HUBUNGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN RETINOPATI DIABETIKA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI YOGYAKARTA
DEWI PRITA DHARMASTU, dr. Angela Nurini Agni, Sp.M (K), M.Kes; Prof. dr. Suhardjo, SU, Sp.M (K); Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, AIFM
2017 | Tesis-Spesialis | SP ILMU PENYAKIT MATATujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan derajat keparahan retinopati diabetika (RD) pada pasien Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Metode Penelitian: Penelitian potong lintang berbasis komunitas pada penderita DM tipe 2. RD dinilai dari fotografi fundus dengan pusat papil saraf optik dan makula, kemudian dimasukkan ke dalam kategori RD non-proliferatif (NPDR) ringan, sedang, dan RD yang mengancam penglihatan (Vision-Threatening Diabetic Retinopathy/ VTDR). Mata yang lebih buruk dipakai untuk menentukan derajat keparahan RD. Aktivitas fisik dinilai menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dari WHO. Semua komponen aktivitas fisik, meliputi waktu duduk per hari, jarak berjalan, durasi tidur dan latihan dikonversi berdasarkan rasio aktivitas fisik dan kemudian dikalkulasi untuk memperoleh rerata physical activity level (mean PAL). Hasil mean PAL ini kemudian diklasifikasikan ke dalam gaya hidup sedentary, moderat, dan vigorous. Hasil: Terdapat 1116 partisipan, 43,1% penderita dengan RD dan 26,3% dengan VTDR. Prevalensi RD dalam grup sedentary, moderat, dan vigorous adalah 41,9%, 39,2%, dan 32,7%. Setelah dilakukan penyesuaian dengan usia, jenis kelamin, durasi diabetes, tekanan darah sistolik, dan aktivitas fisik, durasi aktivitas sedentary yang lebih panjang (>3 jam) berhubungan secra signifikan dengan RD (OR 1,35; 95% CI 1,02-1,79; p=0,04) dan VTDR (OR 1,67; 95% CI 1,18-2,37; p<0,01). Tidak ada hubungan signifikan antara durasi tidur, jarak berjalan, dan aktivitas vigorous dengan RD Simpulan: Pada penelitian ini aktivitas sedentary harian yang lebih lama berhubungan dengan RD dan VTDR. Temuan ini memiliki implikasi bahwa kampanye kesehatan masyarakat untuk menurunkan aktivitas sedentary harian pada individu dengan DM tipe 2 dapat memberikan manfaat dalam menurunkan kejadian RD dan VTDR.
Aim: To investigate the association of physical activity level (PAL) and sedentary behaviour with diabetic retinopathy (DR) in type 2 diabetes adults. Methods: A community-based cross-sectional study of adults with type 2 diabetes. DR was assessed from disc- and macula-centered fundus photograph, and categorized into mild, moderate non-proliferative DR (NPDR), and Vision-Threatening DR (VTDR). Worse eye was used to determine the person’s DR severity. Physical activity was assessed using WHO Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). All of physical activity components, including daily sitting time, walking distance, sleeping duration and exercise were converted based on physical activity ratio and then calculated to obtain mean PAL. The mean PAL was then classified into sedentary, moderate, and vigorous lifestyle. Results: There were 1116 participants, 43,1% with any DR and 26,3% VTDR. The prevalence of DR in sedentary, moderate, and vigorous physical activity group was 41,9%, 39,2%, and 32,7% respectively. After adjusting for age, gender, duration of diabetes, systolic blood pressure and physical activity, longer duration of daily sedentary lifestyle (>3 hours) was significantly associated with presence of DR (OR 1,35; 95% CI 1,02-1,79; p=0,04) and VTDR (OR 1,67; 95% CI 1,18-2,37; p<0,01). There was no significant association between sleeping duration, walking distance and vigorous activity and DR. Conclusion: In this study, prolonged daily sedentary activity was associated with DR and VTDR. This finding suggests that public health campaign for reducing daily sedentary activities in individuals with type 2 diabetes may offer benefit to reduce the burden of DR and VTDR.
Kata Kunci : retinopati diabetika, tingkat aktivitas fisik, sedentary, vigorous, GPAQ, diabetic retinopathy, physical activity level