Menjadi Priyayi Jawa: Sejarah Wanita Tamansiswa, 1920an-1960an
SITI UTAMI DEWI NINGRUM, Dr. Mutiah Amini, M.Hum.
2017 | Tesis | S2 Ilmu SejarahTesis ini menarasikan pengalaman wanita priyayi yang berasal dari Tamansiswa. Tamansiswa sebagai perguruan yang didirikan oleh para priyayi menempatkan wanita sebagai pemangku keturunan, yaitu menjadi ibu dan istri. Hal tersebut ternyata tidak membuat para wanita menjadi pasif. Mereka justru memanfaatkan konstruksi terebut untuk kembali merebut ruang eksistensi yang telah dibatasi oleh masyarakat sejak perang Diponegoro. Wanita priyayi Tamansiswa tidak hanya diam di rumah menyelesaikan tugas-tugas domestiknya. Mereka masuk dalam organisasi, dunia politik, ekonomi, sosial dan budaya untuk memperjuangkan nasib wanita dan kemajuan bangsanya. Mereka menyatukan diri dalam semangat ibuisme, melewati pergantian kekuasaan. Tesis ini menggunakan metode tutur perempuan untuk menarasikan pengalaman para wanita priyayi, baik dari sumber tertulis, lisan dan gambar. Pengalaman tersebut kemudian dianalisis dengan perspektif gender. Hal tersebut sebagai salah satu cara untuk lebih memahami pemikiran, pola perjuangan serta diskriminasi yang mereka alami dari generasi pertama hingga ke dua. Pengalaman wanita priyayi yang didokumentasikan dalam tesis ini merupakan hal yang penting dalam historiografi di Indonesia. Pemikiran dan pola perjuangan para wanita priyayi Tamansiswa periode 1920an-1960an dapat digunakan sebagai landasan berfikir dalam menulis kajian gender. Selain itu, tulisan ini pun dapat digunakan oleh para feminis di Indonesia dan dunia dalam memahami awal mula pergerakan wanita di Indonesia.
This thesis narrated about priyayi women's experience from Tamansiswa. Tamansiswa as a college are founded by the priyayi that put women as pemangku keturunan, who becomes a mother and wife. But, It did not make the women become passive. They actually are taking advantage of the construction to regain existence space that has been limited by the community since the Diponegoro's war. Tamansiswa Priyayi's women not only stay at home to completing a domestic chores. They are also included in the organization, in the politic, economic, social and cultural to fight for the fate of the women and the progress of their nation. They unite themselves in the spirit of Ibuism, passing the succession. This thesis uses tutur perempuan to narrate the experiences of priyayi women, either from written sources, oral and pictures. The experiences then analyzed with a gender perspective. It is as one way to understand their mind, the pattern of the fight as well as the discrimination they experience from first generation to second. Priyayi's women experience that documented in this thesis are important to be part of the Indonesian historiography. The patterns of thought and struggle of Tamansiswa priyayi's women in the 1920s-1960s period can be used as the basis of thinking in writing gender studies. In addition, this paper can also be used by feminists in Indonesia and the world to understanding the beginning of the women movement in Indonesia.
Kata Kunci : wanita,priyayi,ibuisme,gender