PENDEKATAN INKLUSI SOSIAL DALAM PEMBERDAYAAN PAGUYUBAN EKLASING BUDI MURKA KULON PROGO (Studi Implementasi Program PNPM Peduli Yayasan Lembaga Kajian Islam Dan Sosial)
HAFIZEN, Ir.F.Trisakti Haryadi,M.Si.,Ph.D;Subejo,Sp,M.Sc,Ph.D
2016 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi PembangunanTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan pendekatan inklusi sosial dan mengidentifikasi dan kendala dalam pemberdayaan Paguyuban Eklasing Budi Murka Kulon Progo yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial Teori yang adalah teori pemberdayaan masyarakat yakni enabling, empowering dan pemandirian (diadaptasi dari Winarni, 1998, Sumodiningrat, 2002). Teori tersebut digunakan untuk melihat stretagi dan praktik tiga pilar pendekatan inklusi sosial(acceptance, access, Policy) dalam pemberdayaan Paguyuban Eklasing Budi Murka Kulon Progo yang dilakukan oleh Yayasan LKiS. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pemberdayaan Paguyuban Eklasing Budi Murka, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial menggunakan tiga tahapan strategi pemberdayaan, yakni; Penguatan kapasitas (capacity building), Pelibatan dan Fasilitasi (engagement and facilitation) dan advokasi kebijakan (policy advocacy). Tiga pilar pendekatan inklusi sosial (acceptance, access, Policy) bukan merupakan tahapan pemberdayaan, akan tetapi merupakan dimensi pemberdayaan bagi komunitas terkucilkan (excluded communities), ketiga pilar tersebut muncul dalam satu aktivitas sekaligus. Kendala pemberdayaan yang dihadapi oleh Yayasan LKiS adalah, lemahnya kapasitas dan koordinasi Tim pemberdayaan (Pengelola Program), Selain itu, warga Paguyuban Eklasing Budi Murka Kulon Progo masih mengalami trauma politik masa lalu dan yang terakhir adalah kuatnya nuansa viii politik dalam berbagai produk konstitusional di Indonesia, sehingga masih banyak kontradiksi antara Undang-undang Hak asasi manusia dan undangundang lainnya.
The objectives of this study are to analyze and describe the social inclusion approach and identify the constraints in the empowerment program of the Eklasing Budi Murka Community in Kulon Progo conducted by the Institute for Islamic and Social Foundation (LKiS Foundation) The theory used in this research is the theory of empowerment that enables, empowers and self independence (adapted from Winarni, 1998, Sumodiningrat, 2002). This theory is used to view stretagy and practice of the three pillars of social inclusion approach (acceptance, access, policy) in community empowerment of the Eklasing Budi Murka in Kulon Progo was conducted by LKiS Foundation. The method used in this research is descriptive qualitative approach. Methods of data collection through interviews, observation and documentation, in testing the validity of the data, it uses triangulation and triangulation methods. The results showed that in the empowerment of the Eklasing Budi Murka Community, the LKiS Foundation using three stages strategy, namely; Capacity building, Engagement and facilitation and policy advocacy. The three pillars of social inclusion approach (acceptance, access, Policy) is not a stage of empowerment, but the dimensions of empowerment for the excluded, these three pillars often appear in one activities at a time. The Constraints of the empowerment faced by the LKiS Foundation is, weak capacity and coordination of the Empowerment Team Leader (Program Manager), In addition, Eklasing Budi Murka Community Kulon Progo still traumatized of the politics of the past and furthermore, the strong political interest in various constitutional products in Indonesia, made so many contradictions between the Human Rights Law and other laws.
Kata Kunci : Pendekatan, Inklusi, Pemberdayaan,Penghayat kepercayaan