Laporkan Masalah

Rekonstruksionisme dalam Konsep Pendidikan Martha C. Nussbaum

DAHLIA ARIKHA, Dr. Rr. Siti Murtiningsih

2016 | Skripsi | S1 ILMU FILSAFAT

Pendidikan idealnya mendidik manusia untuk senantiasa menyadari eksistensinya sebagai makhluk jasmani dan rohani. Sayangnya, pendidikan yang menjadi tren saat ini adalah pendidikan yang hanya menitikberatkan pada pemenuhan diri sebagai makhluk jasmani atau yang bersifat material. Kenyataan pendidikan yang demikian kemudian dikritik oleh Martha Nussbaum, seorang guru besar Universitas Chicago. Penelitian ini menjadikan Nussbaum sebagai objek material dan rekonstruksionisme sebagai objek formal, dalam metode filsafat penelitian ini biasa disebut metode Historis Faktual Tokoh. Nussbaum secara spesifik mengabsahkan nilai dari pendidikan liberal adalah tentang pentingnya nilai kemanusiaan untuk masyarakat demokratis dan peran pendidikan dalam mempromosikan serta mengembangkan kebebasan. Nussbaum berargumen bahwa pendidikan tingkat tinggi seharusnya meningkatkan internalisasi tentang nilai-nilai keberagaman dan globalisasi yang dilatari sistem pendidikan liberal. Pendidikan liberal menurut Nussbaum berarti ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½membebaskan akal budi dari kekakangan adat kebiasaan���¢�¯�¿�½�¯�¿�½ serta ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½mengembangkan rasa kemanusiaan agar manusia dapat hidup bermasyarakat dengan baik���¢�¯�¿�½�¯�¿�½ Konsepsi pendidikan liberal Nussbaum lebih lanjut diartikulasukan dengan mendiskusikan tiga kapasitas yang menurut Nussbaum adalah fundamental untuk mewujudkan pendidikan yang mengembangkan kemanusiaan dan membentuk masyarakat demokratis. Komponen pertama berfokus pada pengayaan kritis atas kedirian, yang menunjang kemampuan berpikir kritis dan independen diluar tradisi. Komponen kedua adalah kapasitas menyadari keberadaan orang lain sebagai manusia yang setara satu dengan lainnya. Dan terakhir, kapasitas ketiga adalah kapasitas imajinasi naratif, atau kapasitas untuk berpikir dan membayangkan apa yang terjadi jika diri sendiri berada diposisi orang lain dengan latar belakang yang berbeda. Berdasarkan konsep pendidikan liberal Nussbaum, dalam teori ideologi pendidikan liberal, Nussbaum dikategorikan sebagai seorang liberalis. Sedangkan jika ditinjau dari aliran filsafat pendidikan, Nussbaum termasuk dalam aliran Rekonstruksionisme yang memandang pendidikan bertujuan untuk menjawab segala problem sosial dan mengupayakan perbaikan kehidupan sosial dunia yang demokratis dan lebih baik. Kaum rekonstruksionisme berfokus pada kurikulum yang menekankan perubahan sosial sebagai tujuan utama pendidikan.

Education ideally educate people to always be aware of human���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s existence as material and spiritual creatures. Unfortunately, the current education trend belong to the education that is focused on self-fulfillment as a creature of physical or material side. The fact of the current trend education was later criticized by Martha Nussbaum, a professor of the University of Chicago. In this research, Nussbaum is being a material object and rekonstruksionism as a formal object, the method of this research is commonly called Historical Factual Method of figure. Nussbaum has analysed and endorsed the value if liberal education, the importance of the humanities for democratic citizenship and the role of education in promoting freedom and development. Nussbaum Argues that universities and colleges, in aiming to form good citizens in a world characterized by increased diversity and globalization, should endorse a liberal education, that is an education that ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½liberates the mind from the bondage of habit and custom���¢�¯�¿�½�¯�¿�½, and ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½is a cultivation of the whole guman being for the funcion of citizenship and life generally. Nussbaum further articulates Nussbaum���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s position by discussing the three capacities which in Nussbaum���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s view are fundamental to the aim of cultivating humanity and forming citizenship. The first concern the capacity for critical examination of oneself, thus endorsing the ability to reason and to think independently of authority and tradition. The second is the capacity to recognaize oneselft as a human being with deep recognation of and concern for, all other human beings. Finally, the third ability consists in cultivating is the ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½narrative imagination���¢�¯�¿�½�¯�¿�½, or the capacity to think and imagine ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½what it might be like to be in the shoe of a person different from oneself. Based on Nussbaum���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s liberal education conception, in ideology of liberal education, Nussbaum could be called as liberasionist. In spite of that in philosophical education, Nussbaum���¢�¯�¿�½�¯�¿�½s conception of liberal education include into Reconstructionism which is a philosophy that emphasizes the addressing of social questions and a quest to create a better society and worldwide democracy. Reconstructionist educators focus on a curriculum that highlights social reform as the aim of education.

Kata Kunci : Nussbaum, Pendidikan Liberal, Tiga Kapasitas, Rekonsruksionisme. Pendidikan idealnya mendidik manusia untuk senantiasa menyadari eksistensinya sebagai makhluk jasmani dan rohani. Sayangnya, pendidikan yang menjadi tren saat ini adalah pendidikan yang han