GAMBARAN PELAKSANAAN USAHA KESEHATAN SEKOLAH DASAR DI KOTA YOGYAKARTA
YOPI DARMAWAN, Sri Mulyani, S.Kep., Ns., MNg.; Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kom.; Wenny, A.N., S.Kep., Ns., M.Kes.
2016 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATANLatar Belakang: Pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa. Ketersediaan dan kualitas sarana/prasarana menjadi salah satu aspek yang mempengaruhi pelaksanaan UKS. Laporan tim pembina UKS pusat dan Kota Yogyakarta menyebutkan bahwa pelaksanaan UKS masih belum optimal seperti ketersediaan sarana/prasarana. Oleh sebab itu perlu dilakukan penilaian pelaksanaan UKS terutama sarana/prasarana untuk mengetahui aspek yang bisa ditingkatkan. Tujuan Penelitian: Mengetahui gambaran pelaksanaan usaha kesehatan sekolah dasar/sederajat di Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 62 kepala sekolah atau guru pembina UKS. Penelitian ini menggunakan kuisioner penilaian lomba sekolah sehat dari tim pembina UKS pusat tahun 2007 dan lembar observasi. Pengolahan data menggunakan analisis univariat untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari setiap item pertanyaan. Hasil: Sebanyak 27 sekolah (43,5%) memiliki perlengkapan ruang UKS berkualitas sedang, 24 sekolah (38,7%) memiliki aspek kebersihan dan kerapihan ruang UKS berkualitas baik serta 51 sekolah (82,3%) memiliki program bimbingan dan konseling kesehatan namun tidak terjadwal. Berdasarkan total nilai obervasi masing-masing sekolah didapatkan sekolah dengan kategori UKS baik berjumlah 24 sekolah (38,7%), sedang 35 sekolah (56,5%) dan kurang 3 sekolah (4,8%). Dari observasi lingkungan sekolah dasar, didapatkan 38 sekolah (61,3%) memiliki kualitas ventilasi dan pencahayaan toilet kurang dan 42 sekolah (67,7%) tidak memiliki ruang bimbingan dan konseling kesehatan sendiri. Sedangkan, keadaan air di 58 sekolah (93,5%) dan saluran pembuangan air limbah di 50 sekolah (80,6%) memiliki kualitas baik. Menurut responden, pelaksanaan UKS memiliki 2 hambatan terbesar, yaitu tenaga/SDM (19; 30,6%) dan sarana prasarana (18; 29%). Kesimpulan: Kategori pelaksanaan usaha kesehatan sekolah dasar terbanyak adalah kategori sedang yang dipengaruhi oleh jumlah tenaga/SDM dan ketersediaan sarana/prasarana.
Background: Health Promoting Schools (HPS) implementation has a goal to increase education quality and student academic achievement. Availability and quality of infrastructure has significant effect on HPS implementation. Report from central and Yogyakarta city HPS assessment team state that HPS implementation is still not optimal, especially on infrastructure. Therefore, we need to examine HPS implementation to determine which aspects that can be improved. Objective: To determine an overview of health promoting schools-primary school implementation in Yogyakarta City Method: This is a cross-sectional designed descriptive analytical research that involved 62 school principals and HPS teachers. Data were collected using Lomba Sekolah Sehat questionnaire by Tim Pembina UKS Pusat (2007) and observation test. Data were analyzed using descriptive statistics. Result: Moderate quality of HPS room facilities owned by 27 schools (43,5%), 24 schools (38,7% have moderate quality on HPS and classroom cleanliness-tidiness and 51 schools (82,3%) have health counseling program but is not periodically scheduled. Observation total score each school generates 3 quality implementation categories: 24 good schools (38,7%), 35 moderate schools (56,5%) and 3 less schools (4,8%). Research shows 38 schools (61,3%) have less quality in toilet ventilation and exposure. There is no health counseling room in 42 schools (67,7%). Other condition shows 58 schools (93,5%) have good water and 50 schools (80,6%) have also good sanitation. Two themes were collected as major barriers: human resources (n=19; 30,6%) and insfrastructure (n=18, 29%). Conclusion: The most category in health promoting schools implementation is moderate category that influence by human resources and infrastructure.
Kata Kunci : Guru pembina UKS, kepala sekolah, usaha kesehatan sekolah / Health promoting schools, HPS teacher, school principal