ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS BAWANG MERAH DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NANANG KUSUMA MAWARDI, Prof. Dr. Ir. Masyhuri
2016 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianSalah satu komoditas hortikultura yang mempunyai potensi dikembangkan secara bagus di Indonesia adalah komoditas bawang merah. Provinsi penghasil utama bawang merah di Indonesia ditandai dengan luas areal panen di atas 1.000 hektar per tahun, salah satunya yaitu DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing usahatani bawang merah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengetahui dampak kebijakan pemerintah terhadap output dan input dalam usahatani bawang merah di DIY. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu PAM (Policy Analysis Matrix). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bawang merah di DIY mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif yang ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRC masing-masing sebesar 0,4229 dan 0,9477. Kebijakan pemerintah memberikan dampak positif terhadap output dan input usahatani bawang merah, terutama kebijakan pemerintah berupa pembatasan impor bawang merah berdasarkan harga referensi yang mampu membuat harga privat output bawang merah jauh lebih tinggi daripada harga sosialnya. Berdasarkan analisis sensitivitas, apabila terjadi peningkatan harga benih bawang merah sebesar 20%, usahatani bawang merah masih memberikan keuntungan privat tetapi tidak memberikan keuntungan secara sosial. Usahatani bawang merah akan masih memiliki keunggulan keunggulan kompetitif, tetapi menjadi tidak mempunyai keunggulan komparatif. Apabila terjadi pelemahan nilai tukar rupiah menjadi Rp 12.900,00 per US $ maka usahatani bawang merah akan mendapatkan keuntungan privat tetap, tetapi keuntungan sosial menjadi naik. Usahatani bawang merah juga masih memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif.
One of the horticultural commodities which have great developed potential in Indonesia is a shallot. The main shallot producing provinces in Indonesia is marked with harvested area over 1,000 hectares per year, one of them is DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). This research aims to determine the competitiveness of shallot farming in Yogyakarta and determine the impact of government policies on output and input in shallot farming in DIY. Data analysis method that used in this research is PAM (Policy Analysis Matrix). The results showed that shallot farming in DIY have competitive and comparative advantage indicated by the PCR and the DRC value respectively by 0,4229 and 0,9477. Government policies have a positive impact on output and input of shallot farming, especially government policy in the form of restrictions on imports of shallot by price references that can make private prices of shallot output is much higher than the social price. Based on the sensitivity analysis, when an increase in the price of shallot's seed by 20%, shallot farming still gives private profits but do not provide social profits. Shallot farming will still have a competitive advantage, but being does not have a comparative advantage. If occur weakening of rupiah to Rp 12900.00 per US $, the shallot farming will have private profits remains, but social profits to be increased. Shallot farming still has competitive and comparative advantage.
Kata Kunci : bawang merah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dampak kebijakan, daya saing, PAM