KAJIAN PERTUMBUHAN KOTA SEMARANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENURUNAN MUKA TANAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN SPASIAL-STATISTIK DAN CELLULAR- AUTOMATA
DHONI WICAKSONO, Prof. Dr. rer.nat. Muh Aris Marfai,M.Sc; Dr. Taufik Hery Purwanto, M.Si
2016 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganKota Semarang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dengan jumlah dan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Selain terdapat pertumbuhan kota yang pesat, Kota Semarang diketahui memiliki beberapa potensi bencana, salah satunya adalah penurunan muka tanah. Penelitian ini mengembangkan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode spasial-statistik dan Cellular-Automata untuk menganalisis tiga objek kajian utama, yaitu kajian perkembangan kota, kajian penurunan muka tanah dan evaluasi perkembangan kota di kawasan rawan penurunan muka tanah. Tiga objek kajian tersebut kemudian dijabarkan menjadi lima tujuan utama, yaitu: 1) menganalisis karakteristik pertumbuhan lahan terbangun di Kota Semarang, 2) membuat model proyeksi pertumbuhan lahan terbangun di Kota Semarang tahun 2015, 2020, 2025 dan 2030, 3) menganalisis karakteristik penurunan muka tanah di Kota Semarang, 4) membuat model proyeksi penurunan muka tanah di Kota Semarang tahun 2015, 2020, 2025 dan 2030, 5) mengevaluasi potensi pertumbuhan kota di kawasan rawan penurunan muka tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan lahan terbangun Kota Semarang memiliki faktor pengontrol utama berupa jarak dari lahan terbangun eksisting, serta memiliki kecenderungan pertumbuhan mengarah ke Timur. Kecamatan Genuk dan Kecamatan Pendurungan merupakan pusat pertumbuhan dengan prediksi pertambahan luas mencapai 30,2 ha/th dan 18,5 ha/th. Variabel yang signifikan dalam mempengaruhi laju penurunan muka tanah adalah jarak dari kawasan industri, jarak dari kawasan perdagangan dan jasa, penurunan muka airtanah dan ketebalan akuifer, memiliki koefisien determinasi mencapai 0,704. Prediksi area yang berada pada elevasi di bawah 0mdpl dan berhubungan langsung dengan lautan pada tahun 2015 pada Skenario A, mencapai luas 217,9 ha dengan laju rata-rata pertambahan luas antara tahun 2015-2030 senilai 296,4 ha/th, sementara itu dengan Skenario B, mencapai luas 101,3 ha dengan laju rata-rata pertambahan luas antara tahun 2015-2030 senilai 179,8 ha/th. Kecamatan Genuk dan Kecamatan Pendurungan memiliki indikasi terekspansi perluasan lahan terbangun yang pesat, pertumbuhan penduduk yang tinggi dan memiliki potensi penurunan muka tanah yang tinggi
Semarang city is one of the largest cities in Indonesia with rapid growing population. Besides having rapid growing city, Semarang has some disaster potential, one of them is land subsidence. This study develops an approach using Geographic Information System (GIS) with spatial-statistic methods and Cellular Automata to analyze three main objects of study, there are study of urban development, study of land subsidence and evaluation of urban development in areas prone to land subsidence. Three objects of study then break down into five main objectives, there are: 1) analyze the growth characteristics of built up area development, 2) create a model projected growth of built-up area in the city of Semarang in 2015, 2020, 2025 and 2030, 3) analyzing the characteristics of subsidence land in the city of Semarang, 4) create a model projections of land subsidence in Semarang in 2015, 2020, 2025 and 2030, 5) evaluate the potential of urban growth in areas prone to land subsidence. The results showed that the growth of built-up area in Semarang was controlled by distance from existing built-up area and has a growing trend to the east. Genuk and Pendurungan Sub-District becomes the growth center with predicted built-up area growth reach 30,2 ha/year and 18,5 ha/year. The variables were significant in affecting the rate of subsidence is the distance from the industrial area, the distance from the area of trade and services, a decrease in groundwater level and aquifer thickness, has a determination coefficient reached 0.704. Prediction areas located at an elevation below 0mdpl and directly connected to the oceans in 2015 in Scenario A, it covers 217.9 ha with an average rate of area accretion between years 2015-2030 reach 296.4 ha / year, while the scenario B, reaching 101.3 ha with an average rate of area accretion between years 2015-2030 worth 179.8 ha / year. Pendurungan and Genuk Sub-District have indication rapid expansion of built-up area, high population growth and potential to high rate of land subsidence.
Kata Kunci : pertumbuhan kota, penurunan muka tanah, SIG, Cellular-Automata, spasial-statistik.