Laporkan Masalah

PERENCANAAN RELOKASI PENDUDUK KE BARAK PENGUNGSIAN DAN PENENTUAN LOKASI FASILITAS GUDANG LOGISTIK SERTA CAKUPAN PELAYANANNYA PADA KASUS BENCANA ALAM GUNUNG MERAPI

BAGAS PRASETYO W, Sinta Rahmawidya Sulistyo S.T. M.SIE.

2016 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Manajemen operasi pra terjadinya bencana merupakan hal yang penting untuk dikaji. Hal-hal yang dibahas mencakup relokasi penduduk dari lokasi rawan bencana alam dan penentuan lokasi fasilitas seperti gudang logistik. Dalam kasus bencana alam Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, perlu dilakukan pengkajian mengenai proses relokasi penduduk di lokasi rawan bencana menuju barak pengungsian agar penduduk dapat mengetahui barak pengungsian mana yang harus dituju pada saat terjadi erupsi Gunung Merapi. Selain itu penentuan lokasi gudang logistik usulan juga diperlukan karena gudang logistik existing tidak mampu memenuhi standar waktu tempuh perjalanan dari gudang logistik ke barak pengungsian yang ditetapkan BPBD Kabupaten Sleman yaitu maksimal 30 menit. Penelitian membahas pengembangan model matematis relokasi penduduk baik dalam tingkatan siaga dan tingkatan awas. Selain itu, juga dibahas pengembangan model matematis penentuan lokasi gudang logistik usulan yang digunakan untuk penyaluran bantuan bagi korban bencana alam. Model matematis yang terakhir dikembangkan adalah penentuan cakupan pelayanan oleh tiap gudang. Pengembangan model ini dilakukan dengan metode MILP dan PILP untuk menghasilkan solusi yang optimal. Hasil dari penelitian ini yaitu pada tingkatan siaga bencana alam Gunung Merapi, penduduk yang berada di 27 dusun rawan bencana akan direlokasi menuju 36 barak pengungsian terpilih. Sedangkan pada tingkatan awas, penduduk yang berada di 81 dusun rawan bencana dalam 7 kelurahan dan 7 barak pengungsian dalam radius 10-15 km akan direlokasi menuju barak pengungsian terpilih sehingga total barak pengungsian yang akan digunakan sebanyak 114 barak. Dalam proses pendistribusian bantuan akan menggunakan dua gudang logistik existing yaitu di BPBD DIY dan Stadion Maguwoharjo serta dua gudang logistik usulan yaitu di Kantor Kecamatan Mlati dan Kelurahan/Balai Desa Bimomartani agar memenuhi standar waktu tempuh perjalanan 30 menit yang ditetapkan BPBD. BPBD DIY akan melayani 10 barak pengungsian, Stadion Maguwoharjo akan melayani 21 barak pengungsian, Kelurahan Bimomartani akan melayani 33 barak pengungsian, dan Kecamatan Mlati akan melayani 50 barak pengungsian.

Pre-disaster operation management is an important point to be studied. The matters that would be discussed included the relocation of people from vulnerable areas and determination of the facility location such as warehouse. In the case of Mount Merapi natural disaster in Sleman, it is necessary to study the process of relocating people from vulnerable areas to the shelter so people could understand where they should go when the eruption happen. In addition, determination proposed warehouse is also needed because the existing warehouses are not able to meet the standards of travel time from warehouse to the shelters which is maximum of 30 minutes. This research discusses the development of mathematical model about the relocation of people both on alert level and also in beware level. Moreover, the mathematical model is also developed in determining location of the proposed warehouse that will be used for distributing logistical support to the victims. Last mathematical model developed is determining services by each warehouse. The development of this models were conducted using MILP and PILP to produce optimal solution. The results from this research is on alert level, people living in 27 vulnerable areas will be relocated to the 36 selected shelters. Whereas on beware level, people living in 81 vulnerable village and 7 shelters within a radius of 10- 15 km will be relocated to the selected shelters so that the total refugee camps to be used is 114 shelters. In the logistical distribution process, it will use two existing warehouses (BPBD DIY and Maguwoharjo Stadium) and also two proposed warehouses (Bimomartani government's office and Mlati government's office) in order to meet the standards of travel time 30 minutes that was set BPBD. BPBD DIY will serve 10 shelters, Maguwoharjo Stadium will serve 21 shelters, Bimomartani government's office will serve 33 shelters, and Mlati government's office will serve 50 shelters.

Kata Kunci : Gunung Merapi, Gudang Logistik, Barak Pengungsian, MILP, PILP, Mount Merapi, Warehouse, Shelter, MILP, PILP