Laporkan Masalah

SIKAP MANUSIA ATAS BENCANA ALAM DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIKA MARTIN HEIDEGGER DAN RELEVANSINYA DALAM PENANGANAN BENCANA ALAM DI INDONESIA

IDAMAN, Dr. Rizal Mustansyir; Dr. P. Hardono Hadi

2017 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat

Penelitian ini berjudul "Sikap Manusia atas Bencana Alam dalam Perspektif Hermeneutika Martin Heidegger dan Relevansinya dalam Penanganan Bencana Alam di Indonesia". Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta, bahwa bencana alam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam ini telah banyak menelan korban manusia dan harta benda. Meskipun telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi resiko dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam, tetapi upaya-upaya tersebut belum terlihat maksimal dan konprehensif. Analisis mengenai sikap manusia atas bencana alam bertitik tolak dari hermeneutika Martin Heidegger yang bertitik tolak pada ontologische differenz. Penelitian ini bertujuan, pertama, untuk mengetahui makna bencana alam bagi manusia. Kedua, untuk mengetahui sikap manusia atas bencana alam. Ketiga, untuk menganalisis relevansi hermeneutika Martin Heidegger dalam penanganan bencana alam di Indonesia. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (Library Research) dengan memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan primer dan sekunder. Di dalam proses penelitian, langkah yang dilakukan adalah mengidentifikasi dan mengumpulkan sebanyak mungkin data yang berkaitan dengan tema hermeneutika bencana, penentuan kategori data. Data kemudian dianalisis sesuai dengan metode yang telah dipilih, yakni metode hermeneutika dengan unsur-unsur metodis: deskripsi, komparasi, refleksi, dan metode heuristika. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa bencana alam merupakan bagian integral dari kehidupan manusia sehari-hari. Sepanjang waktu, masyarakat Indonesia telah terbiasa berhadap-hadapan dengan bencana alam, dan pada gilirannya memberikan pengalaman dan pengetahuan untuk meminimalisir dampak-dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam sangat beragam. Pastinya, manusia menjadi subjek yang selalu mengalami penderitaan akibat bencana alam. Bertitik tolak dari hal ini, pemerintah telah menyusun kerangka penanggulangan dampak bencana alam dan kemungkinan-kemungkinan mempersiapkan masyarakat tangguh bencana. Meskipun demikian, frekuensi bencana alam yang seringkali terjadi tidak berbanding lurus dengan upaya maksimal penanggulangan bencana yang dilakukan oleh pemerintah. Hermeneutika Martin Heidegger memiliki relevansi di dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari gagasannya mengenai realitas keberadaan di dunia ini. Tiga kata kunci di dalam memandang relevansi penanggulangan bencana alam di Indonesia, yakni, In-der-Welt-sein (Being-in-the-world), Mitsein (being-with-other), dan Sein-zum-Tode (Being-Toward-Death). Ketiga istilah ini merupakan kesadaran diri Dasein di dalam menghadapi realitas dunia sebagai konsekuensi keterlemparan (Geworfenheit) ke dalam dunia.

The title of research is "Human Attitude toward Natural Disaster in the Perspective of Martin Heidegger's Hermeneutics and Its Relevance to the Natural Disaster Management in Indonesia". It was the assumption that Natural disaster have become part of Indonesian society life. The impact caused by this natural disaster has many human casualties and properties. Despite the many efforts made by the government for reducing the risks posed by natural disasters, but these efforts have not been seen up and comprehensible. Analysis of human attitude toward natural disasters started from Martin Heidegger hermeneutics which based on ontologische differenz. The study aims, first, to know the meaning of a natural disaster for humans. Second, to know the human attitude toward natural disaster. Third, to analyze the relevance of Martin Heidegger hermeneutics in natural disaster management in Indonesia. This research is the study of literature by utilizing the resources of primary and secondary literature. In the research process, the steps are to identify and collect as much data as related to the theme of disaster hermeneutics, the determination of categories of data. The data was then analyzed according to hermeneutical methods by using methodical elements, such as description, reflection, and heuristics. The result showed that natural disasters are an integral part of everyday human life. All the time, the Indonesian people have been accustomed confronted with natural disaster, and in turn provide the experience and knowledge to minimize the impacts caused by the natural disaster. The impact caused by natural disasters is very diverse. Surely, man becomes a subject that has always suffered from natural disasters. The Indonesian government has developed the framework for tackling the impact of natural disasters and the possibilities of preparing a disaster resilient community. However, the frequency of natural disasters that frequently occurs is not directly proportional to the maximum disaster management efforts undertaken by the government. Martin Heidegger hermeneutics has relevance in disaster management in Indonesia. It can be seen from his ideas about the reality of existence in this world. Three key words in looking at the relevance of disaster management in Indonesia, namely, In-der-Welt-sein (Being-in-the-world), Mitsein (being-with-other), and Sein-zum-Tode (Being-Toward-Death). The third term is a self-awareness of Dasein in facing the reality of the world as a consequence of the human throwness (Geworfenheit) into the world.

Kata Kunci : Human Attitude, Natural Disaster, Ontologische Differenz, Geworfenheit, Sikap Manusia, Bencana Alam, Ontologische Differenz, Keterlemparan