ANALISIS RISIKO GENANGAN BANJIR KOTA DAN PERSEPSI MASYARAKAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN BEHAVIORAL GEOGRAPHY DI KECAMATAN BLIMBING, KOTA MALANG
AIZAH FAJRIANA D.H, Dr. M. Pramono Hadi, M.Sc.;Dr. Suprapto Dibyosaputro, M.Sc.
2017 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganKecamatan Blimbing merupakan salah satu kecamatan di Kota Malang yang memiliki luas 17,76 km2 dan didominasi oleh topografi landai sampai datar dengan 56 % dari total luas wilayah. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya genangan akibat karateristik topografinya walaupun Kecamatan Blimbing terletak pada ketinggian >400 mdpl. Kondisi wilayah penelitian merupakan daerah perkotaan dengan persentase tertinggi merupakan daerah terbangun dan kehidupan perekonomian terletak pada industri dan jasa. Terkait kejadian genangan banjir yang terjadi di Kecamatan Blimbing dapat mengakibatkan terancamnya asset pada wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi persebaran dan menganalisis (1) bahaya genangan banjir (2) tingkat kerentanan terhadap genangan banjir (3) tingkat risiko genangan banjir (4) menganalisis persepsi masyarakat menggunakan pendekatan behavioral geography. Penelitian ini dianalisis menggabungkan antara konsep keruangan pada fenomena banjir kota dan sebuah penelitian perilaku melalui persepsi untuk menjawab secara holistik. Teknik pengambilan sampel adalah Random Sampling dan purposive sampling, sehingga didapat 31 responden untuk kedalaman genangan dan 9 responden persepsi masyarakat. Metode analisis data menggunakan formula nilai asli, skoring, dan bobot dengan ArcGis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran dan karakteristik bahaya banjir terjadi pada topografi landai (2-6%) dan datar (0-2%), intensitas hujan tinggi, kondisi drainase yang tidak dapat menampung debit hujan, pada penggunaan lahan berupa lahan terbangun, dan memiliki durasi <3 jam. Persebaran spasial kerentanan terhadap banjir tertinggi terjadi pada kepadatan penduduk tinggi, dan kepadatan bangunan dengan nilai BCR 100% berupa permukiman dan daerah industri. Perkembangan risiko tinggi tersebar pada penggunaan lahan terbangun yaitu pada daerah bahaya tinggi dan kerentanan terhadap genangan banjir tinggi. Persepsi penduduk menunjukkan tingkah laku yang berbeda pada setiap kelas risiko dan memiliki permasalahan lingkungan seperti sampah dan drainase sebagai bentuk human interaction dengan lingkungannya. Terdapat responden yang belum memiliki kesadaran terhadap lingkungannya karena merasa lingkungannya aman dari bahaya genangan banjir. Dalam hal ini peran pemerintah dan semua pihak sangat dibutuhkan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
Blimbing Subdistrict is one of the subdistricts in Malang City that it has area about 17,76 km2 and dominated by slope slightly with 56% from wide total of area. It is potential to occur inundation flood causing topographical characteristic despite of Blimbing Subdistrict located at altitude >400 meter from sea surface. Research area circumstance is urban area with high percentage of build area and economical condition focused on industry and service activities. Based on the flood inundation that occurred in the Blimbing Subdistrict can lead to endangerment of assets in the region. The aims of research is to identify and analyze the distribution of (1) flood inundation hazard (2) vulnerability level to flood inundation (3) flood inundation risk and (4) human perception analysis using behavioral geography approach. This study analyzed the spatial concept combines the phenomenon of urban flooding and a study of behavior through perception to respond holistically. The sampling technique is stratified random sampling and purposive sampling, in order to get the 31 respondents to the depth of inundation and 9 respondents to human perceptions. Methods of data analysis using an original value formula for each variable, scoring and weighting with ArcGIS. Results of the research show that the distribution and characteristic of flood hazard occur at slightly slope (2-6%), and flat (0-2%), high rainfall intensity, drainage condition which cannot accommodate rainfall debit, built up are of land use, and it has <3 hours duration. The highest spatial distribution of vulnerability to the flood consist of high population density, and high building density with the value of BCR 100% such as settlement, and industrial area. High risk development distributes at built up area of land use that is high hazard area and high vulnerability. Human perception shows that different behavior for each risk level and it has environmental problems such as rubbish and drainage as human interaction form with their environment. There are respondents who do not have an awareness of the environment because the environment feels safe from harm flood inundation. In this case the role of government and all parties is needed to achieve sustainable development.
Kata Kunci : Bahaya Genangan Banjir, Kerentanan, Risiko Genangan Banjir, Pendekatan Behavioral Geography, Persepsi, Penggunaan Lahan