Aksesibilitas dan Kapasitas Pelaku Industri dalam Menciptakan Peluang Usaha (Studi Kasus Dusun Brajan, Yogyakarta)
ALDITA CONY APRILIA, Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA
2017 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPenelitian ini membahas tentang variasi derajat peluang usaha yang diciptakan oleh perajin di sentra industri kerajinan bambu. Parameter penciptaan peluang usaha tersebut terdiri dari dua hal, yaitu aksesibilitas dan kapasitas. Aspek-aspek yang dikaji dalam penelitian ini, pertama, mengidentifikasi seputar aksesibilitas yang dimiliki masing-masing perajin. Aksesibilitas yang dimaksud mencakup sumber modal finansial, modal peralatan, dan modal keterampilan. Kedua, mengindentifikasi besarnya kapasitas atau mengukur seberapa jauh masing-masing perajin mampu mendayagunakan akses-akses yang telah ada tersebut. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumen, serta wawancara terstruktur dengan 7 perajin bambu di Dusun Brajan Yogyakarta yang terbagi atas 3 perajin kecil dan 4 pengepul. Sebagai penguat data, wawancara juga dilakukan dengan pihak-pihak terkait selaku stakeholders, yaitu Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman, Universitas Islam Indonesia, dan PT Jasa Raharja Cabang Yogyakarta. Langkah selanjutnya analisis data diawali dengan mereduksi data, menyajikan data, lalu menarik kesimpulan atau verifikasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aksesibilitas dan kapasitas dari masing-masing perajin. Perbedaan inilah yang menciptakan variasi derajat peluang usaha antar perajin, mulai dari peluang tinggi hingga peluang rendah. Pada dasarnya aksesibilitas dalam hal sumber modal yang dimiliki para perajin relatif sama, karena untuk sumber modal peralatan dan keterampilan sama-sama mendapat bantuan dari para stakeholders. Namun faktor lain yang membedakan adalah dari segi modal finansial, pangsa pasar, inovasi produk, relasi tenaga kerja, kemampuan membangun jaringan, hingga teknik pemasaran usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perajin yang memiliki peluang tinggi dalam perkembangan usahanya adalah kategori pengepul. Ditinjau dari segi aksesibilitas dan kapasitas memang pengepul usahanya tergolong lebih besar dan lebih maju karena telah melayani penjualan ekspor dan dapat menciptakan relasi tenaga kerja secara luas. Sedangkan yang tergolong berpeluang rendah dalam pengembangan usaha banyak dijumpai pada para perajin kecil karena tidak banyak aksesibilitas dan kapasitas yang bisa dilakukan. Meski begitu tidak semua perajin kecil berpeluang rendah, karena juga ditemukan perajin kecil yang memiliki peluang tinggi, ditinjau dari ragam relasi tenaga kerja yang luas dan intensitas transaksi dengan konsumen yang terbilang sering meski hanya sebatas pengiriman domestik atau luar daerah. Oleh karena itu, kepemilikan peluang usaha tidak tergantung pada status kewirusahannya sebagai perajin kecil atau pengepul, karena pada dasarnya setiap perajin bisa saja memiliki peluang tinggi dan peluang rendah tergantung dari aksesibilitas dan kapasitas yang digunakan.
This research will focus on variety of business opportunities created by craftsman in bamboo craft industry. The parameters of business opportunities consist of two things, namely the accessibility and capacity. These aspects are examined in this research, first, identify surrounding the accessibility of each craftsman. Accessibility encompasses capital resources of financial, equipments, and skills. Second, measure the capacity of each craftsman or how far they are able to leverage existing the access. Research method in this study is qualitative with case study approach. Collected informations through observation, documents, and structured interviews with seven bamboo craftsman in Brajan Village Yogyakarta, divided into 3 small craftsman and 4 collectors. For additional information, interviews were also conducted with relevant parties as stakeholders, named Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman, Universitas Islam Indonesia, and PT Jasa Raharja Yogyakarta. The next step of analysis begins with reducing, presenting, and then draw a conclusions or verification. This research indicated many differences in the accessibility and capacity of each craftsman. That difference creates variety of business opportunities between craftsman, ranging from a high chance to lower. Basically, accessibility in terms of sources of capital owned by craftsman are relatively same, due to sources of capital equipment and skills are equally received support from stakeholders. Another distinguishing factors is money resources, market, innovation of product, relation of labors, the ability to build a network, up to business marketing techniques. The results showed that the majority of craftsman who have high chances of the business opportunities is category of collectors. The accessibility and capacity of collectors is relatively larger and more advanced because it has served export sales and can create widespread labor relations. While classified as a low chance in business opportunities are often found in the small craftsman. However not all the small craftsman likely low, because also found small craftsman who have high chance, seen in variety of widespread labor relations and transaction intensity with consumers, although the domestic consumers.
Kata Kunci : aksesibilitas, kapasitas, peluang usaha, industri kerajinan bambu