PERBURUAN SATWA LIAR OLEH MASYARAKAT MENTAWAI DI PULAU SIBERUT (STUDI KASUS DI DESA MATOTONAN)
Agus Sudibyo Jati, Dr.rer.silv. M. Ali Imron, S. Hut., M.Sc.
2016 | Tesis | S2 Ilmu KehutananDi samping keragaman hayatinya, Pulau Siberut juga dikenal sebagai rumah bagi Masyarakat Mentawai, penduduk asli yang mendiami dan tergantung dari hutan pulau tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Berburu, salah satu aktivitas penting untuk memenuhi kebutuhan, juga memiliki nilai budaya. Siberut telah berubah terutama semenjak Indonesia merdeka dan mempengaruhi cara hidup tradisional Masyarakat Mentawai. Perubahan ini bisa mempengaruhi praktek perburuan yang mereka lakukan. Karena perubahan nilai-nilai budaya dan pengenalan teknologi modern, perburuan yang dilakukan bisa menjadi tidak lestari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi praktek perburuan yang dilakukan oleh Masyarakat Mentawai beserta dinamikanya. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode partisipasi-observasi pada bulan Mei-Juli 2016. Desa Matotonan dipilih sebagai lokasi penelitian karena bisa menggambarkan perubahan budaya yang terjadi di Siberut. Perburuan di Desa Matotonan dilakukan untuk beberapa tujuan yaitu: kepentingan adat, subsistensi, mengurangi hama, dan kebutuhan ekonomi. Meskipun demikian, masyarakat tidak lagi memiliki ketergantungan yang kuat terhadap perburuan. Untuk kepentingan adat, perburuan diatur dengan serangkaian tabu, tetapi hal semacam ini sedang menghilang. Untuk subsistensi, berburu hanya menyumbang sebagian kecil dari kebutuhan protein harian karena sumber protein yang lain lebih mudah didapatkan. Di lain pihak berburu untuk kepentingan ekonomi justru meningkat. Karena tidak terikat oleh tabu dan menggunakan peralatan modern, berburu untuk kepentingan ekonomi berpotensi lebih besar terhadap kelestarian satwa liar dibandingkan dengan praktek perburuan yang lain.
Isolated from the mainland of Sumatra, Siberut Island is a home to various endemic plants and animals. Besides its high biodiversity, Siberut is also known to be home to the Mentawaians, indigenous people inhabiting and depending on island’s forest for their livelihoods. Hunting, an activity essential for subsistence, also holds cultural values for the people. Siberut has changed especially since Indonesia’s independence and has impacted the Mentawaian traditional way of life. These cultural transformations may affect their hunting practices. Due to changing of cultural values and the introduction of modern technology, the hunting practices of the Mentawaian may no longer be sustainable. The objective of this research is to identify hunting practices by Mentawaian and their dynamics. Participant-observation was employed to collect data in May to July 2016. Matotonan Village was selected as the study site because it can show the Siberut cultural transition. Hunting in Matotonan Village was done for several reasons: cultural, subsistence, reducing pest, and economic. However, people do not have a strong dependency on hunting as before. For cultural reasons, hunting was ruled by taboo, but such activities are now fading. Subsistence hunting only contributes a small amount of the daily protein since other sources of protein are easier to obtain. Somehow hunting for economic motivation sprouted up. Because taboo does not rule it and modern technologies are used, economic hunting has a bigger potential threat to the wildlife sustainability compared to the other hunting practices.
Kata Kunci : perburuan tradisional, perburuan ekonomi, kelestarian, partisipasiobservasi