Laporkan Masalah

Asertifitas Diplomasi Tiongkok dalam Konflik Laut Tiongkok Selatan Pasca Perang Dingin

INDRA JAYA WIRANATA, Dr. Dafri, M.A.

2016 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Konflik Laut Tiongkok Selatan sudah terjadi sejak tahun 1970an dan melibatkan enam negara, yaitu Tiongkok, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Konflik ini menyangkut kedaulatan territorial sehingga menjadi kompleks dan sulit untuk diselesaikan. Disamping melibatkan kedaulatan, yang menjadi alasan bertahannya konflik ini karena Laut Tiongkok Selatan merupakan perairan dengan posisi dan kekayaan alamnya yang akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi negara mana saja yang memiliki kontrol penuh. Untuk mempertahankan klaimnya, Tiongkok melakukan diplomasi yang bersifat asertif dengan mempertegas status klaim pada forum-forum internasional, selain pada aktivitas klaim di wilayah sengketa. Dengan metode penelitian yang bersifat kualitatif, penelitian ini akan menganalisis apa yang mendorong negara tersebut melakukan diplomasi yang cenderung asertif tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan konsep diplomasi dan asertifitas, terdapat dua faktor yang mendorong Tiongkok berdiplomasi secara asertif, yaitu faktor ekonomis yang lahir dari kondisi ketergantungan impor energi dan faktor tingginya kepercayaan diri yang lahir dari kapabilitas ekonomi dan militer yang kuat.

South China Sea conflict has occurred since 1970s and involved six countries, China, Taiwan, the Philippines, Vietnam, Malaysia, and Brunei Darussalam. This conflict concerns territorial sovereignty to be complex and difficult to resolve. Besides involving sovereignty, the reason for the persistence of this conflict is because the South China Sea waters has the position and natural wealth that will provide long term benefits to any country that has full control. To maintain its claim, China's diplomacy to be assertive to reinforce the status of its claim in international forums, in addition to the activities of the claims in the disputed territories. With qualitative research methods, this research will analyze what is driving Beijing tend to be assertive in doing diplomacy. Based on the results of research that uses the concept of diplomacy and assertiveness, there are two factors that driving China's diplomacy be assertive, the economic factors that grows out from energy import dependency and the high confidence factor that grows out from the strong economic and military capabilities.

Kata Kunci : Laut Tiongkok Selatan, Konflik Laut Tiongkok Selatan, Diplomasi, Asertifitas, Tiongkok

  1. S2-2016-388861-abstract.pdf  
  2. S2-2016-388861-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-388861-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-388861-title.pdf