Laporkan Masalah

Surat Kabar Harian Lokal Membingkai Intoleransi Agama: Pembingkaian Berita Intoleransi Agama di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1 Januari-31 Desember 2014 oleh SKH Kedaulatan Rakyat dan SKH Harian Jogja

INEZ C HAPSARI, Rahayu, S.I.P., M.Si., M.A.

2016 | Skripsi | S1 ILMU KOMUNIKASI

Dalam setahun, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melompat ke posisi kedua teratas dalam daftar provinsi di Indonesia, yang memiliki pelanggaran kebebasan beragama/ berkeyakinan dan intoleransi. Daftar itu tercatat dalam Laporan Tahunan The Wahid Institute (2014), yang menunjukkan bahwa Provinsi DIY memiliki 22 peristiwa intoleransi agama pada 2014, atau meningkat 733,33% dari 2013 dengan 3 peristiwa. Berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tersebut, peneliti mengamati pemberitaan intoleransi agama antara SKH Kedaulatan Rakyat, yang mengidentifikasi diri sebagai media orang Yogyakarta dan SKH Harian Jogja, media massa lokal penantang yang berjaringan dengan grup media di Jakarta. Mengacu kepada paradigma konstruktivis dan model pembingkaian Pan dan Kosicki, temuan menunjukkan bahwa SKH Kedaulatan Rakyat dan SKH Harian Jogja cenderung membingkai intoleransi agama dalam sebuah bingkai besar: sebagai peristiwa hukum dan kriminalitas, dengan menekankan aspek kekerasan. Selain itu, adanya pengaburan unsur siapa dan mengapa tentang konteks peristiwa menyebabkan isu besar gagal terungkap ke permukaan.

In a year, Yogyakarta Special Region (DIY) jumped into the second highest position in a list of province in Indonesia with violation of religious/ faiths freedom and intoleration. The list which is recorded in the Annual Report of The Wahid Institute (2014) showed that there were 22 incidents of religious intolerance at 2014, which has increased to 733,33% from 2013 with 3 incidents only. Regarding the event, the researcher observed news of religious intolerance between SKH Kedaulatan Rakyat, which identified itself as media of Yogyakarta's people and SKH Harian Jogja, local mass media's rival which networked with media group in Jakarta. By referring to the constructivism paradigm and framing model of Pan and Kosicki, the researcher finds that SKH Kedaulatan Rakyat and SKH Harian Jogja tend to frame religious intolerance in a big frame: as law and criminality's incident, with the emphasize on violence. In addition, the blurring of the elements of who and why about the context of incident caused the failure of major issue to be revealed to the surface.

Kata Kunci : intoleransi agama, media massa lokal, pembingkaian berita, model pembingkaian Pan dan Kosicki./ religious intolerance, local mass media, news framing, framing model of Pan and Kosicki.

  1. S1-2016-318069-abstract.pdf  
  2. S1-2016-318069-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-318069-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-318069-title.pdf