Laporkan Masalah

PRAKTIK KEKERASAN SIMBOLIK PADA IBU HAMIL DI DESA JATIBARU, KOTA BIMA, NUSA TENGGARA BARAT

ANIS IZDIHA, Dr. Atik Triratnawati, M.A

2017 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGI

Evaluasi program dunia MDG'S di tahun 2015 menyatakan bahwa Indonesia telah gagal di dalam mengatasi Angka Kematian Ibu (AKI) menyisakan sebuah masalah dan tantangan bagi Indonesia di era SDG'S. Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan karena berbagai upaya meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya layanan kesehatan kehamilan dan persalinan telah dilakukan pemerintah. Konsep kesehatan reproduksi perempuan yang mengedepankan adanya hak-hak perempuan atas kesehatan reproduksinya tidak menunjukkan efektivitasnya karena terbentur oleh beberapa sebab khususnya oleh status perempuan yang lemah di dalam konstruksi budaya patriarkhi. Tulisan ini dimaksudkan untuk mendalami penyebab tidak langsung dari kematian ibu dilihat dari perspektif kekerasan simbolik yang diterima oleh perempuan sehingga otoritas perempuan terhadap kesehatannya sendiri belum terwujud. Analisis gender turut dikembangkan untuk melihat sejauh mana ketimpangan gender menghambat pemenuhan kesehatan ibu hamil dan paska persalinan. Aspek gender akan dilihat dari bagaimana akses dan kontrol dari keluarga dan komunitas mempengaruhi secara tidak langsung pada kesehatan ibu serta bagaimana perempuan mengambil keputusan atas kesehatan dirinya?. Metode pengumpulan data dilakukan dengan focus group discussion, observasi partisipasi di wawancara mendalam, studi visual dan studi dokumen. Diskusi dilakukan kepada 10 partisipan FGD dan wawancara pada 17 informan ibu hamil dan melahirkan. Keluarga dan komunitas turut berperan kuat dalam melakukan indoktrinasi agama dan adat kepada ibu hamil. Indoktrinasi ini diikuti dengan aturan tabu yang berusaha mengeksklusifkan perilaku ibu hamil. Akibatnya akses perempuan kepada layanan kesehatan tidak langsung diputuskan namun harus melalui musyawarah keluarga. Selain itu, keluarga mengikat perempuan pada ritual adat dan keperawatan kepada sando (dukun). Bidan sebagai agen kesehatan negara juga memberikan dorongan massivekepada ibu hamil untuk mengikuti program kesehatan disertai dengan pemberian ungkapan negatif kepada pengobatan tradisional. Perempuan pada akhirnya menemui diri mereka berada di antara pusaran kekerasan simbolik yang tidak disadarinya, kehamilan dan persalinan dilihat sebagai peristiwa evaluasi atas perilaku kehamilan ibu sehingga perempuan akan lebih mengutamakan perilaku sosial dibanding perilaku kesehatan selama kehamilan. Pengabaian akan kesehatan selama kehamilan menjadi titik pokok kesehatan perempuan tidak optimal dan layanan kesehatan pertama yang dipilih perempuan adalah sando karena adanya kontrol kultur yang diciptakan keluarga dan komunitas kepada perempuan. Kekerasan simbolik pada perempuan menjadi mekanisme yang berjalan di atas struktur sosial yang timpang. Secara tidak langsung, struktur yang timpang menyebabkan tidak tercapainya kesehatan perempuan dan kematian ibu terjadi.

MDG'S world evaluation program in 2015 said that Indonesia has failed in overcoming the Maternal Mortality Rate (MMR) becoming problems and challenge in SDG'S . This condition more unusual because efforts to improve health services, especially during pregnancy and childbirth has been done by the government. The concept of women's reproductive health that emphasizes the rights of women to reproductive health is not shown to be effective because hit by the socio-cultural society that still imbalanced between men and women. This paper aim to explore the indirect causes of maternal death from the perspective of symbolic violence that is acceptable to women towards their own health authorities have not materialized. Gender analysis helped to developed examine the extent to which gender disparities still fulfillment in the health of pregnant women and post-childbirth. Gender aspects will be seen from how the access and control of the family, mid wife and the community indirectly affect the health of the mother as well as how decisions are taken by woman herself ?. Methods of data collection is done by focus group discussions, participatory observation, interviews, visual studies and documents research. Discussions attended by ten participantsand interviews were doing to seventeen informant pregnant women and childbirth. Families and communities contribute strongly in doing doctrinal religion and customs and to pregnant women. This was followed by the doctrinal rules that seek taboo behavior of pregnant women. As a result, women's access to health services is not directly decided yet to go through the family council. Besides strong family tie up women in traditional rituals and nursing to sando (shaman). On the other side, midwives as state health agencies also provide a massive boost to pregnant mothers to follow the national health programs and insists on not doing traditional treatment.Women in the end see themselves in the vortex of an unconscious symbolic violence. Pregnancy and childbirth is seen as an evaluation of the events of pregnancy the mother's behavior so that women would prioritize social behavior compared health behaviors during pregnancy. Neglect of health during pregnancy will be the principal point of women's health and health care are not optimal. First elected health servicethat choices by women is sando because family dan her cummunity control. Symbolic violence on women are mechanism that goes from unequal social structure. Indirectly, the unbalanced structure causes the failure to achieve women's health and maternal deaths occur

Kata Kunci : kekerasan simbolik,kehamilan, kesehatan reproduksi, Kota Bima, Sando