PERBANDINGAN KEJADIAN MISSING STRING IUD CuT 380A PASCASALIN ANTARA YANG DIPASANG MENGGUNAKAN R_INSERTER DENGAN YANG DIPASANG MENGGUNAKAN KLEM CINCIN (EVALUASI 13-24 BULAN)
SILVY KUSUMA DEWI, dr. Risanto Siswosudarmo, SpOG(K).; dr. Muhammad Lutfi, SpOG(K).
2017 | Tesis-Spesialis | SP Ilmu Kebidanan dan Penyakit KandunganLatar belakang: Salah satu sebab meningkatnya kematian ibu di Indonesia adalah rendahnya angka pemakaian alat kontrasepsi. IUD adalah salah satu alat kontrasepsi yang sangat efektif dan aman, tetapi pemakaiannya masih rendah. Periode pascasalin adalah waktu yang sangat menguntungkan untuk pemasangan IUD pascasalin. Terdapat dua metode pemasangan IUD pascasalin yaitu R_inserter dan klem cincin. Salah satu keluhan yang dirasakan oleh penyedia layanan KB adalah tidak tampaknya benang IUD pada kunjungan ulang. Tidak tampaknya benang dapat disebabkan karena terjadi ekspulsi, perforasi, translokasi, benang patah, terlipat ke dalam kanalis serviks atau masuk ke dalam kavum uteri. Tujuan: Membandingkan kejadian missing string dan malposisi IUD pascasalin yang dipasang dengan R_inserter dan klem cincin. Selain itu juga untuk membandingkan angka ekspulsi kumulatif, kelangsungan IUD, kehamilan dan keluhan haid. Rancangan penelitian: Uji Klinis secara Random (Randomized Clinical Trial). Bahan dan Cara Kerja: Penelitian dilakukan di RS Sardjito Yogyakarta. Kelompok uji adalah mereka yang mendapatkan CuT 380A yang dipasang dengan R_inserter dan kelompok kontrol adalah mereka yang dipasang dengan klem cincin. Follow up dikerjakan pada periode 13-24 bulan pascasalin. Hasil yang diteliti adalah kejadian missing string, malposisi, ekspulsi kumulatif, kelangsungan IUD, kehamilan, dan keluhan haid. Data diolah dengan Chi square test dan risiko relatif untuk membandingkan dua proporsi. Hasil: Sebanyak 178 subyek penelitian terdiri atas 91 subyek dipasang dengan R_inserter dan 87 subyek dengan klem cincin. Angka kejadian missing string pada kelompok R_inserter lebih rendah dibanding kelompok klem cincin yakni 1,2% vs 3,6% (RR 0,33; 95% CI 0,36-3,18). Hanya terdapat satu subyek yang mengalami malposisi dari kelompok klem cincin. Angka ekspulsi kumulatif pada kelompok R_ inserter lebih tinggi dibanding klem cincin 6% vs 4,1% (RR 1,47; 95% CI 0,43-5,05). Angka kelangsungan IUD kelompok R_inserter dan kelompok klem cincin 83% vs 85,7% (RR 0,97; 95% CI 0,861,09)dan tidak ada kejadian kehamilan. Angka keluhan haid pada R_inserter sedikit lebih rendah dibanding klem cincin 2,4% vs 3,6% (RR 0,66%; 95% CI 0,11-3,83). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada angka kejadian missing string, malposisi, ekspulsi kumulatif, kelangsungan dan keluhan haid antara kedua kelompok. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang bermakna angka kejadian missing string, malposisi, ekspulsi kumulatif, kelangsungan dan keluhan haid antara pemakaian IUD CuT 380A pascasalin yang dipasang dengan R_inserter dan klem cincin.
Background: One of the causes of increased maternal mortality in Indonesia is decreased contraceptive prevalence rate. IUD is one of the most effective and safe contraceptive methods which has only low percentage among users. The immediate postpartum period is a particularly favorable time for IUD insertion. There are two methods for IUD CuT 380A postpartum insertion, R_inserter and ring forceps. One of the grievances felt by the family planning service provider is the missing strings on the return visits. IUD missing strings can be caused due to expulsion, perforation, translocations, IUD string broken or retracted into the canal of the cervix or the uterine cavity. Objective: To compare the incidence of missing strings and malposition of IUD CuT 380A inserted by R_inserter compared and ring forceps during postpartum period, and also compare the cumulative expulsion, the continuation of IUD, pregnancy and menstrual complaints. Study design: Randomized Clinical Trial Materials and Methods: The study was conducted in Sardjito Hospital Yogyakarta. The subjects divided into two groups consisting of exposed group (inserted postpartum IUD using R_inserter) and control group (inserted postpartum IUD using ring forceps). Follow-up is done in the period of 13-24 months postpartum. Results of the study is the incidence of missing strings, malposition, cumulative expulsion, the continuation of IUD, pregnancy and menstrual complaints. Data analized by Chi-square test and relative risk for comparing two proportions. Results: A total of 178 study subjects consisting of 91 subjects inserted with R_inserter and 87 subjects with a ring forceps. The incidence of missing strings in R_inserter lower than ring forceps group, 1.2% vs. 3.6% (RR 0.33; 95% CI 0.363.18). There is only one subject IUD malposition from ring forceps group. The incidence of expulsion cumulative in the R_inserter were higher than ring forceps, 6% vs 4.1% (RR 1.47; 95% CI 0.43-5.05). The continuation rate of IUD in R_inserter and ring forceps groups are 83% and 85.7% (RR 0.97; 95% CI 0.86-1.09) and no incidence of pregnancy. Number of menstrual complaints on R_inserter is lower than the ring forcep 2.4% vs. 3.6% (RR 0.66%; 95% CI 0.11-3.83). There was no statistically significant difference in the incidence of missing strings, malposition, expulsion, continuity and menstrual complaints between both groups. Conclusion: There is no difference in the incidence of missing strings, malposition, expulsion, continuity and menstrual complaints between IUD CuT 380A inserted by R-inserter and ring forceps during the postpartum period.
Kata Kunci : IUD pascasalin, R-inserter, klem cincin, missing string, malposisi, postpartum IUD, R_inserter, ring forceps, missing strings, malposition