Laporkan Masalah

Governing the Traditional Business in Urban Community: A Study of Kampung Batik Laweyan, Surakarta Indonesia

MUSLICHAH SETIASIH, M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng, D.Eng.

2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan Daerah

Tata Kelola Bisnis Tradisional di Komunitas Perkotaan: Sebuah Kajian tentang Kampung Batik Laweyan, Surakarta Indonesia. Sejumlah penelitian tentang usaha kecil-menengah batik tradisional Indonesia telah dilakukan, namun sedikit yang mengungkapkan dari sisi perspektif pekerja atau pengrajin batik tradisional. Batik tradisional yang berbeda dari produksi batik umumnya, merujuk pada teknik manual pembuatan dalam mendesain motif dan menorehkan pewarna pada kain. Penelitian ini dilakukan di Kampung Laweyan, sebuah daerah di lingkungan Surakarta dimana batik kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam sektor perdagangan, industri kecil dan menengah, dan juga pariwisata. Batik juga menciptakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat setempat. Namun demikian, para pekerja dari batik tradisional hidup dalam kondisi tanpa kepastian, seperti upah yang tidak teratur, kurangnya perlindungan sosial dan asuransi kesehatan, fleksibilitas jam kerja, buruknya kondisi tempat kerja, serta rendahnya apresiasi terhadap keterampilan mereka. Hal ini merupakan dampak dari batik tradisional yang termasuk dalam sektor informal. Penelitian ini tentang kerentanan pekerjaan di sektor informal di bawah tekanan industrialisasi dan produksi masif produksi tekstil dan kain. Penelitian ini memfokuskan pada bagaimana para pekerja batik menghadapi kehidupan sehari-hari dan bagaimana mereka bertahan untuk mendapatkan lebih banyak manfaat dari bisnis batik tradisional. Dengan menerapkan metode etnografi dan teknik pengamatan partisipatif di lapangan, data diperoleh dari berbagai informan kunci di lapangan pada bulan Februari 2016. Hasil wawancara terhadap 37 pengrajin sebagai responden utama dan juga 7 pelaku yang terkait dari Pemerintah Kota Surakarta, LSM dan akademisi. Dalam metode analisis, narasi jawaban responden diklasifikasikan dan diinterpretasi untuk menemukan pola dan mengkonstruksi makna. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan peta berbasis GIS untuk menunjukkan distribusi pekerja batik, dimana setiap lokasi terletak saling berdekatan di satu area wilayah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi. Temuan penelitian ini dirangkum dalam dua poin. Pertama, keberlanjutan sektor informal industri batik tradisional Kampung Laweyan dicapai melalui adanya jaringan sosial yang menjadi sumber penghidupan bagi para pekerja. Jaringan sosial juga menjadi media dimana aktivitas berbagi pengetahuan berlangsung dengan anggota keluarga, teman dan tetangga yang menempati ruang pemukiman perkotaan dan telah saling mengenal dengan baik. Kedua, pengalaman pengajin yang terampil tidak memberikan kontribusi pendapatan yang lebih tinggi. Karena, para tengkulak memainkan peran sebagai perantara yang menentukan harga batik dan pasokan bahan baku, berada di tengah-tengah antara para pengrajin dan pemilik modal. Sehingga dengan kata lain, pembangunan ekonomi perkotaan dan naiknya produksi batik tradisional Kampung Laweyan belum memberikan peningkatan kesejahteraan bagi para pekerja Rekomendasi dari penelitian ini bagi perbaikan tata kelola industri perkotaan adalah dibutuhkannya peran pemerintah untuk memfasilitasi UMKM dengan memperkuat tumbuhnya jaringan sosial yang terbentuk di masing-masing komunitas. Kata kunci 1.batik, 2.sektor informal, 3.komunitas perkotaan, 4.Surakarta, 5.industri kecil & menengah.

Governing the Traditional Business in Urban Community: A Study of Kampung Batik Laweyan, Surakarta, Indonesia. Despite numerous research projects on small-medium enterprise of Indonesian Traditional batik, little is known about the perspective of the workers or artisan of the traditional batik enterprises. The traditional batik that differs from printing batik refers to the hand made and manual technique of batik making by applying dye on cloth. This study was conducted in Kampung Laweyan, an area in Surakarta neighborhood where batik contributed to the economic growth in trading, small and medium industry, and the tourism sector. Batik also created job and income generating for local people in Surakarta. Nevertheless, the workers of traditional batik encountered uncertain conditions, such as irregular wage, lack of social protection and health insurance, casual working hours, poor condition of work place, and low appreciation of their skill due to the nature of traditional batik, which engaged informal-type of employment. This study is about the vulnerability of informal employment in traditional batik and focuses particularly on how the batik workers cope with everyday life and how they secure their job to gain more benefit from batik business. Therefore, the objective of this study is to find the real issues and clarify the strategy of workers in traditional batik business to survive their livelihood. By applying ethnography methods and participation observer technique on qualitative research, data gained from various key informants at fieldwork on last February 2016. As a result, 37 workers as main respondents and also 7 actors related to batik from local government, NGO and academician were interviewed. In analysis methods, the narration of respondents' answer were classified and coded to find the pattern and construct the meaning. In addition, this research also using GIS-based map to show the distribution of respondents who are located and well-interconnected on proximity within neighborhood area. The findings of this study are summarized in two points. Firstly, the sustainability of informal employment in traditional batik, is achieved through social network which helps them to fulfill their livelihood. The social network also becomes a medium where knowledge sharing operates within the family members, friends and neighbors who live in the same urban community and who have known each other for all their lives. Secondly, the experience of skillful workers does not contribute to the higher income. Because, the middlemen exist in between the workers and the owners to play the role as intermediary who determine the price of batik and supply the raw material. So that, the growth of local economy development, specially in traditional batik does not contribute to the welfare of batik workers. This research suggests recommendation to local government, particularly in the planning policy for the improvement of livelihood in urban industrial economy. The government should facilitate small and medium industry through social network strengthening which has been spreading in urban neighborhood. Keywords 1. batik, 2. informal employment, 3. urban community, 4. Surakarta, 5. small and medium enterprise.

Kata Kunci : 1. batik, 2. informal employment, 3. urban community, 4. Surakarta, 5. small and medium enterprise.

  1. S2-2016-370984-abstract.pdf  
  2. S2-2016-370984-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-370984-title.pdf