PERKEMBANGAN KOTA KOTAMOBAGU SETELAH PEMEKARAN WILAYAH TAHUN 2000 - 2013
RASIDA HATAM, Prof. Dr. H. Hadi Sabari Yunus, MA, DRS; Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc; Dr. Sri Rum Giyarsih, M.Si
2017 | Disertasi | S3 Ilmu GeografiPenelitian ini dilaksanakan di Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara dan bertujuan mengkaji: (1) perkembangan Kota Kotamobagu tahun 2000-2013 secara keruangan yang ditekankan pada perubahan bentuk pemanfaatan lahan, perkembangan sosial dan kultur masyarakat; (2) hubungan antara infrastruktur jaringan jalan dan pemekaran Kota Kotamobagu; (3) peranan determinan perkembangan fisik kota oleh Lee dan menemukan determinan khas lokal. Penelitian ini difokuskan di 4 kecamatan yaitu kecamatan Kota Utara; Kota Barat; Kota Timur; dan Kota Selatan terdiri dari 33 desa/kelurahan. Analisis perubahan bentuk pemanfaatan lahan dilakukan dengan “overlay†peta penggunaan lahan tahun 2000 dan peta penggunaan lahan tahun 2013. Untuk kajian perkembangan sosial dan kultur masyarakat dilakukan di 5 desa sampel secara random sebanyak 173 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan (1) analisis citra satelit quickbird dan peta RBI; (2) observasi, dan kuesioner untuk merekam data lapangan dan responden; (3) dokumentasi data sekunder dari berbagai sumber; (4) Pendekatan keruangan digunakan dalam penelitian ini melalui analisis kuantitaif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: 1) perkembangan Kota Kotamobagu mengarah ke bagian selatan, perubahan bentuk pemanfaatan lahan berbedabeda polanya secara spasial. Perubahan bentuk pemanfaatan lahan yang dominan adalah meningkatnnya luas lahan permukiman dan menurunnya luas lahan pertanian. Perubahan luas bentuk pemanfaatan lahan tertinggi di Desa Moyag tahun 2000 luasnya 3,02%, tahun 2013 meningkat menjadi 71,28%, penurunan luas lahan pertanian khususnya sawah terbesar di kelurahan Genggulang tahun 2000 luasnya 99,65%, di tahun 2013 menjadi 0,34%. Perkembangan sosial masyarakat dalam hal kegiatan bapak-bapak; ibu-ibu dan gotong royong mengalami peningkatan intensitas pelaksanaannya. 2) Pemekaran wilayah punya pengaruh signifikan terhadap jaringan jalan, hal ini terbukti dari adanya peningkatan jaringan jalan dan kepadatan jaringan jalan setelah pemekaran. Kepadatan lalulintas meningkat di beberapa ruas jalan utama dengan adanya pemekaran. Di sisi lain pemekaran wilayah belum berpengaruh secara nyata terhadap kualitas jalan, hal ini terlihat di beberapa ruas jalan utama kondisi jalan rusak berat. 3) determinan perkembangan kota yang dikemukakan Lee tidak semua berlaku di kota kecil. Penentu utama adalah pelayanan umum dalam hal ini fasilitas ekonomi yaitu pasar, pendidikan, kesehatan, kemudahan akses, inisiatip pengembang. Determinan khas lokal adalah keberadaan industri rumah tangga, tempat rekreasi, migrasi, dan budaya lokal.
This research was conducted in Kotamobagu city of North Sulawesi Province, and aimed at studying: (1) the development of City Kotamobagu from 2000 to 2013 which spatially emphasizes on the change in forms of land use, social development and culture of the society; (2) the correlation between road network infrastructure and spatial extension of Kotamobagu City; (3) the role of determinants of urban physical development as in the theory of Lee in 1979 and to find the typical local determinants. This research focused on four (4) subdistricts, namely Kota Utara subdistrict; Kota Barat subdistrict; Kota Timur subdistrict; and Kota Selatan subdistrict consisting of 33 villages. The change in land uses was analyzed using "superimprosing techniqe"of the 2000 land use map and the 2013land use map. The were 173 respondents (samples) were randomly taken in 5 villages in order to study the social and cultural development of the society. Data were collected using (1) the analysis of QuickBird satellite imagery of and RBI map; (2) observation, and questionnaires to record field data and respondent; and (3) documentation of secondary data from various sources; (4) spatial approach used in this study through quantitative analysis and qualitative descriptive. The research results showed that: 1) the development of Kotamobagu City is tending towards the south and the change in land use forms has different spatial pattern. The dominant change in the form of land use is the increase in settlement areas and the decrease in agricultural land area. The highest change in land use form is in Moyag Induk village by 3.02% in 2000 rising to 71.28% in 2013. However, the highest decrease in agricultural land, especially rice field, is in Genggulang village by 99.65% in 2000 decreasing to 0.34% in 2013. In regard to the social development, the intensity of activities of fathers, mothers and mutual cooperation has increased. 2) The spatial extension of the region has a significant effect on the road network infrastructure, evident from the increase in road network and the density of road network after the extension. Traffic density increases in several main roads as the result of the extension. On the other hand, the spatial extension of region does not significantly affect the quality of the road, that some of the main roads were severely damaged. 3) Not all determinants of urban development as proposed by Lee (1997) apply in a small city. The main determinant is public service, in this case is economic facilities, namely market, educational facilities, health, land characteristics, accessibility, number of public vehicles, developer’s initiative. The typical local determinants are home industry, recreation areas, migration, and local culture.
Kata Kunci : Perubahan bentuk pemanfaatan lahan, pemekaran wilayah, determinan perkembangan kota