Laporkan Masalah

Strategi Pengrajin Batik Kayu dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN: Studi Pada Pengrajin Batik Kayu di Desa Wisata Krebet, Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

PURANEOSYA KUSUMA S, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si.

2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

MEA telah cetuskan sejak KTT pertama yang diselenggarakan di Kuala Lumpur tahun 1997, merupakan sebuah kebijakan dirancang dengan tujuan memaksimalkan kapabilitas SDM dalam rangka meningkatkan perekonomian Indonesia. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan cara meleburkan batas-batas perdagangan ekspor-impor barang maupun jasa antar negara anggota ASEAN. Sentra kerajinan saat ini menjadi salah satu aspek yang tengah digalakkan oleh pemerintah dalam upaya perkembangan SME kerajinannya, salah satunya adalah IKM kerajinan di sentra kerajinan batik kayu Desa Wisata Krebet yang berlokasi di Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai isu besar yang sedang berkembang, sampai saat ini masih belum banyak ditemukan rumusan mengenai langkah strategis yang dapat dilakukan SME kerajinan dalam meraih keberdayasaingannya di tengah liberalisasi pasar global. Oleh karena itu dibutuhkan pengamatan dan penelitian lebih lanjut perihal perilaku pelaku IKM kerajinan sesuai dengan dinamika yang selama ini terjadi guna memahami strategi yang tepat untuk diterapkan. Dengan demikian, dirumuskan penelitian �¢ï¿½ï¿½Strategi Pengrajin Batik Kayu dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN: Studi Pada Pengrajin Batik Kayu di Desa Wisata Krebet, Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta�¢ï¿½ï¿½. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menjabarkan realitas perilaku dan tindakan pengrajin dalam menghadapi suatu dinamika usaha, sehingga dapat memberikan penjelasan secara luas dan mendetail atas sebab dan akibat diimplementasikannya suatu strategi. Penyajian hasil penelitian ini diawali oleh asumsi bahwa implementasi sebuah strategi berdasar pada pengetahuan pengrajin mengenai isu MEA yang menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi mereka atas ancaman yang dapat terjadi. Namun hasil penelitian menyatakan bahwa diterapkannya strategi oleh IKM kerajinan di Desa Wisata Krebet didasari dari pengalaman masa lampau yang lambat laun membentuk suatu pola perilaku pengrajin yang dapat digolongkan sebagai strategi bertahan SME kerajinan dalam menghadapi dinamika pasar. Kepedulian pengrajin terhadap isu-isu yang sedang berkembang masih sangat minim, bahkan mendekati nihil. Pengrajin hanya bergantung pada eratnya modal sosial yang dimiliki, sedangkan modal sosial saja tidak cukup dalam menjamin kebertahanan SME kerajinan batik kayu di pasar internasional. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa strategi tidak selalu secara sadar dirancang dengan matang dan seksama, strategi dapat terlahir melalui proses belajar pengrajin. Adanya dinamika sosial ditengah masyarakat juga sangat mempengaruhi pengambilan keputusan bagi pengrajin untuk bertindak. Belum adanya contoh riil atau pengalaman pengrajin mengenai dampak MEA yang dapat mengancam kebertahanan stabilitas perekonomian mereka menjadi faktor utama tidak adanya perencanaan strategi yang disengaja.

MEA has instigated since the first Summit held in Kuala Lumpur in 1997, is a policy designed to maximize the capabilities of human resources in order to improve the economy of Indonesia. These objectives can be achieved by dissolving the boundaries of the import-export trade of goods and services among ASEAN member countries. Craft centers is becoming one of the aspects that was encouraged by the government to the development of SME craft, one of which was SME craft in the center of wooden batik Tourist Village Krebet located in the hamlet Krebet, Sendangsari Village, Sub Displays, Bantul regency, Yogyakarta. As a major emerging issue, so far has not found the formulation of strategic steps that can be done in reaching SME craft its competitiveness amid global market liberalization. Therefore, it needs further observation and research concerning the behavior of the craft in accordance with dynamic SME that has been happening in order to understand the appropriate strategies to be applied. Thus, concluded the study "Strategy Wooden batik Craftsmen in Facing ASEAN Economic Community: A Study on Wood Artisans Batik Tourism Village Krebet, Hamlet Krebet, Sendangsari Village, District Displays, Bantul regency, Yogyakarta". Qualitative research methods were used to describe the reality of the behavior and actions of workers in the face of a dynamic business, so as to provide comprehensive and detailed explanation of the causes and consequences of the implementation of a strategy. Presentation of the results of this study begins by assuming that the implementation of a strategy based on knowledge workers on the issue of MEA that raises its own concerns for the threat that they may occur. But the results of the study stated that the implementation of the strategy by SME craft at the Tourism Village Krebet based on past experience which gradually form a pattern of behavior that can be classified as craftsmen survive SME craft strategy in the face of market dynamics. Concern craftsmen on issues emerging is still very low, even close to nil. Craftsmen only depends on the closeness of social capital, while social capital is not enough to guarantee the survival of SME wooden batik in the international market. The conclusion of this study indicate that the strategy does not always consciously designed with a mature and thoughtful, the strategy can be reborn through the learning process craftsmen. The existence of social dynamics in the society influences the decision for workers to act. The absence of real or experience on the impact MEA craftsmen who could threaten the stability of the economic viability of their major factor is the existence of a deliberate strategy.

Kata Kunci : Kata Kunci: MEA, industri kerajinan, strategy.