POLA INTERAKSI MASYARAKAT DESA KAYUPURING DENGAN HUTAN PETUNGKRIYONO, BKPH DORO, KPH PEKALONGAN TIMUR
SISKA NOVIASTUTI, Dr. Lies Rahayu Wijayanti Faida, M.P.
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANHutan Petungkriyono BKPH Doro KPH Pekalongan Timur merupakan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang memiliki fungsi ganda, yaitu fungsi perlindungan tanah, mata air (hidrologi) dan fungsi produksi (ekonomi). Berdasarkan letaknya, Hutan Petungkriyono berbatasan langsung dengan Desa Kayupuring sehingga terdapat interaksi yang tidak dapat dihindari. Interaksi masyarakat Desa Kayupuring dengan Hutan Petungkriyono membentuk pola interaksi. Pola interaksi akan berpengaruh terhadap kelestarian hutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pola interaksi masyarakat Desa Kayupuring dengan Hutan Petungkriyono BKPH Doro KPH Pekalongan Timur Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan metode studi kasus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa panduan wawancara. Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu snowball sampling with purposive start. Informan dalam penelitian ini sebanyak 37 orang. Setelah data diperoleh, dilakukan analisis data berupa uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi berupa triangulasi sumber dan triangulasi teknik, serta analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat lima pola interaksi masyarakat Desa Kayupuring dengan Hutan Petungkriyono. Pola interaksi tersebut, meliputi interaksi yang bersifat legal untuk kebutuhan komersial, yaitu pemungutan rotan, pemungutan bambu, pemungutan getah, dan pemanfaatan wisata. Interaksi yang bersifat masih dalam proses legalitas untuk kebutuhan subsisten, yaitu pemanfaatan lahan kopi dan pemanfaatan lahan rumput. Interaksi yang bersifat masih dalam proses legalitas untuk kebutuhan komersial, yaitu pemanfaatan lahan kopi dan pemanfaatan lahan kapulaga. Interaksi yang bersifat belum terdapat status legalitas untuk kebutuhan subsisten, yaitu pemungutan kayu bakar dan pemanfaatan air. Serta Interaksi yang bersifat ilegal untuk kebutuhan subsisten, yaitu pemanfaatan kayu.
Petungkriyono Forest BKPH Doro KPH Pekalongan Timur is Limited Production Forest (Hutan Produksi Terbatas/HPT), which has double function that are land protection, water spring (hydrology) function and production function (economy). Based on its location, Petungkriyono Forest is bordered by Kayupuring Village, thus there is an interaction that is not able to be avoided. Interaction between Kayupuring Village Community and Petungkriyono Forest formed interaction pattern. Interaction pattern will affect forest sustainability. Hence, it is needed to do a research to identify interaction pattern of the community with Petungkriyono Forest BKPH Doro KPH Pekalongan Timur. This research was a qualitative research using case study method. The used instrument in this research was interview guide. The used sampling technique in this research was snowball sampling with purposive start. The number of the informant in this research was 37 persons. After the data were obtained, data analysis was done, comprised of data validity test using triangulation technique by source triangulation and technical triangulation, as well as data analysis consisted of data reduction, data presentation, and conclusion building. Based on the research result can be seen that there were five interaction patterns between Kayupuring Village and Petungkriyono Forest. Those interaction patterns comprised of legal interactions to comply commercial needs, which were rattan collection, bamboo collection, gum collection, and tourism utilization. The interaction that were still on legalization processes for subsistence needs were land utilization for coffee and land utilization for grass. The interaction that were still on legalization processes for commercial needs were land utilization for coffee and land utilization for cardamom. The interactions that were not holding legal status for subsistence needs were firewoods collection and water utilization. Also, illegal interaction for subsistence interaction was wood utilization.
Kata Kunci : Interaksi Masyarakat, Hutan Petungkriyono, Pola Interaksi / Community Interaction, Petungkriyono Forest, Interaction Patterns