Eksploitasi Buruh Perempuan di Industri Pedesaan (Studi "Kaum Subaltern" di Industri Wig dan Bulu Mata di Kabupaten Purbalingga)
DIAH RAMADHANI EKA MURBANINGRUM, Prof.Dr.Tadjuddin Noer Effendi, M.A.
2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIDewasa ini, globalisasi yang didukung dengan menjamurnya para kapitalis, telah menyebabkan interdependensi ekonomi, dan banyak relokasi industri dari negara maju ke negara berkembang. Wujudnya adalah dengan didirikannya Perusahaan Multinasional Asing/PMA. Berdirinya berbagai Perusahaan dengan Industri Penghasil Wig dan Bulu Mata di Kabupaten Purbalingga menjadi perhatian, dikarenakan seperti koin dengan 'dua sisi' yang berbeda. Di satu sisi, mampu memberikan keuntungan dengan menyerap banyak tenaga kerja dan menumbuhkan perekonomian daerah. Namun disisi lain, diindikasikan banyak terjadi eksploitasi, kekerasan dan penindasan terhadap buruh perempuan di sebuah Pabrik. Tulisan ini menggunakan teori Post Kolonial, dengan berfokus pada konsep dari Spivak (1988), mengenai "kaum subaltern". Konsep ini digunakan untuk mengupas eksploitasi dan kekerasan terhadap buruh, selaku kaum yang lemah dan tidak berdaya. Serta untuk membahas alasan mengapa para buruh tidak melakukan perlawanan terhadap eksploitasi yang kerap dialami. Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan, menggali dan memahami fenomena secara mendalam. Pabrik Wig dan Bulu Mata, rumah 4 buruh perempuan yang juga selaku informan, dan Dinas Sosial, Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga, menjadi fokus penelitian penulis dalam pencarian data di lapangan. Buruh perempuan pernah melakukan upaya dengan berdemo, untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan eksploitasi. Namun setelah demo tersebut, eksploitasi menjerat mereka kembali. Buruh perempuan memilih untuk tetap bekerja dengan alasan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang rendah serta status pernikahan. Selain itu buruh perempuan juga pasif dan tidak mampu melakukan perlawanan. Hal ini disebabkan karena buruh perempuan merupakan kaum yang lemah, buruh perempuan berada dalam lingkar kekuasaan pihak Pabrik yang menjeratnya untuk tetap bergantung pada "kaum dominan" tersebut, adanya kesenjangan sosial antara buruh perempuan dan "kaum dominan" (membuat mereka tetap dalam belenggu eksploitasi dan tidak mampu menyuarakan apa yang mereka rasakan), serta buruh perempuan tidak bisa berbuat banyak, dikarenakan adanya ketergantungan ekonomi antara buruh dan Pabrik. Hal ini membuat kedua pihak selalu bergantung satu sama lain dalam hal ekonomi, sehingga membuat buruh perempuan tetap menggantungkan hidupnya kepada Pabrik, dan tidak mampu melakukan perlawanan.
Nowadays, globalization supported by wide spread of capitalist, has caused economic interdependency, and many industrial relocation from the developed world to developing countries. It's looked like many people built a Multinational Corporations / foreign investment. The establishment of various companies with industry producing a wig and the eyelashes in purbalingga concern, because such as a coin with the 'two sides' as distinct. On one side, capable of give an advantage by absorbing a lot of labor and a growing the economy of the regions. On the other hand, indicated prevalent exploitation, violence and the repression of woman labour in a factory This writing use the Post Colonial theory, with a focus on concept of spivak ( 1988 ) , about "the subaltern". This concept used to peel exploitation and violence against workers, as a people who weak and helpless. And to discuss the reason why the workers not conduct resistance against exploitation that often experienced.The use writers approach the qualitative study to described, digging and understand the phenomenon in depth. Factories a wig and eyelashes, four woman labour house who also as informants, and Dept.of Social Affairs, Transmigration and Labor Purbalingga Regency, are a focus of research an author in for finding data in the field . Laborers women ever do efforts with gather, to stop all forms of violence and exploitation. But after the protest, the exploitation entrap them back. Woman labour opted to keep working with reason background education and economic low and married status. Besides that, woman labour are passive and not able to conduct resistance. This is because woman labour are people who weak, woman labour reside in a circle power of the factory who fiber to still depend on "the dominant", social the gap between workers women and "the dominant" ( keep them in chains exploitation and unable to voice what they feel), and labor woman cannot do much, because the economic dependence between workers and factory. This makes the two sides always depend each other in terms of economic, so as to make woman labour will remained drape of their life to Factories , and unable to conduct resistance.
Kata Kunci : Kata Kunci : Buruh Perempuan, Kaum Subaltern, Eksploitasi, Pabrik Wig dan Bulu Mata