STRATEGI PENANGKAR DALAM PENGUSAHAAN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi) UNTUK MENUNJANG PENDAPATAN
GILANG ANGGIT BUDAYA, Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc.; Dr.rer.silv.M.Ali Imron, S.Hut.,M.Sc.
2017 | Tesis | S2 Ilmu KehutananJalak Bali sebagai satwa liar yang memiliki status konservasi tinggi, ternyata banyak ditangkarkan di masyarakat Jawa. Hal tersebut merupakan strategi konservasi bagi satwa ini, yaitu dengan memperbanyak penangkaran di masyarakat agar memenuhi permintaan pasar, sehingga jalak Bali di alam survive. Pada perkembanganya, belum pernah ada yang menelusuri bagaimana sepak terjang strategi konservasinya di penangkaran masyarakat. Hal ini penting sebagai upaya menyelamatkan burung ini. Pendekatan untuk memahami konservasi ek-situ jalak ini berupa kajian mengenai manipulasi habitat dan populasi oleh penangkar, dukungan pemerintah dan implikasinya terhadap penangkar, proporsi penghasilan total jalak Bali terhadap pendapatan total, dan tata niaga yang berlaku di penangkaran jalak Bali. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Kualitatif menggunakan wawancara langsung dan kuantitatif digunakan saat menganalisis data pendapatan. Hasil yang didapat ternyata kepedulian penangkar terhadap kesehatan populasi jalak Bali di penangkaran masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan belum adanya perhatian khusus penangkar untuk kelestarian, dan kesejahteraan jalak Bali. jalak Bali ternyata merupakan penyumbang sebagian besar pendapatan penangkar dari penangkar besar sampai penangkar kecil. Para penangkar jalak Bali terbagi menjadi dua macam dalam menyikapi legalisasi dari pemerintah yaitu sangat senang dan terbantu, dan yang lain antipati. Ada dua strategi pemasaran dalam penangkaran jalak Bali, yaitu secara online dan manual. Strategi dalam mengusahakan yang didapat yaitu menyulami dengan indukan yang lebih muda, perluasan pengetahuan penangkaran jalak Bali, mendorong penangkar untuk menangkarkan tidak hanya jalak Bali, juga memperbanyak indukan untuk stabilitas pendapatan.
Bali starling as a wildlife with high conservation status, in fact is commonly breed in the Javanese community. This is one of the conservational strategy for this species, which is to multiple captivity within the community in able to meet the demands of the market thus Bali starlings in the wild will survive. In its progress, none has trace the activity of this captivity in the community. This is vital in an attempt to protect this wildlife. The approach in able to understand the ex-situ conservation is conducting a study on the habitat manipulation by breeders, government support and its implication to the breeders, the proportion of income from Bali starling compared to the total income, and trade system that is applied in Bali starling captivity. The method used is quantitative and qualitative. Qualitative using direct interview and quantitative is used when analyzing the data of income. The result obtained is that the breeder concern to the health of Bali starlings population in the captivity is still low. This is proven by the absence of specific concerns of the breeders for preservation and welfare of the Bali starlings. Bali starling contributes the highest for the income of breeders, nevertheless big or small breeders. The Bali starling breeders is divided into two types in addressing legalization from the government. Some feels delighted and helped, others antipathy. There are two marketing strategy in the Barling starling captivity that is online and manual. The strategy that is obtained are substituting with younger birds, breeders knowledge enhancement, encourage breeder to breed not only Bali starlings but aso other birds to stabilize income.
Kata Kunci : jalak Bali, penangkaran, pendapatan, tata niaga