Laporkan Masalah

ANALISIS MODAL INTELEKTUAL PADA ORGANISASI PENYEDIA JASA URUN DANA (CROWDFUNDING PLATFORM) DI INDONESIA (STUDI PADA KITABISA.COM PERIODE 2013-2016)

SANTIKA NINDYA HAPSARI WIBOWO, Mahfud Sholihin, M.Acc., Ph.D.

2017 | Skripsi | S1 AKUNTANSI

INTISARI Perusahaan rintisan seringkali memiliki kesulitan untuk mendapatkan pendanaan awal untuk operasi bisnisnya. Pengusaha yang kreatif lalu menyasar sistem pendanaan baru yang disebut dengan urun dana (crowdfunding). Jasa urun dana membantu pengusaha untuk mengumpulkan dana dari masyarakat luas. Sistem pendanaan yang menonjolkan prinsip kegotongroyongan ini memiliki potensi yang besar di Indonesia karena penggunaannya berbasis internet dan pemerintah Indonesia kini bertumpu pada sektor investasi. Meskipun begitu, tidak banyak organisasi penyedia jasa urun dana yang mampu melewati tahun-tahun awal. Salah satu organisasi yang mampu bertahan adalah Kitabisa. Di Indonesia, Kitabisa adalah peron penyedia jasa urun dana terpopuler berdasar jumlah dana yang berhasil dikumpulkan (Rp47.274.769.518 per 1 November 2016) dan jumlah proyek yang didanai (2.649 inisiatif per 1 November 2016). Kitabisa mampu bertahan pada tahapan awal berdirinya karena memiliki faktor-faktor tak berwujud yang menciptakan daya saing tersendiri. Faktor-faktor tak berwujud ini disebut modal intelektual. Proses pemerolehan dan pemanfaatan modal intelektual di Kitabisa dilakukan pada dengan rekruitmen, partisipasi pelatihan, dan diskusi. Kitabisa mengorganisasi modal intelektualnya secara formal maupun informal. Dengan begitu, kinerja Kitabisa meningkat terutama dari tahun 2015-2016 jika diukur dengan pengukuran Gross Donation Value (GDV) dan Return On Assets (ROA). Modal intelektual diklasifikasikan menjadi tiga kategori: modal manusia, modal organisasi, dan modal relasi. Adapun karyawan Kitabisa menilai ketiga kategori modal tersebut memiliki nilai kegunaan yang sama, dan modal relasi yang paling penting untuk meningkatkan kinerja Kitabisa.

Business start-ups oftenly find a hard time to get their business operational funded. Therefore, creative businessmen try to use a new funding system called crowdfunding. Crowdfunding helps businessmen to collect the fund from society. This funding system has a big potency in Indonesia because it is based on the internet dan the government of Indonesia now relies on investment sector. However, many crowdfunding platform organizations can not survive in their gestation period. One of the sucessful survived organization is Kitabisa. In Indonesia, Kitabisa is the most popular crowdfunding platform based on the number of fund it collects (Rp47.274.769.518 by 1 November 2016) and the number of projects that get funded (2.649 inisiatif by 1 November 2016). Kitabisa is able to survive in its gestation period because it owns intangible factors that create competitive advantage. These intangible factors are called intellectual capital. The acqusition and utilization of intellectual capital in Kitabisa is done from the recruitment process, training participation, and discussions. Kitabisa organizes its intellectual capital formally and informally. Therefore, the performance is improved especially from 2015-2016 if it is measured by Gross Donation Value (GDV) and Return On Assets (ROA). Intellectual capital is classified into three categories: human capital, organization capital, dan relational capital. The employees of Kitabisa evaluate that those three categories have the same rate of usefulness. However, the empoyees give the highest value of importance to relational capital.

Kata Kunci : modal intelektual, urun dana, perusahaan rintisan