PERUBAHAN SEDIAAN DAN NILAI ASET TEGAKAN JATI DI KPH MADIUN PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL JAWA TIMUR
NADIA CITRA ADANINGGAR, Slamet Riyanto, S.Hut., M.Si.
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANTegakan merupakan aset penting bagi perusahaan yang bergerak dibidang pengusahaan hutan untuk menjaga keberlanjutan operasionalnya. Sediaan tegakan sebagai aset perusahaan perlu dievaluasi secara periodik yang besarnya dapat dinyatakan dalam satuan fisik (luas dan volume) maupun satuan moneter (rupiah). Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai alat kontrol untuk pemantauan kelestarian tegakan. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui kecenderungan perubahan sediaan luas dan volume tegakan jati, (2) mengatahui kecenderungan perubahan nilai aset tegakan jati. Penelitian ini dilakukan di KPH Madiun menggunakan data sekunder yaitu data hasil risalah tegakan 2 tahun terakhir (2001, 2011) dan data hasil evaluasi potensi tegakan tahun 2015. Analisis data yang dilakukan yaitu analisis sediaan luas tegakan, analisis volume tegakan dengan bantuan tabel tegakan jati WvW dan analisis nilai moneter tegakan dengan pendekatan cost value method. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) sediaan luas tegakan jati pada tahun 2001 seluas 19.722,15 ha, tahun 2011 seluas 20.270,30 ha dan pada tahun 2015 mencapai 20.667,30 ha. Sediaan luas tegakan jati tersebut cenderung terus mengalami peningkatan, pada 2001-2010 meningkat sebesar 548,15 ha dan pada 2011-2015 meningkat sebesar 397 ha. Sediaan volume tegakan jati pada tahun 2001 sebesar 1.074.612,49 m3, tahun 2011 sebesar 937.824,83 m3 dan pada tahun 2015 sebesar 1.085.546,10 m3. Sediaan volume tegakan jati tersebut cenderung mengalami penurunan pada 2001-2010 sebesar 136.788 m3 dan mengalami peningkatan pada 2011-2015 sebesar 147.721 m3; (2) nilai tegakan jati pada 2001, 2011 dan 2015 berturut-turut yaitu 1.309,022 milyar; 946,708 milyar dan 1.370,251 milyar. Nilai tegakan jati tersebut cenderung mengalami penurunan pada tahun 2001-2010 sebesar 362,315 milyar dan mengalami peningkatan pada tahun 2011-2015 sebesar 423,543 milyar.
Forest stand is the essensial asset for a company engaged in the forest concessions to guaranty its operational sustainability. As an asset, forest stand need to be evaluated periodically in term in physical (area and volume) and monetary (rupiah). The result of evaluation can be used as a controller for monitoring sustainability of forest stand. The aims of this research are (1) to describe the change trend of teak standing stock (area and volume), (2) to describe the change trend of teak stand asset value. This research was conducted at KPH Madiun using secondary data from the last 2 periods of periodically forest inventory (2001, 2011) and from the annual stand monitoring in 2015. Data was analyzed using forest accounting included physical and monetary. Forest stand was valued using cost value method. The result showed that (1) standing stock area in 2001 is 19.722,15 ha, in 2011 is 20.270,30 ha and in 2015 is 20.667,30 ha. Its increases in 2001-2010 by 548,15 ha and increases in 2011-2015 by 397 ha. Standing stock volume in 2001 is 1.074.612,49 m3, in 2011 is 937.824,83 m3 and in 2015 is 1.085.546,10 m3. Its decreases in 2001-2010 by 136.788 m3 and increases in 2011-2015 by 147.721 m3; (2) asset value of teak stand in 2001, 2011 and 2015 are 1.309,022 billion; 946,708 billion and 1.370,251 billion. Its decreases in 2001-2010 by 362,315 billion and increases in 2011-2015 by 423,543 billion.
Kata Kunci : sediaan tegakan, nilai tegakan, cost value method