Laporkan Masalah

Ambivalensi Dalam Jemini: Tinjauan Postkolonial

RIZKA FADHILA, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2017 | Tesis | S2 Ilmu Sastra

Terbitnya cerita rekaan (cerkan) berbahasa Jawa Jemini karya Suparto Brata pertama kali dalam bentuk cerita bersambung pada majalah Jaya Baya tahun 1972 di tengah fenomena kemunculan cerkan Jawa tema revolusi kemerdekaan menjadi latar belakang penelitian ini. Menurut pengakuan penulis di dalam sampul novelnya, cerkan ini mengisahkan kehidupan pribumi di dalam tangsi militer sebagai bagian dari KNIL namun mereka dibedakan bahkan anak-anak mereka dijadikan gundik sehingga mereka berjuang dengan cara masing-masing melintasi batas-batas pembeda tersebut. Oleh karena itu, cerkan ini menarik untuk diteliti dengan menggunakan sudut pandang postkolonial Homi K. Bhabha mengenai ambivalensi wacana kolonial. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bentuk-bentuk ambivalensi yang digambarkan dalam cerkan Jemini serta mengungkap faktor-faktor penyebab tema cerkan Jemini berbeda dari cerkan-cerkan sebelumnya yang marak mengusung tema revolusi kemerdekaan. Penelitian dilakukan dengan menganalisis satuan-satuan tekstual yang mengandung unsur Barat maupun Timur di dalam teks, serta mengaitkan pula dengan data-data di luar teks dengan menggunakan teori Pascakolonial Homi K. Bhabha mengenai ambivalensi wacana kolonial. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Cerkan Jemini memperlihatkan berbagai usaha Belanda membedakan Jawa KNIL perihal keprajuritan maupun pergundikan. Dalam usaha membedakan itu, batas-batas digambarkan tidak pasti akibat keterbelahan asumsi-asumsi dasar yang dibangun wacana Kolonial Belanda untuk mengklaim otoritasnya. Dari keterbelahan itu digambarkan penulis menjadi hal positif bagi Serdadu Jawa KNIL dan anak perempuan mereka (gundik Belanda) mengoreksi posisinya. Pengoreksian tersebut ditempuh dengan beragam cara dan tujuan. Ada yang bergerak ke Barat agar dianggap setara, ada yang bergerak ke Timur untuk membalikkan posisi, ada yang memanfaatkan unsur Barat sembari mempertahankan jatidirinya sebagai Timur guna mengganggu otoritas tunggal kolonial Belanda. Dari berbagai respon Jawa KNIL menyikapi batas-batas antagonisme, dualisme Barat-Timur digambarkan penulis berhasil melintasi batas-batas pembeda. Sayangnya, dalam dualisme itu penulis mereproduksi hegemoni kolonial sebab tokoh utamanya menggantungkan keputusan atau butuh intervensi dari Barat ketika melakukan perlawanan dalam kepatuhan. Gagasan demikian, berkaitan erat dengan langkah kebijakan ekonomi politik di masa cerkan ini terbit yang pada satu sisi membangun semangat nasionalisme dan di lain pihak kapitalisme.

The publication of a fiction story in Javanese Jemini authored by Suparto Brata for the first time in serialized form in the Jaya Baya magazine 1972 at the middle of the emergence of the phenomenon of Java fiction theme of revolution become into the background of this research. According to the author in the cover of his novel, this fiction story tells native life in the military barracks as part of the KNIL, but they were distinguished even their children used as concubines so that they fight with each other's way across the boundaries of the differentiator. Therefore, it is interesting to study this fiction story using postcolonial standpoint Homi K. Bhabha regarding the ambivalence of colonial discourse. The purpose of this study is to explain the forms of ambivalence which is described in Jemini Fiction Story and uncover the factors which cause the difference Jemini Fiction Story theme from the others previous fiction stories which taking theme of independence revolution. The study was conducted by analyzing the textual units that contain both Eastern and Western elements in the text, and associate well with data beyond text by using postcolonial theory of Homi K. Bhabha about the ambivalence of colonial discourse. Research result can be concluded as follows. Jemini Fiction Story shows various Dutch attempt to distinguish Java KNIL about soldiering and concubinage. In an effort to distinguish the boundaries are uncertain due to the divisions described basic assumptions built Dutch Colonial discourse to claim authority. From this divisions which depicted the author became a positive thing for Java Colonial Army Soldiers and their daughters (mistress of Netherlands) correct their position. Proofreading is reached by a variety of aims and ways. Some are moving to the West in order to be considered as equal as West, some are moving east to reverse the position, some of them utilizes the element of the West while maintaining his identity as the East in order to disrupt the sole authority of the Dutch colonial. From the various Java response KNIL addressing the limits of antagonism, East-West dualism portrayed the author managed to cross the boundaries of a differentiator. Unfortunately, the authors reproduce the dualism of colonial hegemony because the main character drape decision or need intervention from the West when performing resistance in compliance. The idea therefore, is closely related to political economic policy measures in the timeof this novel publised on one side of the building on the spirit of nationalism and capitalism on the other.

Kata Kunci : Barat-Timur, Ambivalensi, Resistensi, Jemini, Postkolonial

  1. S2-2017-339488-abstract.pdf  
  2. S2-2017-339488-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-339488-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-339488-title.pdf