Laporkan Masalah

CHRISTIAN NONVIOLENT RESISTANCE (A CASE STUDY OF THE MYANMAR INSTITUTE OF THEOLOGY)

NAW LILY KADOE , Dr. Fatimah Husein

2016 | Disertasi | S3 ILMU AGAMA DAN LINTAS BUDAYA

Disertasi ini meneliti strategi dan taktik perlawanan tanpa kekerasan yang dilakukan oleh kelompok minoritas Kristen di Myanmar terhadap diktator militer di negara itu. Penelitian ini ingin menjelaskan mengapa taktik perlawanan yang dilakukan oleh kelompok minoritas Kristen berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para biksu dan aktivis politik beragama Buddha, yang merupakan mayoritas di Myanmar. Penelitian ini mencakup masa pemerintahan militer dari tahun 1962 sampai tahun 2011, dan masa pemerintahan “kuasi sipil” dari tahun 2011 sampai tahun 2016. Untuk penelitian ini, saya menggunakan dua strategi penelitian, yaitu analisis kualitatif dan studi kasus. Data dikumpulkan dari arsip, surat kabar cetak dan online, laporan-laporan, serta wawancara mendalam (in-depth interviews). Dari penelitian ini, saya menemukan tiga bentuk reaksi dari kelompok Kristen terhadap diktator militer, yaitu tidak melawan, melawan dengan senjata, dan melawan tanpa kekerasan. Tiap-tiap reaksi dilakukan oleh kelompok Kristen dengan melihat situasi dan kondisi, pertimbangan teologi, serta peluang yang ada. Dari penelitian ini, terlihat bahwa para pemimpin Kristen melakukan perlawanan terhadap diktator militer dengan cara halus (low profile), tidak melalui politik praktis, tetapi melalui pengembangan masyarakat dalam bidang sosial dan pendidikan. Hal ini tampak dari studi kasus, yang dilakukan dalam rangka penelitian ini, terhadap Myanmar Institute of Theology (MIT), sebuah seminari ternama di Yangon. Para pemimpin Kristen di Myanmar melakukan perlawanan terhadap pemerintahan diktator militer dengan menyelenggarakan pendidikan budaya, menawarkan refleksi teologi kontekstual, memberikan perhatian pada isu-isu kontemporer, hak asasi dan keadilan sosial, studi perdamaian, melakukan dialog antar-iman, dan menanamkan benih-benih demokrasi, serta mempraktikkan demokrasi dalam komunitas-komunitas. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa perlawanan tanpa kekerasan yang dilakukan oleh pihak tertindas terhadap pemerintahan otoriter dapat dibedakan dalam dua jenis. Kelompok mayoritas etnik dan agama yang memiliki keunggulan dalam hal jumlah dan status sosial-ekonomi melakukan strategi perlawanan terbuka, sedangkan kelompok minoritas etnik dan agama melakukan cara-cara perlawanan yang hati-hati atau terselubung. Kelompok minoritas etnik dan agama cenderung melakukan taktik-taktik berikut, yaitu konfrontasi, ucapan-ucapan terselubung (hidden transcript), dan konfrontasi positif. Bagi orang-orang Kristen, konfrontasi positif ini dilakukan mengikuti ajaran Yesus di dalam injil Matius 10:16 yang berbunyi:Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kata-kata kunci: perlawanan tanpa kekerasan, strategi dan taktik, diktator militer, minoritas etnik dan agama.

This dissertation examines the strategy and tactics of nonviolent resistance against the military dictatorship employed by minority Christians in Myanmar. It explains why the tactics of resistance used by the minority Christians were different from those of Myanmar’s majority Buddhist monks and political activists. The time period studied in this dissertation includes the military rule from 1962 to 2011, and the period under the quasi-civilian government from 2011 to 2016. I use theories of resistance and two research strategies: a qualitative analysis and a case study. Data have been collected from archives, newspapers and online news, published reports, and in-depth interviews. I find three kinds of response of Myanmar Christians to the military dictatorship; non-resistance, armed-resistance and nonviolent resistance. Each response depends on the circumstances, theology and opportunity. This research shows that the Christian leaders in Myanmar had resisted against military dictatorship in a low profile; not in politics but in involving social and educational development of society. A case study of the Myanmar Institute of Theology (MIT), a leading Protestant seminary in Yangon, reveals that Christian leaders in Myanmar had resisted to the military dictatorship by providing liberal education, promoting contextual theologies, giving awareness on contemporary issues, human rights and social justice, promoting peace studies, initiating interfaith dialogues, and sowing the seed of democracy by practicing democracy in its community. This research argues that nonviolent resistance to the authoritarianism employed by the oppressed can be seen in different ways. Ethnic and religious majority who have somewhat power in numbers and socio-economic status can use the strategies of open confrontation whereas ethnic and religious minority may resist in a very cautious manner. They incline to use the tactics of conformation, hidden transcript, and positive confrontation. For Myanmar Christians, positive confrontation is a way of following Jesus’ teaching in Matthew 10:16, You must be as wise as serpents and as harmless as doves. Keywords: Nonviolent Resistance, Strategy and Tactics, Military Dictatorship, Ethno-religious Minority

Kata Kunci : Nonviolent Resistance, Strategy and Tactics, Military Dictatorship, Ethno-religious Minority


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.