ANTESEDEN dan KONSEKUENSI ORIENTASI PASAR PADA INSTANSI PEMERINTAH KABUPATEN dan KOTA
RETNO YUSTINI W., DRA.,M.SI., Prof. Dr. Basu Swastha Dharmmesta, M.B.A.; Dr. BM Purwanto, MBA.
2017 | Disertasi | S3 ManajemenPenelitian ini bertujuan untuk menguji konsep orientasi pasar pada setting studi instansi pemerintah daerah. Dalam penelitian ini akan diuji model orientasi pasar dari Jaworski dan Kohli (1993) dengan menambahkan variabel persepsi pimpinan terhadap faktor eksternal yang mencakup turbulensi pasar, intensitas bersaing, dan turbulensi teknologi sebagai anteseden orientasi pasar. Studi ini menggunakan pengukuran yang diadopsi dari Jaworski dan Kohli (1993), Cervera et al. (2001), dan Niculescu et al. (2013). Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang diserahkan secara langsung kepada para kepala skpd (satuan kerja perangkat daerah) pada enam pemerintahan daerah kabupaten dan kota di propinsi Jawa Tengah dan diperoleh 137 data yang dapat diproses lebih lanjut (tingkat respon �± 46%). Pemilihan sampel kabupaten dan kota dilakukan dengan teknik purposive convenience sampling. Pengujian model dan hipotesis dilakukan dengan teknik model persamaan struktural (SEM: Structural Equation Model) dengan bantuan software AMOS. Ada tujuh belas variabel yang diuji dalam model , yang terdiri dari sepuluh variabel anteseden, empat variabel dimensi orientasi pasar sebagai variabel pemediasi, dan tiga variabel konsekuensi orientasi pasar. Dari lima puluh dua hipotesis yang diajukan, delapan belas diantaranya didukung secara empirik signifikan meskipun beberapa diantaranya didukung sebagian dan dengan arah hubungan yang berbeda. Dari sepuluh variabel anteseden orientasi pasar, enam diantaranya didukung secara empirik signifikan, yaitu penekanan pimpinan pada orientasi pasar, penghindaran risiko pimpinan, keterhubungan antar bagian, sentralisai, sistem penghargaan berorientasi pasar, dan intensitas bersaing, meskipun didukung sebagian. Penekanan manajemen puncak pada orientasi pasar merupakan anteseden orientasi pasar yang tangguh karena berpengaruh signifikan terhadap semua dimensi orientasi pasar, kecuali pada dimensi implementasi tanggapan. Hubungan yang signifikan ditunjukkan oleh dimensi-dimensi orientasi pasar dengan konsekuensinya yaitu komitmen organisasional, esprit de corps, dan kinerja organisasional. Dari tujuh indikator kelayakan model yang digunakan (Byrne, 2001), hanya satu indikator yang memenuhi kriteria dan dua indikator yang berada dalam kategori moderat. Hal ini mengindikasikan bahwa model orientasi pasar yang diajukan belum fit pada setting studi instansi pemerintah daerah dan dimungkinan untuk dilakukan modifikasi lebih lanjut. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan tidak terpenuhinya indikator kelayakan model dalam penelitian ini antara lain banyaknya parameter yang diuji, ukuran respon yang terlalu kecil, serta rendahnya validitas dan reliabilitas variabel. Kata kunci: orientasi pasar, anteseden orientasi pasar, konsekuensi orientasi pasar, pengembangan intelijen pasar, penyebaran intelijen pasar, daya tanggap pada intelijen pasar, rancangan tanggapan, implementasi tanggapan, penekanan pimpinan pada orientasi pasar, penghindaran risisko pimpinan, konflik antar bagian, keterhubungan antar bagian, formalisasi, sentralisasi, sistem pemberian penghargaan, turbulensi pasar, intensitas bersaing, turbulensi teknologi, komitmen organisasional, esprit de corps, kinerja organisasional.
The primary purpose of the study was to extend market orientation model in the local government institution of Central Java province. To achieve this objective, the study used scales of market orientation, antecedents and consequences from Jaworski & Kohli (1993), Cervera et al. (2001), and Niculescu at al. (2013). Cross section sample of 137 managers from six local government institution were participated in this study (approximately 46% response rate). Data was collected through questionnaires submitted directly to the heads of SKPD in five counties and one cities in Central Java province. Sample election districts and cities was done by using purposive convenience sampling. The hypothesis proposes were test by structural equation modeling (SEM). The finding reveal that from the fifty-two hypothesis proposed, eighteen of it were supported empiricaly significant. Six of ten antecedents variable were part supported empiricaly as antecedent of market orientation dimension, those are top management emphasis, top management risk aversion, interdepartmental connectedness, centralization, reward systems and competitive intensity. Top management emphasis was supported as robust antecedent market orientation because it has significant relationship with all dimension of market orientation, except response implementation dimension. A significant relationship was shown between market orientation dimensions with organizational commitment, esprit de corps, and organizational performance except response implementation dimension. We conclude that the study offer support for robustness of Jaworski & Kohli (1993) market orientation model. From the seven indicators of the goodness of fit model (Byrne, 2001), only one indicators that meet the criteria and two indicators in the moderate category. This indicates that the proposed model of market orientation is not yet fit in the local government agencies setting and lead to do further modifications. There are several possible causes that made non-fulfillment of eligibility indicator models in this study include too many parameters tested, response size is too small, and the low validity and reliability of variables.
Kata Kunci : ntelligence generation, intelligence dissemination, responsiveness, market orientation antecedents, top management emphasis, top management risk aversion, interdepartmental conflict, interdepartmental connectedness, formalization, centrali