POTENSI BAHAYA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN REMBANG, KABUPATEN PURBALINGGA
NUZUL HIDAYATI, Dr.Ir. Ambar Kusumandaru, M.E.S.
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANKejadian tanah longsor di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga terus terulang setiap tahunnya, baik yang skalanya kecil maupun yang skalanya besar. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang tepat perlu dirumuskan sesuai tingkat bahaya tanah longsor di Kecamatan Rembang. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian mengenai potensi bahaya tanah longsor di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Penelitian dilakukan dari Juni sampai Juli 2016. Data yang diambil tediri dari 14 indikator yang berasal dari aspek fisik alami dan aspek aktivitas manusia, yaitu kelerengan, kondisi tanah, batuan penyusun, curah hujan, tata air lereng, kegempaan, vegetasi, pola tanam, pemotongan lereng, pencetakan kolam, drainase, pembangungan konstruksi, kepadatan penduduk dan usaha mitigasi. Data yang di peroleh dari lapangan maupun dari data sekunder, kemudian dianalisis berdasarkan Peraturan Menteri PU No.22/PRT/M/2007 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor dan dibagi dalam kluster dengan menggunakan software SPSS v20. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Kecamatan Rembang berada di Zona B dan C. 79% dari wilayah Kecamatan Rembang termasuk dalam Zona C kelas kerawanan longsor sedang. Faktor utama yang menyebabkan tanah longsor di Kecamatan Rembang adalah kelerengan dan curah hujan dengan nilai total bobot pembobotan 27,9 dan 16,2. Alternatif konservasi tanah dan air berupa sosialisasi dan pelatihan diarahkan untuk semua kluster. Pembuatan saluran pembuangan air diarahkan untuk kluster 1, 2 dan 6. Agroforestri dan pemilihan jenis tanaman diarahkan untuk 1, 2, dan 3. Perlindungan tebing sungai diarahkan untuk 1, 5 dan 6. Pembatasan pemanfaatan diarahkan untuk kluster 1, 3, 4, 5 dan 6 dengan kelerengan > 40%.
Incidence of landslides in the Rembang Sub-District, District of Purbalingga continues to recur every year, both small scale and the large scale. Application of soil and water conservation techniques that right needs to be formulated in accordance landslide hazard level in the Rembang Sub-District. Therefore, the need for research on the potential dangers of landslides in the District of Rembang, Purbalingga. The study was conducted from May 2016 until July 2016 Data taken consisting of 14 indicators derived from the physical aspects of natural and aspects of human activity, topography, soil conditions, rock composer, rainfall, water management slopes, seismicity, vegetation, cropping, cutting slope, printing pool, drainage, building construction, overcrowding and mitigation efforts. The data obtained from the field or from secondary data, and then analyzed based on the Minister of Public Works 22 / PRT / M / 2007 on Spatial Planning Guidelines for Landslide Prone Region and is divided into clusters by using SPSS v20 software. Based on the survey results revealed that the District Rembang is in Zone B and C. 79% area in the Rembang Sub-District is included in Zone C class was prone to landslide susceptibility. The main factor that caused landslides in the district of Rembang is the slope and precipitation with a total value of 27.9 and 16.2 hazard weight. Soil and water conservation alternative form of socialization and training geared to all clusters. The water drainage is directed to cluster 1, 2, and 6. Agroforestry and choice of plants is directed to cluster 1, 2 and 3. The river bank protection is directed to cluster 1, 5 and 6. Restriction of the use is directed to cluster 1, 3, 4, 5 and 6 with gradients of> 40%.
Kata Kunci : Longsor, Purbalingga, Konservasi Tanah