Strategi Advokasi Berbasis Kultural Paguyuban Bumi Lestari untuk Mendorong Perubahan Implementasi Kebijakan PHBM di Kabupaten Ngawi
ARLITA FERDIANA IRMAYANTI, R.B. Abdul Gaffar Karim, S.IP., M.A.
2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Penelitian ini muncul berdasarkan pertanyaan mengenai bagaimana strategi advokasi berbasis kultural yang diusung Paguyuban Bumi Lestari berpengaruh terhadap perubahan implementasi kebijakan pengelolaan sumber daya hutan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Fokus utama penelitian ini adalah mengenai strategi berbasis kultural yang digunakan dalam advokasi pengelolaan sumber daya hutan. Konsepsi bebrayan dalam hal ini merupakan kebudayaan lokal menjelaskan bagaimana hubungan masyarakat desa dan hutan. Dalam perjalananya konsepsi bebrayan mengalami transformasi pada konsep, bentuk, fungsi dan sifat budaya. Transformasi bebrayan menjadi sebuah strategi baru untuk menyelesaikan permasalahan publik melalui nilai-nilai yang terkandung dalam prinsip hidup. Nilai-nilai tersebut dimanifestasikan dalam pembentukan institusi infomal yang kemudian melakukan serangkaian kegiatan advokasi yang menggunakan strategi kultural dalam proses advokasi tersebut untuk mendorong perubahan implementasi pengelolaan sumber daya hutan. Upaya advokasi dilakukan sebagai respon masyarakat sekitar untuk perubahan implementasi kebijakan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga program yang dilakukan tidak bernasib sama seperti program-program sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara secara mendalam serta mencari sumber dari berbagai literatur yang mendukung untuk mengentahui secara lebih lanjut mengenai Paguyuban Bumi Lestari kaitanya dengan perubahan implementasi kebijakan pengelolaan sumber daya hutan di Kabupaten Ngawi. Temuan dari penelitian ini adalah pertama, hasil strategi advokasi Paguyuban Bumi Lestari mampu menggeser pola pengelolaan sumber daya hutan yang notabene state based menjadi community based di Kabupaten Ngawi, yang bertujuan untuk pengelolaan sumber daya hutan yang adil, sistem bagi hasil yang jelas, dan meningkatkan partisipasi antar pihak yang terlibat. Kedua, penggunaan kearifan lokal dalam upaya penyelesaian permasalahan dapat berpengaruh kepada minimalnya tingkat kerugian materiil/imateriil, tepatnya sasaran kebijakan dan partisipasi yang tinggi dari masyarakat.
This research was based on the question of how culturally-based advocacy strategies promoted by Bumi Lestari Community has the influence on the changes in policy implementation management of forest resources in Ngawi Regency, East Java. The main focus of this research was regarding the culturally-based advocacy strategies used in the advocacy management of forest resources. The concept of bebrayan in this case is the local culture that explains about the relationship between local people and the forest. Along the way, the concept of bebrayan experiences transformation on its concept, shape, function and characters of culture. The transformation of bebrayan becomes a new strategy in solving the public problmes through the values embodied in the principle of life. The values are manifested into the establishment of informal institutions which then conduct a series of advocacy activities that use cultural strategies in the advocacy process to support the changes in implementation management of forest resources. The attempt of advocacy is conducted as the respond of local people to the changes of policy implementation to fit the needs of the people so that the programs do not suffer the same fate as previous programs. This research used the qualitative method with a deep interview and looking for sources from various supporting literature to know more about Bumi Lestari Community in relation to changes in policy implementation management of forest resources in Ngawi Regency. The finding of the research was first, the results of the advocacy strategy of Bumi Lestari Community were capable of shifting patterns of forest resource management which was incidentally state based becoming community based in Ngawi Regency, which aims to fair forest resources management, clear profit-sharing system and increasing the participation among the parties involved. Second, the use of local knowledge in solving problems can affect the minimum rate of loss of material / immaterial, the precision of policy target and the high participation from the society.
Kata Kunci : kultur, advokasi kebijakan publik, Paguyuban Bumi Lestari