KEPEMIMPINAN MENURUT ADAT MINANGKABAU DALAM PERSPEKTIF ETIKA ALASDAIR MACINTYRE
ROMI ANDRIANTO I, Dr. Misnal Munir
2017 | Tesis | S2 Ilmu FilsafatTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemimpin menurut adat Minangkabau dan menganalisis pemimpin menurut adat Minangkabau dalam perspektif etika MacIntyre. Masalah kepemimpinan bersumber dari kodrat dasar manusia. karena manusia merupakan makhluk individu dan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kecenderungan untuk hidup berkelompok. Keutamaan karakter merupakan hal yang sangat penting sebagai pemimpin. Sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia mencatat bahwa banyak pemimpin Indonesia yang berasal dari Minangkabau dan ini tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang ada pada masyarakat tempat para pemimpin tersebut dilahirkan dan dibesarkan. MacIntyre meyakini bahwa seseorang mewarisi tradisi sebagai sesuatu yang diberikan pada hidup seseorang, sekaligus titik awal moral seseorang. Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif kepustakaan yang berjalan berdasarkan tahap demi tahap. Tahap pertama adalah inventaris data yang berhubungan dengan objek formal dan objek material penelitian. Tahap kedua adalah pengklasifikasian data yang telah diperoleh berdasarkan bab dan sub-sub bab yang telah disusun. Tahap ketiga adalah menganalisis data sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Tahap keempat adalah memaparkan hasil analisis secara sistematis dan teratur. Data dalam penelitian akan dianalisis menggunakan metode hermeneutika filsafati dengan unsur-unsur sebagai berikut: deskripsi, bahasa inklusif, induksi dan deduksi, koherensi intern, kesinambungan historis, dan heuristika. Heuristika digunakan untuk menemukan suatu pemahaman baru tentang adat Minangkabau dalam perspektif etika MacIntyre. Hasil dari penelitian ini adalah ajaran kepemimpinan yang terkandung di adat Minangkabau terus menjaga hubungan dengan sejarah Minangkabau dan melakukan rasionalitas terus menerus agar dapat menjawab tantangan zaman dan ini sesuai dengan pandangan etika MacIntyre. Perbuatan bernilai yang memiliki nilai internal lebih diutamakan sebagai pemimpin di adat Minangkabau dan dibuktikan dengan adanya berbagai jenis keutamaan, termasuk keadilan, kejujuran, dan keberanian yang menjadi keutamaan penting dalam pandangan etika MacIntyre. Seseorang untuk menjadi pemimpin berdasarkan adat Minangkabau sudah diamati melalui urutan narasi dari kehidupan pemimpin tersebut untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Pemimpin menurut Adat Minangkabau tidak hanya sebagai pembawa tradisi seperti dilihat dalam perspektif etika MacIntyre, tetapi juga sebagai penjaga tradisi. Prinsip jalan tengah yang digunakan oleh MacIntyre mengatasi suatu perbedaan pandangan ternyata juga sudah ada dalam adat Minangkabau, yaitu dikenal dengan istilah musyawarah untuk mufakat.
The purpose of this study was to describe the leader as the custom of Minangkabau and analyzed according to traditional Minangkabau leader in ethical perspective MacIntyre. The problem of leadership comes from basic human nature.because man is an individual and social beings. Social human beings have a tendency to live in groups. The virtue of character is very important as a leader. History of Indonesian nationalist movement notes that many Indonesian leaders who came from Minangkabau and cannot be separated from the traditions that exist in the communities in which the leaders are born and raised. MacIntyre believes that a person inherits the tradition as something given to a person's life, aswell as a starting point a moral person. This study is a qualitative research literature that goes by stage by stage. The first stage is the inventory data relating to the object of the formal and material objects of research. The second stage is the classification of data which have been obtained by the chapters and sub-chapters that have been prepared. The third stage is to analyze the data in accordance with the formulation of the problem and research objectives. The fourth stage is to outline the results of the analysis in a systematic and orderly. The research data will be analyzed using the methods of philosophical hermeneutics with the following elements: description, inclusive language, induction and deduction, internal coherence, historical continuity, and heuristics. Heuristics are used to find a new understanding of the tradition Minangkabau in the perspective of ethics MacIntyre. The results of this study are leadership doctrine contained in the traditional Minangkabau kept in touch with the history of the Minangkabau and perform rationality continuously in order to answer the challenges of the times and is in accordance with the ethical perspective MacIntyre. Practice is worth its own internal values are preferred as a leader in the traditional Minangkabau and evidenced by the various types of virtues, including justice, honesty, and courage that became important in view of the primacy of ethics MacIntyre. Someone to be a leader by Minangkabau tradition has been observed by the order of the narrative of the life of the leader to get a quality leader. Leaders in Minangkabau tradition not only as a carrier of the tradition as seen in the perspective of ethics MacIntyre, but also as the guardian of tradition. Principle middle path used by MacIntyre resolve differences of opinion were also already present in the tradition Minangkabau, which is known as deliberation.
Kata Kunci : history, rationality, practice, narrative, tradition