DINAMIKA KEMITRAAN SISTEM PHBM KPH BLORA JAWA TENGAH
HENDRA SAMSURI, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si
2017 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANIntegrasi antara berbagai pihak terkait dalam mengentaskan kemiskinan sebagai bentuk tindakan CSR perusahaan, merupakan perubahan perspektif dari pendekatan shareholder menuju pendekatan stakeholder. Perubahan perspektif tersebut menunjukan bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi terhadap peningkatan profitabilitas semata, melainkan harus memperhatikan stakeholder terkait. Representasi dari hubungan tersebut yaitu dengan melakukan kemitraan. Kemitraan yang dilakukan oleh Perum Perhutani sebagai salah satu perusahaan BUMN yaitu dengan melakukan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Namun realita berkata sebaliknya, pelaksanaan PHBM masih menyisakan berbagai macam permasalahan, seperti kurangnya partisipasi masyarakat, pelaksanaan yang sentralistik, dan ketidakpahaman masyarakat terhadap PHBM. Berdasarkan pada pemaparan tersebut, menjadi menarik untuk mengetahui bagaimana dinamika yang terjadi dalam kemitraan sistem PHBM KPH Blora Jawa Tengah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahapan dan proses pelaksanaan PHBM, mengetahui relasi antar stakeholder, dan mengetahui bagaimana dinamika yang terjadi dalam impementasi PHBM. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Penentuan informan dengan menggunakan purposive sampling. Unit analisis dalam penelitian ini yaitu kemitraan sistem PHBM yang dilakukan oleh KPH Blora. Berdasarkan pada hasil penelitian, menunjukan bahwa tahapan dalam pelaksanaan kemitraan sistem PHBM di KPH Blora yaitu diawali dengan sosialisasi, pembentukan kerjasama, perencanaan program, implementasi program, serta monitoring dan evaluasi. Hasil temuan dilapangan menunjukan masih adanya permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kemitraan sistem PHBM, meliputi: adanya dominasi dalam kemitraan, kurang terlibatnya stakeholder, disorientasi kemitraan oleh masyarakat, tidak adanya transparansi hasil monitoring dan evaluasi, serta terjadinya stagnasi inovasi usaha produkif LMDH. Kemitraan sistem PHBM harusnya didorong tidak hanya pada skema kemitraan multipihak, namun lebih pada kemitraan cross sector. Skema tersebut menunjukan adanya peleburan antar aktor dalam kemitraan sistem PHBM, sebagai salah satu instrumen guna mereduksi dominasi dalam kemitraan. Selain itu perlu adanya reorientasi bersama terkait dengan visi dan misi kemitraan, guna mengakomodir kepentingan setiap pihak yang terlibat. Permasalahan terkait dengan stagnasi inovasi perlu dilakukan kajian multidisiplin ilmu antara kehutanan, pertanian, dan pembangunan masyarakat, guna menstimuli inovasi usaha produktif LMDH.
Integration between stakehoders on poverty alleviation as an act by CSR company, shows perspective changes from shareholders approach to stakeholders approach. The perspective changes shows that companies are not only oriented towards increased profitability, but must pay attention to the relevant stakeholders. Representation from this relationship by working on a partnership. Pertnership has been done by Perum Perhutani such as one of BUMN with Community Based Forest Management (CBFM). But, the reality says the other way, the implementation of CBFM still have a problem remains, such as lack of community participations, centralized implementations, and community incomprehensions about CBFM. Based on the exposure, be interesting to know how the dynamics on partnership with CBFM system KPH Blora, Central Java. There for, this research is meant to understand how the step and the process of CBFM implementations, to understand the relationship between stakeholders, and to understand the dynamics on CBFM Implementations. This research used qualitative method with case study approach. Depth interviews and observations used to collect Datas. Informan defined by puposive sampling. Analysis units on this research is the partnership with CBFM system that was done by KPH Blora. Based on the results of this research, it is shown that the stages in implementation of partnership with CBFM system in KPH Blora begin with socialisation, partnership building, programs planning, programs implementation, monitoring, and evaluating. The scope results indicate that there are still problems on partnership with CBFM system, including, domination in partnership, lack of stakeholder engagements, community partnership disorientation, lack of transparancy on monitoring and evaluating results, as well as stagnation on LMDH productive entrepreneurship inovations. Partnership with CBFM System must be urging not only by multysector partnership scheme, but more into cross sector partnership. This scheme indicate the merger between sectors in partnership with CBFM system, as one of instrument to reduce the domination in partnership. Other than that reorientation on vision and mission of partnership is needed in order to accomodate all sectors interest. The problem related to stagnation on LMDH productive entrepreneurship inovations must be studied in multi-disciplinary knowledge between forestry, agriculture and social development to stimulate LMDH productive entrepreneurship inovations.
Kata Kunci : CSR, Kemitraan, PHBM