Ekonomi Politik Kebijakan Perburuhan: Status Kerja dan Dampaknya Terahad Serikat Buruh di Makassar
SUNARDI, Prof. Dr Agus Pramusinto, MDA
2017 | Tesis | S2 Administrasi PublikPenelitian ini menganalisis dampak status kerja terhadap serikat buruh. Menggunakan metodologi kualitatif. Penelitian berlangsung di Makassar dengan fokus penelitian pada FSPBI (Federasi Serikat Perjuangan Buruh Indonesia) dan SPN (Serikat Perjuangan Nasiona). Hasil penelitian menunjukan bahwa praktek status kerja (system kontrak & outsourcing) digunakan oleh perusahaan untuk mengebiri serikat buruh. Kebiri serikat buruh dilakukan dengan cara memanfaatkan system kontrak & outsourcing untuk melakukan pemutihan status buruh, menggunakan fleksibilitas kerja (Eksternal & Upah), mengadu domba serikat dan memberhentikan secara sepihak elit serikat buruh. Ada dua dampak dari adanya praktek system kontrak & outsourcing. Pertama pada buruh secara personal mengalami komodifikasi dan kedua pada serikat buruh secara kuantitas mengalami defisit. Sehingga untuk merespon itu, buruh melakukan berbagai upaya perlawanan. Di Makassar perlawanan di lakukan dengan beberapa metode yaitu perjuangan di ruang mediasi, terror SMS, perjuangan dilantai pabrik dan perjuangan dengan cara mendirikan serikat buruh di tempat kerja. Surplus pekerja dan karakter industri menjadi alasan praktek kerja kontrak & outsourcing di Makassar semakin tumbuh subur.
This study analyzes the impact of employment status against the union. Using qualitative methodology. The study took place in Makassar with a focus on FSPBI (Federasi Serikat Perjuangan Buruh Indonesia) and SPN (Serikat Perjuangan Nasional). The results showed that the practice of employment status (contract system and outsourcing) is used by companies to emasculate the unions. Gelding trade union is done by utilizing contract system and outsourcing to bleaching status of workers, using the flexibility of working (External & Wages), pitting unions and unilaterally dismiss trade union elite. There are two effects of the practice of contract system and outsourcing. First the workers personally experienced both the commodification and trade unions in quantity deficit. So as to respond to it, workers perform a variety of resistance efforts. In Makassar resistance is done with some methods of struggle in the room mediation, terror SMS, factory floor fight and struggle with how to set up trade unions in the workplace. Surplus labor and industrial character is the reason the practice of contract labor and outsourcing in Makassar flourished.
Kata Kunci : System kontrak & Outsourcing, Serikat Buruh, Komodifikasi Buruh, New Social Movement Buruh.