Hubungan Tahapan Resusitasi dengan Gangguan Hematologi pada Bayi Baru Lahir
RADEN RARA PUTRI ZATALINI SABILA, dr. Setya Wandita,M.Kes,Sp.A(K); dr. Sumadiono, Sp.A(K)
2016 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERAsfiksia neonatorum menyebabkan gangguan pada berbagai macam organ salah satunya adalah gangguan hematologi seperti Koagulasi Intravaskular Disseminata, trombositopenia dan perdarahan. Asfiksia neonatorum adalah penyebab kematian dari 25% neonateus, 70% neonatus yang asfiksia mengalami trombositopenia. Pada neonatus dengan trombositopenia, 22% mengalami perdarahan dan 16 % terkena KID. Resusitasi yang efektif saat kelahiran dapat mencegah kematian karena asfiksia. Semakin berat derajat asfiksia maka semakin banyak tindakan resusitasi yang diperlukan. Peneliti ingin melihat bagaimana hubungan tahapan resusitasi yang mencerminkan derajat asfiksia tersebut dengan gangguan hematologi
Neonatal asphyxia caused various organ disorder, one of them is hematological disorder like Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), thrombocytopenia and bleeding. Neonatal asphyxia caused 25% neonatal death, 70% of neonatal asphyxia patient experienced thrombocytopenia. 22% of thrombocytopenia patient experienced bleeding and 16 % of thrombocytopenia patient experienced DIC. Effective resuscitation prevent death from neonatal asphyxia. More severe asphyxia caused more resuscitation level. Researcher wants to know the relation of resuscitation level that reflects the severity of asphyxia neonatorum with hematological disorder.
Kata Kunci : Asfiksia Neonatorum; Resusitasi Neonatus; Gangguan Hematologi; KID; Trombositopenia; Perdarahan