PEBISNIS PEREMPUAN : PEKERJAAN ATAU KELUARGA? (Studi Fenomenologis tentang Makna Keseimbangan Kerja-Keluarga bagi Perempuan yang telah Menikah dan Berkerja sebagai CEO Bisnis di Yogyakarta)
ANGGRELIKA PUTRI KRESTARYANINGWIDHI, Tina Afiatin, Prof. Dr., M.Si., Psikolog
2016 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIJumlah perempuan memiliki telah menikah dan memutuskan untuk bekerja kini semakin marak. Khususnya bagi perempuan yang bekerja sebagai CEO Medium Sized Enterpreneurs di Yogyakarta, mereka memiliki tanggung jawab yang lebih kompleks, karena harus bertindak sebagai pemimpin di tengah struktur masyarakat Jawa yang secara umum menganut budaya patriarki. Dengan kondisi tersebut, perempuan perlu menyeimbangkan peran (sebagai istri atau ibu maupun sebagai seorang pekerja) demi menghindari konflik dan mencapai work-family enrichment. Berdasarkan penelitian terdahulu, belum terdapat konsep keseimbangan kerja-keluarga yang konsisten. Umumnya penelitian terkait keseimbangan kerja-keluarga masih didominasi oleh konsep barat sehingga kurang sesuai dengan konteks budaya lokal. Penelitian ini menjabarkan makna keseimbangan kerja-keluarga bagi pebisnis perempuan yang berdomilisi di Yogyakarta. Penelitian ini juga akan mengungkap dinamika keseimbangan kerja-keluarga pebisnis perempuan yang tetap memiliki keutuhan keluarga meskipun menjabat sebagai CEO. Responden dalam penelitian ini adalah tiga orang CEO perempuan yang memiliki skala usaha menengah keatas. Metode kualitatif digunakan untuk dapat menggali perspektif responden secara menyeluruh. Hasilnya, makna keseimbangan kerja-keluarga merupakan kondisi saat peran dalam domain keluarga dan pekerjaan karena kemampuan diri dalam mengatur waktu, perhatian, kasih sayang, komitmen, dan energi secara fleksibel serta beriringan sehingga dapat mendatangkan work-family enrichment. Faktor dalam keseimbangan kerja-keluarga meliputi interaksi antara work-family resource, work-family demand, karakteristik individu, dan motif dalam bekerja. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa individu yang telah mencapai keseimbangan kerja-keluarga akan mencapai subjective well-being dan mampu menjalankan peran sosial dalam masyarakat.
The number of married woman who enter the labor force is increasing. Particularly, for women who work as CEO of Medium Sized Entrepreneurs in Yogyakarta, they have more complex responsibilities, because they must act as a leader in Javanese community that generally embraced patriarchal culture. In that case, women need to balance their roles (as a wife, a mother, or a worker) in order to avoid conflicts and achieve work-family enrichment. Based on previous research, there has been no consistent concept of work-family balance. In general, research on work-family balance is still dominated by a western concept and it is not relevant with the local context of Indonesia. This study describes the meaning of work-family balance for business women in Yogyakarta. The research investigates the dynamic of work-family balance of woman CEO who maintain their family unity. Respondents in this study were three woman CEOs who have a medium-scale enterprises and upwards. Qualitative methods is used to explore perspective of every respondent. As the result, meaning of work-family balance is a condition in which the roles in family and work domain are fulfilled because of the ability to control time, attention, affection, commitment, and energy flexibly and it brings realization of work-family enrichment. Factor of work-family balance include interaction between work-family resource, family work-demand, individual characteristics, and motivation of working. In general, it can be concluded that individuals who have reached work-family balance will reach subjective well-being and also capable for running her social role in society.
Kata Kunci : Work-family balance, Woman CEO, factors in work-family balance, work-family enrichment.