagunaan pariwisata di Pantai Pulangsawal diinisiasi oleh agen swasta, sementara di Pantai Poktunggal diinisiasi oleh Pokdarwis. Kedua, Kinerja pariwisata di Pantai Pulangsawal lebih baik dari Poktunggal. Faktor - faktor determinan yang mempengaruhi kinerja pariwisata pantai adalah jejaring promosi dan pemasaran, dan kapasitas dalam pengembangan atraksi wisata dan produk pelengkap dan penyediaan pelayaan wisata yang meningkatkan kepuasan wisatawan. Ketiga, dampak positif dari pariwisata pantai dalam sektor ekonomi adalah peningkatan potensi pendapatan masyarakat sekitar, peningkatan harga tanah dan peningkatan pendapatan Desa Tepus. Pada sektor sosial, dampak positifnya adalah penurunan pengangguran, penurunan jumlah penduduk yang keluar Desa Tepus dan penurunan jumlah siswa putus sekolah. Pada sektor lingkungan, terjadi peningkatan kesadaran masyarakat tentang kebersihan obek wisata. Dampak negatif dari pariwisata pantai adalah perubahan kepemilikan lahan, perubahan nilai � nilai sosial, konflik lahan Sultan Gorund (dampak sosial), kemacetan, polusi air laut, masalah sampah (dampak lingkungan). Terkait dampak ekonomi, beberapa orang sukses beradaptasi dan menangkap peluang dengan membuka usaha, namun sebagian lainnya tidak dapat beradaptasi dan lebih memilih untuk menjual aset tanah mereka daripada mengembangkannya untuk usaha. Untuk beradaptasi dengan dampak sosial, terkait perubahan nilai, kelompok komunitas merubah kegiatan bersama pada hari kerja. Sementara terkait konflik lahan, komunitas membentuk jejaring koalisi bersama kelompok pengelola pantai lainnya. Kemudian, untuk beradaptasi pada dampak lingkungan pada kasus masalah limbah sampah, komunitas melakukan penimbunan sampah secara tradisional (yang tidak berkelanjutan) pada lahan kosong yang disewa, sementara pada kasus limbah cair komunitas belum dapat beradaptasi karena kurangnya kesadaran.
Kata Kunci : coastal tourism, utilization of infrastructure, capacity, networking