Laporkan Masalah

Pemetaan Risiko Bencana Banjir Sungai Winongo Kota Yogyakarta

ROFIKA DYAH MAHARANI, Trias Aditya Kurniawan M., ST., M.Sc., Ph.D.; Prof. Dr. Ir. Bambang Yulistyanto

2016 | Tesis | S2 TEKNIK PENGELOLAAN BENCANA ALAM

Laju pembangunan dan urbanisasi menyebabkan banyak masyarakat tinggal di daerah yang tidak layak huni. Wilayah perkotaan yang semakin padat menyebabkan daerah sungai yang seharusnya berfungsi sebagai dataran banjir berubah fungsi menjadi permukiman penduduk. Permukiman dengan kondisi demikian memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana banjir, sebagaimana yang terjadi di sepanjang Sungai Winongo. Kerentanan tinggi memerlukan upaya mitigasi atau pengurangan risiko yang sistematis dan terintegrasi. Tahap penting dari upaya pengurangan risiko bencana banjir adalah upaya pemetaan risiko. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun peta risiko bencana banjir di kawasan perkotaan sepanjang Sungai Winongo yang mencakup Kecamatan Tegalrejo, Gedongtengen, Wirobrajan, Jetis, Mantrijeron, dan Ngampilan Kota Yogyakarta. Peta risiko bencana banjir ini disusun dengan mengkaji tingkat ancaman, kerentanan, dan kapasitas daerah dalam menghadapi bencana banjir. Analisis yang dilakukan dalam pemetaan risiko ini adalah analisis hidrologi, hidrolika, kerentanan, kapasitas, dan risiko. Analisis hidrologi menggunakan data curah hujan untuk menghasilkan hidrograf debit banjir rancangan kala ulang 25 tahun. Pemodelan hidrologi menggunakan bantuan perangkat lunak HEC-HMS (Hydrologic Engineering Center-Hydrologic Modelling System), sedangkan analisis hidrolika memanfaatkan perangkat lunak HEC-RAS (Hydrologic Engineering Center-River Analysis System) untuk simulasi perhitungan muka air banjir. Parameter input data berupa geometri sungai diperoleh dari analisis data Digital Terrain Model (DTM) Sungai Winongo menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (ArcGIS) dengan ekstensi HEC-GeoRAS. DTM Sungai Winongo dibentuk dari hasil kompilasi data pengukuran terestrial oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) tahun 2013, LiDAR oleh BNPB, BPPTK ESDM, dan UGM tahun 2012, serta SRTM dari USGS. Penentuan parameter, klasifikasi dan pembobotan indeks ancaman, kerentanan, dan kapasitas mengacu pada Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana yang dimodifikasi sesuai situasi dan kondisi wilayah penelitian. Proses pembuatan peta menggunakan bantuan ArcGIS. Berdasarkan peta risiko yang dihasilkan, secara umum daerah sepanjang Sungai Winongo memiliki tingkat risiko rendah terhadap bencana banjir seluas 4144 m2, risiko sedang seluas 2294 m2, dan risiko tinggi seluas 5009 m2 yang tersebar pada enam kecamatan. Daerah dengan tingkat risiko rendah paling luas adalah RW 17 Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron. Daerah dengan tingkat risiko sedang paling luas adalah RW 18 Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron. Daerah dengan tingkat risiko tinggi paling luas adalah RW 17 Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron. Berdasarkan pada peta ancaman yang dihasilkan, hampir seluruh kawasan studi terdampak banjir, hanya RW 10 dan 11 Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo yang tidak terdampak karena lokasinya relatif jauh dari sungai. Hasil analisis kerentanan menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bencana banjir. Akan tetapi, sebagian besar kapasitas daerah dalam menghadapi banjir juga tinggi.

The pace of development and urbanization led to a lot of people live in areas that are not habitable. Increasingly crowded urban areas cause river flood plain changed into public housing dan settlement. Settlement with this condition have a high vulnerability level of floods, as occurred along Winongo. High vulnerability require systematic and integrated mitigation or risk reduction. Flood risk mapping is one of important disaster risk reduction. The purpose of this research is to develop flood risk maps in urban areas along the Winongo River, which includes Tegalrejo, Gedongtengen, Wirobrajan, Jetis, Mantrijeron, and Ngampilan District. This flood risk maps compiled by assessing hazard level, vulnerability level, and local capacity level in the face of floods. The hydrologic, hydraulics, vulnerability, capacity and risk analysis conducted in this flood risk mapping. Hydrologic analysis used precipitation data to produce 25 years return period discharge flood hydrograph. Hydrologic modeling used HEC-HMS (Hydrologic Engineering Center-Hydrologic Modelling System) and hydraulics analysis used HEC-RAS (Hydrologic Engineering Center-River Analysis System) to simulate flood water level. River geometry data obtained from Winongo Digital Terrain Model (DTM) analysis used Geographic Information Systems software (ArcGIS) with HEC-GeoRAS extension. DTM Winongo formed from data compilation of terrestrial measurement by Serayu Opak River Basin Organization (BBWSSO) in 2013; LiDAR by BNPB, BPPTK ESDM, and UGM in 2012; and SRTM from USGS. Determination of parameters, classification and weighting of hazard, vulnerabilities and capacities indexes refer to the Head of BNPB rule number 2 in 2012 about General Guidelines for Disaster Risk Assessment which is modified according to the circumstances of the research area. Mapping used ArcGIS. Based on risk map result, generally area along Winongo river which have low risk level of flood is 4144 m2, medium risk is 2294 m2, and high risk is 5009 m2, which are spread in the six districts. The most extensive area of low risk level are RW 17, Gedongkiwo, Mantrijeron District. The most extensive area of medium risk level are RW 18, Gedongkiwo, Mantrijeron District. The most extensive area of high risk level is RW 17, Gedongkiwo, Mantrijeron District. Based on hazard map result, almost the entire research area affected by flood, only RW 10 and 11 Kricak, Tegalrejo District were not affected because they relatively far from the river. Vulnerability analysis result showed that most of the area has a high level of floods vulnerability. However, most of the local capacity to cope with floods was also high.

Kata Kunci : risiko, banjir, HEC-HMS, HEC-RAS, HEC-GeoRAS/ risk, floods, HEC-HMS, HEC-RAS, HEC-GeoRAS

  1. S2-2016-373083-abstract.pdf  
  2. S2-2016-373083-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-373083-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-373083-title.pdf