Laporkan Masalah

HUBUNGAN STRESOR PSIKOSOSIAL DENGAN KEPUTIHAN PADA WANITA YANG TERKENA DAMPAK ERUPSI MERAPI DI HUNIAN TETAP PAGERJURANG CANGKRINGAN SLEMAN

DIAN AYU NINGTYAS, Dr. Dra. Sumarni DW, M.Kes

2016 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATAN

Latar Belakang: Bencana dapat menimbulkan dampak psikologis yang berkepanjangan. Selain itu, kondisi hunian tetap, tetangga baru, dan lingkungan yang baru juga dapat memicu timbulnya stres. Stres pada wanita dapat menyebabkan masalah pada kesehatan reproduksi. Keputihan merupakan salah satu gangguan reproduksi yang akan muncul jika wanita mengalami stres. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara stresor psikososial dengan keputihan pada wanita yang terkena dampak erupsi Merapi di Hunian Tetap Pagerjurang Cangkringan Sleman. Metode: Penelitian kuantitatif, jenis penelitian non eksperimental, metode cross-sectional. Penelitian dilakukan di Hunian Tetap Pagerjurang, Cangkringan, Sleman pada bulan Agustus-September 2016. Subyek penelitian adalah wanita yang terkena dampak erupsi Merapi sebanyak 32 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan Instrumen Penilaian Stresor Psikososial (IPSP) dan Tes Inspeksi Visual Asam asetat (IVA). Data dinalisis menggunakan Fischer Exact Test. Hasil: Sebagian besar responden mengalami stresor psikososial berat (71,9%). Hanya sedikit responden yang mengalami keputihan (31,2%). Tidak ada hubungan antara stresor psikososial pindah rumah dan keputihan (p-value=0,427, p>0,05). Tidak ada hubungan antara stresor kesulitan ekonomi dengan keputihan (p-value=0,126, p>0,05). Tidak ada hubungan antara stresor kematian keluarga dengan keputihan (p-value=0,085, p>0,05). Tidak ada hubungan antara stresor trauma karena bencana dengan keputihan (p-value=0,526, p>0,05). Tidak ada hubungan antara stresor alih profesi dengan keputihan (p-value=0,275, p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara stresor psikososial dengan keputihan pada wanita yang terkena dampak erupsi Merapi di Hunian Tetap Pagerjurang Cangkringan Sleman.

Background: Disaster can cause prolonged psyhological effect. The condition of permanent shelters, new neighbors, and new environtment can also lead to stress. Stress in women can cause reproductive health problems. Leucorrhea (fluor albus) is one of reproductive problems that can arise if a woman experiences stress. Objective: To identify the correlation between pshychocosial stressors and leucorrhea in women affected by Merapi eruption in permanent shelter in Pagerjurang, Cangkringan, Sleman. Method: Quantitative non-experimental research with cross-sectional method. The study had been conducted in permanent shelter Pagerjurang, Cangkringan, Sleman in August-September 2016. The respondents were 32 women who were affected by Merapi eruption. This research used purposive sampling with instrument of psychosocial stressor assesment and VIA Test. The data were analyzed using Fischer Exact Test. Result: Most of respondents experienced severe psychological stressors (71,9%). Few respondents experienced leucorrhea (31,2%). No correlation between psychological stressor of moving and leucorrhea. No correlation between psychological stressor of (economic problem, family members' death, trauma caused by disaster, profession changing) and leucorrhea. Conclusion: There was no correlation between psychological stressor with leucorrhea in women who were affected by Merapi eruption in permanent shelter Pagerjurang, Cangkringan, Sleman.

Kata Kunci : hunian tetap, keputihan, stresor psikososial, Tes IVA, wanita

  1. S1-2016-336532-abstract.pdf  
  2. S1-2016-336532-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-336532-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-336532-title.pdf