MELAWAN HEGEMONI KELAS ELIT TERHADAP BURUH GENDONG PEREMPUAN DI YOGYAKARTA
SUYULATUDZ DZIHAN, Dr. Bevaola Kusumasari, S.I.P.,M.Si.
2017 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Persoalan buruh masih menjadi agenda besar, meskipun demikian, ada sebuah ironi yang muncul ketika nasib buruh terabaikan. Sebagian besar orang masih tidak menyadari bahwasannya di dalam struktur buruh itu terdapat sebuah stratifikasi sosial yang telah menempatkan buruh perempuan pada lapisan paling bawah yang berdampak kepada berbagai bentuk ketidakadilan, penindasan dan pengabaian terhadap mereka. Penelitian ini mendeskripsikan gerakan perlawanan buruh gendong perempuan di Yogyakarta terhadap dominasi dan hegemoni yang dilakukan oleh kelas-kelas elit (juragan, pedagang, pembeli, dan kuli angkut laki-laki) dalam struktur sosial di lingkungan pasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan analisis data yang merujuk pada konsep analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya struktur sosial di lingkungan pasar yang menempatkan buruh gendong perempuan di Yogyakarta dalam kelas sosial terbawah telah menjadi alat yang paling efektif dalam mengejar dominasi dan hegemoni kelas elit. Akibatnya, pasar tidak memberikan ruang bagi buruh gendong perempuan untuk berpartisipasi dalam proses produksi. Buruh gendong perempuan tidak bisa memainkan peran dalam perubahan sosial karena posisinya yang hanya dianggap sebagai kelas rendahan menyebabkan kesenjangan antara kelas sosial semakin timpang. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya aktivis-aktivis buruh gendong perempuan untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi melalui media alternatif yaitu Paguyuban Buruh Gendong Perempuan DIY pada tahun 2015. Eksistensi dari paguyuban ini tidak dapat dipisahkan dari gerakan perlawanan buruh gendong perempuan itu sendiri.
Labor is still a major issue, however, there is an irony that appears when the fate of workers ignored. Most people still do not realize that in the labor structure there is a social stratification that has placed women workers at the bottom layer which has an impact on various forms of injustice, oppression and neglect towards them. This study describes the women carrier labor resistance movement in Yogyakarta towards the dominance and hegemony done by other classes that are dominant (Juragan, Traders, Buyers, and Male Porters) in the social structure of the market environment. This study uses a qualitative method with phenomenological approach and data analysis refering to the concept of qualitative data analysis. The results showed that the social structure in a market environment that puts the women carrier workers in Yogyakarta in the lowest social class becoming the most effective tool in pursuing the domination and hegemony of the dominant actors. As a result, the market does not provide space for women carrier workers to participate in the production process. Women carrier workers can not play a role in the social change because their position can only be regarded as a second class causing the increasingly unequel gap between the social classes. These conditions can then encourage the emergence of the women carrier labor activists to reduce disparities through alternative media,called the Society of Women Carrier Labor DIY 2015. The existence of this community can not be separated from the women carrier labor resistance movement itself.
Kata Kunci : hegemoni, aktivis buruh perempuan, media alternatif, paguyuban buruh gendong perempuan