Laporkan Masalah

SOCIAL CAPITAL DALAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR DI KOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

SUPRIYATI, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D.; Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D.; DR. M. Najib Azca, M.A

2016 | Disertasi | S3 Ilmu Kedokteran

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan promosi kesehatan untuk pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) di Kota Yogyakarta; mengeksplorasi social capital di Kota Yogyakarta, serta memformulasikan mekanisme interaksi promosi kesehatan dan social capital beserta konsekuensinya (partisipasi masyarakat, efikasi kelompok, dan tindakan kolektif) dalam pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM. Penelitian grounded theory ini dilakukan dengan informan masyarakat Kota Yogyakarta yang terlibat dalam berbagai kegiatan pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM, tokoh masyarakat, serta pengelola dan pelaksana promosi kesehatan. Sebanyak 42 informan dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan diskusi kelompok terarah. Selanjutnya, data dianalisis secara grounded theory dengan menggunakan software Open Code 3.6. Trustworthiness dilakukan dengan peer debriefing, prolonged engagement, thick description, negative case analysis, dan triangulasi. Adanya kepercayaan dan pemimpin lokal yang siap berkorban telah menstimulasi hubungan timbal balik yang memungkinkan kesuksesan promosi kesehatan. Kepercayaan tersebut diperlukan pada tingkat provider dan masyarakat. Saat ini, kepercayaan di tingkat provider masih lemah, sehingga kerja sama dan koordinasi untuk pelaksanaan promosi kesehatan sangat terbatas. Kondisi tersebut berdampak pada belum maksimalnya partisipasi masyarakat, efikasi kelompok, dan tindakan kolektif dalam melakukan pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM. Temuan lain penelitian ini adalah bahwa bonding social capital dan bridging social capital mensyaratkan interaksi anggota masyarakat atau lingkungan sosial yang mendukung. Lingkungan sosial Kota Yogyakarta sangat mendukung. Sementara itu, linking social capital menjadi social capital tambahan yang hanya dimiliki oleh individu yang memiliki keterampilan sebagai pemimpin dan memiliki jejaring. Partisipasi masyarakat, dan tindakan kolektif dapat ditumbuhkan (baik pada promosi kesehatan yang dilakukan secara community centered program maupun provider centered program) selama (1) pesannya dikemas sesuai dengan felt need masyarakat, (2) masyarakat dapat merasakan manfaat program, (3) terdapat pengalaman tentang keberhasilan program. Community centered program lebih memungkinkan untuk tumbuhnya efikasi kelompok yang memicu tindakan kolektif dalam mengatasi masalah yang dihadapi dan lebih mendukung keberlangsungan program. Lingkungan sosial masyarakat Kota Yogyakarta yang ditengarai dengan hubungan timbal balik, kepercayaan sosial, serta didukung dengan keberadaan pemimpin yang siap berkorban sangat kondusif untuk promosi pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM. Lingkungan sosial yang kondusif semestinya diimbangi dengan adanya kepercayaan pada tingkat provider yang dapat meningkatkan koordinasi dan kerja sama untuk promosi kesehatan tersebut.

This study was aimed at investigating health promotion of prevention and control for the non-communicable diseases (NCDs) risk factors; exploring the forms of social capital; and formulating the interaction mechanism of existing health promotion and social capital together with its consequences for preventing and controlling NCDs risk factors in the city of Yogyakarta. A grounded theory approach with observations, interviews, and focus group discussions was conducted to illustrate how social capital works for preventing and controlling the NCDs risk factors. A total of 42 informants of citizens, community leaders, health promotion management and practitioners, and stakeholders of health promotion were chosen purposively for this study. A grounded theory data analysis was carried out with Open Code 3.6 software. In Addition, trustworthiness was performed by conducting peer debriefing, prolonged engagement, thick description, and negative case analysis. Trust and readiness to sacrifice of local leaders have stimulated reciprocal relationships and enable community health promotion. In this case, the trust among providers which is categorized as poor results a very limited cooperation and coordination for the implementation of health promotion. This condition, therefore, leads to unoptimal community participation, group efficacy, and collective actions for NCDs risk factors prevention and control. This study also found that bonding social capital and bridging social capital require interaction among community members and or the supportive social environment. Yogyakarta social environment which is very supportive establishes bonding or bridging social capital to the people of Yogyakarta whether they actively interact or not. Meanwhile, linking social capital categorized as an additional social capital for the people who have bridging and or bonding social capital along with their skills for having good leadership and good networking. Community participation, group efficacy, and collective actions can be taken place on the health promotion (both for community and provider oriented) when (1) the message is packaged in accordance with community felt need, (2) people get benefits of the program, and (3) there is a success story of the program. Moreover, health promotion program with community oriented approach allows more possibility and improvement for the sustainability of program. Yogyakarta social environment that is characterized by reciprocal relations, trust, and supported by the local leaders who are ready to sacrifice has been leading to a very conducive for preventing and controlling of NCDs risk factors. Therefore, it is should be followed by the high level of trust among related stakeholders to improve the coordination and collaboration the health promotion program in Yogyakarta.

Kata Kunci : social capital, faktor risiko penyakit tidak menular,promosi kesehatan, grounded theory, social capital, non, communicable disease risk factors, health promotion

  1. S3-2016-309525-abstract.pdf  
  2. S3-2016-309525-bibliography.pdf  
  3. S3-2016-309525-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2016-309525-title.pdf