The Feasibility of Pilotless Commercial Flight for Future Aviation Industry: Finance and Market point of view
MIKAEL DJATI HUTOMO, Tarsisius Hani Handoko, M.B.A., Ph.D.
2016 | Tesis | S2 ManajemenSistem Auto-Pilot sudah diperkenalkan sejak lama untuk membantu pekerjaan pilot dan sudah terbukti dapat meningkatkan keamanan dari pesawat dan penumpangnya. Guy Hirst (2015), seorang mantan pilot Boeing 747 mengatakan bahwa 70% dari kecelakaan pesawat terjadi karena sebab Human Error. Dalam sebuah penerbangan, pilot juga hanya menyentuh panel kontrol kurang dari 10 menit (termasuk dalam penerbangan dengan durasi 12 jam) (Captain Alex Passerini, 2015). Fakta tersebut menimbulkan kontroversi mempertanyakan peranan pilot di kokpit pesawat. Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisa ide penerbangan komersial tanpa pilot sebagai inovasi untuk industri penerbangan di masa depan dari sudut pandang finansial dan pasar. Pertama tama, analisa Du Pont dilakukan untuk mempelajari kelayakan finansial bagi maskapai low cost dan tradisional. Hasil analisa menyatakan bahwa akan lebih menguntungkan bila diaplikasikan pada maskapai tradisional (melipatgandakan ROE 2 x) daripada pada maskapai low cost (melipatgandakan ROE 1.5 x). Setelah itu, kuesioner didistribusikan untuk mengetahui penerimaan penumpang pesawat. Ternyata, hasil dari 565 responden menunjukkan bahwa level penerimaan konsumen hanya 14%; sedangkan 53% responden ingin terbang hanya dengan 1 pilot (saat ini aturannya adalah di dalam kokpit minimal harus ada 2 pilot); dan 31% responden lainnya tidak ingin terbang dalam penerbangan komersial tanpa pilot. Kesimpulannya adalah menurunkan jumlah pilot dari 2 menjadi 1 di dalam kokpit adalah lebih layak daripada tanpa pilot sama sekali dengan alasan para penumpang belum siap.
Auto-pilot system has been introduced over time to support performance of pilot. It has proven some improvements in security and safety of aircrafts and their passengers. Guy Hirst (2015), a former Boeing 747 Pilot, said that 70 percent of accidents are occurred because of human error. During the flight, Pilot also only touches the control pad for less than 10 minutes (even for 12 hours flight) (Captain Alex Passerini, 2015). These issues create controversy questioning importance of the pilots involvement inside the cockpit. This research was conducted to analyze an idea of pilotless commercial flight as an innovation for the future aviation industry from finance and market perspectives. Firstly, Du Pont analysis is performed to study finance feasibility for both airlines (traditional and low-cost). It is more profitable for traditional airlines to apply (increase the ROE by 2 fold) rather than low cost carriers (increase the ROE by 1.5 fold). Secondly, questionnaires are distributed to examine willingness of the passengers. Unfortunately, results from 565 respondents shows that customer acceptance level is only 14%, furthermore, 53% of the respondents wants to fly with only 1 pilot in the cockpit (present rule is 2 pilot), while 30% are reluctant to travel on pilotless commercial flight. At the end, we conclude that reducing numbers of pilot from two into one is more feasible instead of replacing them because the customers are not ready yet.
Kata Kunci : Inovasi, Tanpa Pilot, Otomatis, Keamanan, Kematangan Teknologi, Sudut pandang finansial, sudut pandang pasar, Analisis Du Pont, Kuesioner, Penerimaan konsumen. / Innovation, Pilotless, Automated, Safety, technology maturity, Finance point of view, Market