INTERRELIGIOUS RELATIONS IN SHAPING PLURALISTIC ATTITUDES FOR DIVERSE RELIGIOUS SOCIETIES (A Study of Contemporary Religious Diversity in Plumbon Village, Yogyakarta)
ABDUL MUJIB, Dr. Suhadi; Dr. Gregory Vanderbilt
2017 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaHubungan antar umat beragama merupakan permasalahan yang tak kunjung terselesaikan di Indonesia. Bahkan pada era reformasi, kasus intoleransi masih berlangsung. Untuk memahami ini, perlu mengetahui apa yang menyebabkan tindakan intoleransi tersebut muncul dan bagaimana masyarakat Indonesia di kalangan bawah (grassroot) mengatur hubunganya dan membangun kehidupan yang harmoni. Penelitian ini fokus pada salah satu desa di Yogyakarta yang agamanya beragam. Melalui wawancara dengan pemimpin kelompok agama, saya menunjukkan bagaimana masyarakat membangun aktif bertoleransi pada konteks peraturan beragama di Indonesia setelah 1965 dan dalam kehidupan keseharian mereka. Desa Plumbon mempunyai dua kegiatan (acara) bersama yang melibatkan masyarakat yang berbeda agama secara aktif; yaitu nyadran sebagai ritual mengingat leluhur dan gelar budaya sebagai festival kebudayaan setempat. Pada kegiatan ini, masyarakat diajak untuk berperan aktif serta menjaga kehidupan yang harmoni bersama-sama. Penelitian ini fokus pada dua permasalahan, yaitu bagaimana menjadi masyarakat yang beragama di desa yang plural, dan bagaimana menjadi warga pada masyarakat yang plural. Oleh karena itu, analisis dalam penelitian ini menggunakan dua teori. Paul Knitter menunjukkan bagaimana teologi memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmoni. Melalui analisis ini, saya menemukan bahwa model masyarakat Plumbon termasuk model penerimaan (acceptance model) yaitu ketika masyarakat berhubungan dengan penganut agama yang lain tidak menggunakan dasar agama, akan tetapi mereka bisa bekerja sama atas nama kegiatan sosial. Sedangkan teori yang kedua, penelitian ini menggunakan teori dari Diana Eck untuk melihat bahwa sikap plural (pluralistic attitude) dibentuk oleh masyarakat Plumbon yang aktif mewujudkan kehidupan yang harmoni sebagai warga.
Interreligious relations remain an unresolved problem in Indonesia. Even after the Reformation Era, intolerance cases are still continuing. To understand this problem, it is important to know what causes the intolerance emerge and on how ordinary Indonesians at the grassroots manage relations and seek to live in harmony. This research focusses on one village in Yogyakarta that is known for its religious diversity. Through interviews with community leaders, I show how they seek to build active tolerance in the context of the regulation of religion in Indonesia since 1965 and of everyday interactions. The village Plumbon holds two shared events which actively involve people with different backgrounds: nyadran is a ritual for remembering ancestors and gelar budaya is a cultural festival. In these events, people are engaged to have a role and maintain religious harmony together. This research focusses on two issues: how to be religious people in a plural village and how to be a citizen in a plural society. Therefore, the analysis in this research uses two theories. Paul Knitter has shown how theology has an important role in establishing the harmonious life. Through this analysis, I found that Plumbon people follow an acceptance model, in which people interrelate with other religious people not only using religion as common ground, but also they integrate over social as integrity. Second, this research uses theory from Diana Eck to analyze that pluralistic attitude is shaped from Plumbon people who actively embody the harmonious living as citizens.
Kata Kunci : Plumbon people, interreligious relation, diversity, pluralistic attitude, active tolerance