Laporkan Masalah

Kebijakan Official Development Assistance (ODA) Bagi Pembangunan Ekonomi di Afrika Melalui Tokyo International Conference on African Development (TICAD)

CALISTA DYAH AMALIA, Dra. Siti Daulah Khoiriati, MA

2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Jepang pertama kali menginisiasi Official Dveelopment Assistance (ODA) pasca Perang Dunia II sebagai sebuah kewajiban untuk memberikan repayment reparation kepada negara-negara bekas jajahannya. Kemudian muncul berbagai kritik atas implementasi ODA Jepang yang diberikan oleh negara-negara Barat (negara pendonor) karena strategi perluasan ODA Jepang melalui ODA diperuntukan bagi kepentingan ekonomi Jepang. Sehingga ODA Jepang dikatakan tidak tepat sasaran, tidak memiliki basis filosofi, dan tidak memberikan perhatian pada isu humanitarian. Kritik tersebut mengantarkan Jepang untuk menggeser orientasi ODA-nya, dari yang sebelumnya berorientasi pada isu pembangunan ekonomi saja, namun kemudian memperluas orientasinya kepada isu humanitarian juga. Pergeseran tersebut dapat terlihat pada Japan's ODA Charter 1992. Penelitian ini juga akan memaparkan mengenai Tokyo International Conference on African Development (TICAD) sebagai implementasi ODA Jepang kepada Afrika yang memiliki perbedaan tersendiri dengan cara pemberian ODA oleh negara pendonor lainnya. TICAD telah memfasilitasi pembangunan ekonomi di Afrika melalui technical assistance ini dibentuk pada tahun 1993. Beranggotakan Jepang, negara-negara Afrika, negara pendonor, NGO, dan organisasi internasional. Penulis berargumen bahwa TICAD telah berhasil mencapai sasaran ODA Jepang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Afrika melalui tiga buah action plans yang disetujui dalam pertemuan TICAD.

Japan first initiated Official Development Assistance (ODA) after World War II as an obligation for repayment reparation to countries it once occupied. Critics have been raised towards Japan's ODA by western countries because it was perceived as Japan's strategy to expand its Foreign Direct Investment (FDI) to secure its economic interest. Japan was not successful to obtain its objectives, did not have any philosophy as its base, and did not have any concern on humanitarian issues in giving out. Those encouraged Japan to shift its ODA's orientation which was originally confined to economic development issues, become expanded to humanitarian issues as reflected on Japan's ODA Charter 1992. This research later describes about Tokyo International Conference on African Development (TICAD) as the implementation of Japanese ODA in Africa which is quite different with the form of any other ODA(s) in the world. TICAD, which facilitates African countries with technical assistance, was formed in 1993 by Japan, African countries, donor countries, NGO(s), and international organisations. I argue that TICAD has successfully met Japan's objective to accelerate Africa's economy through three action plans which were agreed during TICAD meetings.

Kata Kunci : Japan's ODA Charter, Africa, economic development, technical assistance, TICAD

  1. S1-2017-345256-abstract.pdf  
  2. S1-2017-345256-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-345256-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-345256-title.pdf