Laporkan Masalah

Kesiapan pemerintah dalam pelaksanaan otonomi daerah ditinjau dari aspek keuangan :: Kasus Propinsi Sumatera Barat

HUSENO, Tun, Dr. Soeratno, M.Ec

2001 | Tesis | Magister Ekonomika Pembangunan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana kemampuan keuangan daerah Propinsi Sumatera Barat dalam melaksanakan otonomi daerah ditinjau dari aspek keuangan, yang dilihat dari kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) terhadap APBD, Pertumbuhan PAD, derajat otonomi fiskal (DOF), proporsi BantuaniSubsidi terhadap total penerimaan daerah(TPD), kemampuan rutin daerah (KRD), peranan masing-masing Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagian laba BUMD, Penerimaan Dinas-dinas, Penerimaan Lain-lain terhadap PAD, menghitung perbedaan nilai 2 rata-rata antara pajak daerah dengan retribusi daerah, pajak daerah dengan bagian laba BUMD, pajak daerah dengan penerimaan dinas-dinas, pajak daerah dengan penerimaan lain-lain, serta Proyeksi PAD lima tahun ke depan. Data yang digunakan adalah data sekunder runtun waktu (time series) mulai tahun 1983/1984 sampai dengan tahun 2000, yang diperoleh dari publikasi Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Sumatera Barat, Biro Keuangan Sekretariat Daerah Propinsi Sumatera Barat dan Kantor Statistik Propinsi DIY. Untuk analisis dan pembahasan menggunakan alat analisis kontribusi PAD terhadap total penerimaan daerah (TPD), Bantuan/Subsidi terhadap total penerimaan daerah(TPD), PAD terhadap Pengeluaran Rutin, kontribusi masing-masing Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagian laba BUMD, Penerimaan Dinas-dinas, Penerimaan Lain-lain terhadap PAD, menghitung perbedaan nilai 2 rata-rata metode statistik, serta menghitung proyeksi PAD lima tahun ke depan dengan analisis trend least square. Hasil penelitian menunjukan bahwa dilihat dari DOF kemandirian Propinsi Sumatera Barat kategori cukup. Artinya Propinsi Sumatera Barat slap dalam melaksanakan otonomi daerah, ketergantungan terhadap bantuanisubsidi semakin menurun, sedangkan kemampuan rutin daerah cukup dalam membiayai belanja rutin. DOF yang cukup yang diikuti dengan KRD yang juga cukup, berarti adanya peningkatan penerimaan daerah. Dari komponen PAD kontribusi terbesar diberikan oleh Pajak Daerah, diikuti Retribusi Daerah, Penerimaan Lain-lain, Bagian laba BUMD serta Penerimaan Dinas-dinas.

This research was aimed to analyze how far financial ability of West Sumatra Province was in implementing the autonomous district viewed from the financial aspect. This aspect was viewed from contributions of the district genuine income (PAD) toward APBD, PAD growth, fiscal autonomous degree (009, proportion of Aid/Subsidy toward district income total (TPD), district routine ability (KRD), contribution of each district tax, district retribution, portion of BUMD profit, agency Income, other Incomes toward PAD, differences of two-average values between the district tax and district retribution, the district tax and portion of BUMD profit, the district tax and agency income, the district tax and other incomes, and the Projection of PAD in five years ahead. Data used were time-series secondary data from 1983/1984 to 2000, collected from publications of District Income Agency of West Sumatra Province, District Secretariat Financial Bureau of West Sumatra Province and Statistical Office of Yogyakarta Special District Province. The analysis and discussion used analysis tool of PAD contributions to district income total (TPD), Aid/Subsidy to district income total (TPD), PAD to routine expenditure, contributions of each district tax, district retribution, portion of BUMD profit, agency income, other incomes to PAD, and was performed by calculating differences of two-average values between statistical methods, and by calculating PAD projection in five year ahead with analysis of least square trend. The research results showed that, viewed from DOF, the autonomy of West Sumatra Province was in quite-good category. It meant that West Sumatra Province was ready in implementing the district autonomous, dependency toward aid/subsidy was declining, ability of district routine was sufficient to fee its routine expenditures. Sufficiency in DOF and KRD meant that the district income was increased. From PAD components, the biggest contribution was given by district tax followed by district retribution, other incomes, portion of BUMD profit and agency income.

Kata Kunci : Keuangan Daerah,Otonomi Daerah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.