Laporkan Masalah

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NIAT WHISTLEBLOWER DALAM MELAPORKAN KECURANGAN: ORIENTASI RELIGIUSITAS, KESERIUSAN PELANGGARAN, DAN STATUS PELANGGAR

Annisa Hakim Z., Prof. Dr. R.A. Supriyono, S.U.

2017 | Tesis | S2 Sains Akuntansi

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh orientasi religiusitas, keseriusan pelanggaran, dan status pelanggar terhadap niat individu melaporkan kecurangan dengan menggunakan empat jalur pelaporan, yaitu dengan identitas, tanpa identitas, internal, dan eksternal. Individu yang menemukan kecurangan di tempat kerja sering menghadapi dilema, apakah melaporkan kecurangan tersebut atau tidak. Hal ini berhubungan dengan konsekuensi yang mungkin dihadapi individu jika melaporkan kecurangan tersebut kepada pihak berwenang. Konsukuensi yang begitu besar membuat peran whistleblower di institusi pemerintahan termasuk perguruan tinggi masih belum optimal. Orientasi religusitas sebagai faktor individu dan keseriusan pelanggaran dan status pelanggar sebagai faktor situasi dapat memengaruhi pilihan individu untuk melaporkan kecurangan menggunakan salah satu atau semua jenis jalur pelaporan kecurangan. Penelitian ini merupakan penelitian survei pada 204 karyawan kependidikan tingkat pelaksana di Universitas Gadjah Mada yang dianalisis dengan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya orientasi religiusitas intrinsik dan keseriusan pelanggaran yang berpengaruh secara signifikan terhadap niat individu melaporkan kecurangan menggunakan jalur pelaporan internal dan orientasi religiusitas ekstrinsik personal berpengaruh secara signifikan terhadap niat individu melaporkan kecurangan jalur pelaporan internal pada kasus kecurangan bukti transaksi keuangan. Dengan demikian berdasarkan teori prososial mengonfirmasi bahwa pelaporan kecurangan melibatkan motif egoistis dan altruistis.

This study aims to examine the influence of religiosity orientation, the seriousness of wrongdoing, and status of wrongdoer on whistleblowing intention by using four lines of reporting; with identity, without identity, internal and external. Individuals who find fraud at work often face a dilemma, whether to report the fraud or not. It is related to the possible consequences faced by individuals when reporting the fraud to the authorities. The big consequences make the role of whistleblowers in government institutions including universities are still not optimal. Religiosity orientation as the individual factor, seriousness of wrongdoing, and status of wrongdoer as the situational factor can influence individual's choice to report fraudulent by using one of or all types of fraud reporting lines. This study is a survey study throughout 204 employees of education executor at Gadjah Mada University were analyzed by employing multiple regression. The results showed that only the orientation of intrinsic religiosity and seriousness of wrongdoing that significantly affect individual intention to report fraudulent by using internal reporting lines. In addition, the extrinsic religiosity of personal orientation significantly affected individual intentions to report internal fraud in reporting lines toward fraud cases in financial transaction proof. Therefore, by relying on prosocial theory, it is clear that a whistleblowing certainly involves egoistic and altruistic patterns.

Kata Kunci : orientasi religiusitas, keseriusan pelanggaran, status pelanggaran, dan niat pelaporan kecurangan/religiosity orientation, seriousness of wrongdoing, status of wrongdoer, whistleblowing intention.

  1. S2-2017-375550-abstract.pdf  
  2. S2-2017-375550-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-375550-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-375550-title.pdf