HUBUNGAN TAHAPAN RESUSITASI DENGAN KEJADIAN SEPSIS PADA BAYI BARU LAHIR
QASHMAL MAFAZI S, dr. Setya Wandita, M.Kes, Sp.A(K); dr. Sumadiono, Sp.A(K)
2016 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang : Asfiksia pada bayi baru lahir memiliki angka kejadian yang tinggi di negara berkembang. Di Indonesia kejadian asfiksia berkisar antara 3 - 5 % dari jumlah kelahiran dan diperkirakan terjadi pada 250.000 bayi baru lahir setiap tahunnya. Semakin berat derajat asfikisa, semakin banyak tindakan resusitasi yang dibutuhkan untuk menolong bayi. Penggunaan banyak alat untuk melakukan resusitasi ini meningkatkan kemungkinan infeksi yang dapat berakhiran pada sespsis. Hal ini diperparah dengan gangguan sistem imun yang terjadi pada bayi dengan asfiksia akibat perubahan sitokin dan gangguan hematologi. Peneliti bermaksud untuk melihat bagaimanakah hubungan antara tahapan resusitasi dengan kejadian sepsis pada bayi baru lahir. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tahapan resusitasi dengan kejadian sepsis pada bayi baru lahir. Metode : Desain penelitian adalah kohor prospektif. Pengambilan data dikakukan dengan pengisian form SEARO yang sudah dimodifikasi sebagai data dasar dan dilakukan secara consecutive sampling. Subjek penelitian adalah bayi baru lahir dengan asfiksia yang dilahirkan di RSUP Dr. Sardjito antara bulan Mei hingga Januari 2016. Analisis data dilakukan dengan metode Fischer Exact dan analisis stratifikasi. Hasil : Dari 47 sampel yang terkumpul, 37 diantaranya menerima tahapan resusitasi 1 dan 10 diantarnya menerima tahapan resusitasi 2. Sebanyak 30 bayi mengalami kejadian sepsis dan diatantara yang mengalami kejadian sepsis, 76,7% (23 bayi) menerima tahapan resusitasi 1 dan 23,3% (7 bayi) menerima tahapan resusitasi 2. (p=0,72 IK-95%; 0,69 - 1,81) (p>0,05). Kesimpulan : Secara statistik, tidak terdapat hubungan antara derajat resusitasi dengan kejadian sepsis pada bayi baru lahir. Kata Kunci : Asfiksia Neonatorum, Resusitasi Neontus, Sepsis Neonatorum, Infeksi Nosokomial, Neutropenia.
Background : Asphyxia of the Newborns has a higher prevalence among developing countries. In Indonesia, the prevalence of asphyxia is between 3 - 5 % of all births and approximately happen to 250,000 newborns every year. The higher the degree of asphyxia, the more complex the resuscitation procedure is needed to help the newborns. The administration of complex medical procedure increases the risk of Hospital Acquired Infection and might lead to the occurrence of neonatal sepsis. Asphyxiated newborns are more susceptible to infections due to hypoxic condition which can cause changes in cytokines and hematological disturbances. Researcher is eager to the find the relation between resuscitation level which reflects the severity of asphyxia and the occurrence of neonatal sepsis. Objective : This Research is to find a relation between resuscitation level and the occurrence of neonatal sepsis among newborns with asphyxia. Method : The research design used is Prospective Cohort. All data are obtained by filling the modified SEARO form using consecutive sampling method. All Subjects are newborns with asphyxia in Dr. Sardjito General Hospital during May 2015 until January 2016. Fischer Exact method and Stratification analysis method is used to analyze the data. Result : There are 47 samples which passed the inclusion and exclusion criterias and 37 of them are in resuscitation level 1 and 10 of them are in resuscitation level 2. Thirty patients developed neonatal sepsis and among those who developed sepsis, 76,7 % (23 newborns) of them are in resuscitation level 1 and 23,3% of them are in resuscitation level 2. (p=0,72 CI-95%; 0,69 - 1,81) (p>0,05). Conclusion : Statistically, there is no relation between resuscitation level and the occurrence of neonatal sepsis among newborns with asphyxia. Keywords : Neonatal Asphyxia, Neonatal Resuscitation, Neonatal Sepsis, Hospital Acquired Infection, Neutropenia.
Kata Kunci : Neonatal Asphyxia, Neonatal Resuscitation, Neonatal Sepsis, Hospital Acquired Infection, Neutropenia.