SINDROMA RUBELLA KONGENITAL
ANDAR JUAN RIVAI S, Prof. Dr. dr. Abdus Samik Wahab, SpA (K), SpJP (K).; Prof. dr. Djauhar Ismail, SpA(K), MPH, Ph.D.
2017 | Tesis-Spesialis | SP ILMU KESEHATAN ANAKSindroma rubella kongenital adalah sekumpulan defek organ yang terjadi pada bayi terinfeksi rubella di dalam intrauteri. Gambaran klinis sindroma rubella kongenital antara lain gangguan mata (katarak, mikroftalmia, glaukoma, retinopati pigmentosa dan korioretinitis), gangguan pendengaran (ketulian sensorineural), gangguan jantung (duktus arteriosus persisten, stenosis arteri pulmonal, atau defek septum ventrikel) dan kraniofasial (mikrosefali). Pada laporan kasus ini, pasien adalah anak perempuan berumur 4 bulan yang telah didiagnosis sindroma rubella kongenital. Dilakukan pemantauan dan intervensi pada pasien dari pertumbuhan, perkembangan, katarak kongenital, gangguan pendengaran, kelainan jantung dan edukasi kepada orangtua demi mencapai tumbuh kembang yang optimal.
Congenital rubella syndrome is a combination of various organ defects when rubella virus infection started to invade intrauterine fetus. Clinical features of congenital rubella syndromes such as visual problems (cataracts, microphtalmia, glaucoma, retinopathy pigmentosa, and chorioretinitis), hearing problems (sensorineural hearing loss), cardiac problems (persistent ductus of arteriosus, pulmonary stenosis or ventricular septal defect) and craniofacial (microcephaly). We reported a 4 months old girl with congenital rubella syndrome and conducting observations of childs growth and developmental, congenital cataract, congenital heart disease, hearing problems and parental educations for optimal child growth.
Kata Kunci : sindroma rubella kongenital, katarak kongenital, tuli sensorineural, duktus arteriosus persisten, mikrosefali, congenital rubella syndrome, congenital cataract, sensorineural hearing loss, persistent ductus of arteriosus