Laporkan Masalah

Dinamika Organisasi Muslim Tionghoa: Studi Kasus Permusti Tasikmalaya

WILFA NUDIYA JANNATI, Dr. Setiadi M. Si.

2016 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Skripsi ini akan menggambarkan dinamika organisasi Tionghoa Muslim di kota Tasikmalaya. Di kota Tasikmalaya masih terdapat isu-isu anti-Cina yang menyebabkan mudahnya bagi mereka untuk menyalahkan etnis Tionghoa dan mencurigai etnis Tionghoa, diantaranya adalah huru-hara tahun 1996 yang menjadikan etnis Tionghoa sebagai pihak yang bersalah sekaligus korban. Mayoritas penduduk kota Tasikmalaya adalah etnis Sunda dan beragama Islam, dalam hal perniagaan mereka lebih memilih berbelanja ke toko-toko yang dimiliki oleh orang Muslim. Melalui hasil penelitian di lapangan, para pengurus Permusti begitu menekankan nilai-nilai persaudaraan dan persatuan sebagai visi dan misi utama Permusti. Namun bagaimana mayoritas anggota memandang dan menyikapi Permusti ternyata tidak mengarah pada nilai-nilai persatuan dan persaudaraan.Melalui skripsi ini akan menggambarkan bagaimana posisi strategis suatu organisasi Tionghoa Muslim yang dapat memperkuat identitas anggotanya bahwa mereka sama dengan penduduk mayoritas dan menjadi sarana untuk berlindung dari isu-isu anti-Cina yang ada di Tasikmalaya. Penelitian dilakukan pada tahun 2016 di kota Tasikmalaya dengan pengurus Permusti sebagai subjek dan narasumber utama. Metode penelitian kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam sehingga dapat memberikan gambaran mengenai fenomena sosial secara menyeluruh dan mendalam. Proses wawancara dilakukan dengan metodein-depth interview dan life history di mana peneliti bertatap muka secara langsung dengan informan dan menggali informasi mengenai sejarah hidup dan pengalamannya selama bersama Permusti. Pengurus Permusti yang masih aktif ternyata memang sudah saling mengenal jauh sebelum Permusti dibentuk bahkan sejak sebelum mereka memeluk agama Islam. Permusti menjadi bentuk formalitas relasi sosial yang sebelumnya telah ada secara informal diantara pengurus Permusti. Realitas di lapangan bahwa tidak ada anggota atau pengurus yang kemudian memiliki teman dan relasi sosial yang baru setelah bergabung dengan Permusti, menunjukkan bahwa Permusti gagal menjadi wadah bagi persatuan dan persaudaraan. Permusti memiliki orang-orang berpengaruh yang menjadi pengurus dan penasihatnya, diantaranya mereka bahkan mengenal oleh elit penguasa bahkan dikenal hingga ke luar Tasikmalaya. Namun yang kemudian terlihat adalah bahwa mayoritas anggota Permusti lebih memandang Permusti sebagai fungsi pelindung jika suatu hari terjadi konflik berbau anti-Cina agar para Tionghoa Muslim ini tidak menjadi korban konflik tersebut.

This thesis describes the dynamics of Chinese Muslim organizations in Tasikmalaya. In Tasikmalaya, there are still issues that led to anti-China easy for them to blame the ethnic Chinese and suspects ethnic Chinese, including the riot in 1996 that made the Chinese people as well as victims of the guilty party. The majority of residents of Tasikmalaya is Sundanese and Muslim, in terms of commerce they prefer shopping at shops owned by Muslims. Through research in the field, officials Permusti so emphasizing the values of brotherhood and unity as the main vision and mission of Permusti. But what about the majority of members perceive and respond Permusti did not lead to the values of unity and brotherhood. Through this paper will illustrate how the strategic position of a Chinese Muslims organization to strengthen the identity of its members that they are equal with the majority population and also to shelter from the issues of anti-Chinese in Tasikmalaya. The study was conducted in 2016 in the city of Tasikmalaya with the commitee of Permusti as subjects and key informants. Qualitative research methods with in-depth interviews conducted so as to provide an overview of social phenomena thoroughly and deeply. The interview process was conducted using in-depth interviews and life history where researchers meet face to face with the informants and dig up information on the life history and experiences during the involvement with Permusti. The commitee of Permusti still active is indeed already knew each other long before Permusti formed even before they converted to Islam. Permusti be a formality social relations which already existed informally among the main member of Permusti. Reality on the ground that no member or commitee who then have friends and new social relations after joining Permusti, shows that Permusti failed to become a forum for unity and brotherhood. Permusti have influential people who become trustees and advisers, among them are respected and even know the ruling elite and they are even known to the outside of Tasikmalaya. But later seen is that the majority of the Permusti members more see Permusti as a protective function if one day there is a anti-China conflict that the Chinese Muslims will not become victims of the conflict.

Kata Kunci : Tasikmalaya, Chinese Muslim, Tionghoa Muslim, Organisasi Tionghoa Muslim, Kohesivitas