Laporkan Masalah

Isolasi dan Identifikasi Jamur Tanah Pelarut Kalsium pada Batuan Gamping di Petak 5 dan 17 Hutan Wanagama I, Gunungkidul, Yogyakarta

UTAMI SANITYASA, Dr.Ir. Handojo Hadi Nurjanto, M.Agr.Sc.

2016 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Jamur berperan penting dalam pembentukan tanah di Wanagama I. Bahan induk Wanagama I adalah gamping (CaCO3) yang dapat terlarut dengan asam. Jamur dapat melapukkan batuan gamping melalui produksi asam-asam organik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh dan mengidentifikasi isolat jamur tanah yang memiliki kemampuan sebagai pelarut kalsium pada batuan gamping di Wanagama I. Sampel tanah diambil dari bawah tegakan jati, gamal dan rumput yaitu alang-alang (Imperata cylindrica) dan rumput grintingan (Cynodon dactylon) di petak 5 dan 17 Hutan Wanagama I. Media yang digunakan untuk mendapatkan isolat jamur adalah PDA (Potato dextrose agar) sedangkan media yang digunakan untuk menguji kemampuan jamur pelarutan kalsium adalah PDAL (Potato dextrose agar limestone). Jamur tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan kalsium ditandai dengan pembentukan zona bening pada media. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi individunya. Dari hasil penelitian diperoleh 14 isolat jamur yang berasal dari petak 5 dan 17 Hutan Wanagama I. Pada petak 5 terdapat 9 isolat sedangkan petak 17 terdapat 12 isolat. Dari hasil seleksi didapatkan 4 isolat jamur tanah yang memiliki kemampuan sebagai pelarur kalsium yaitu isolat C9, J8, C11 dan L30. Isolat C9 membentuk rasio zona jernih dan diameter koloni jamur terbesar yaitu 6,1. Isolat jamur J8 dan C9 termasuk dalam genus Penicillium, sedangkan C11 adalah Aspergillus dan L30 adalah Fusarium .

Fungi play important roles in soil formation in Wanagama I. The parent material of Wanagama I is limestone (CaCO3) which can be dissolved by acid. Fungi can weather limestone by producing organic acids. This study was conducted to obtain and identify soil fungal isolates capable of dissolving calcium limestone in Wanagama I. Soil samples were taken from under teak stands, gliricidia and grass, i.e. Alang-alang (Imperata cylindrica) and Scutch grass (Cynodon dactylon) in compartments 5 and 17 of Wanagama I forest. The media used to get fungal isolates was PDA (Potato dextrose agar) while the media used to test fungal ability to dissolve calcium was PDAL (Potato dextrose agar limestone). Soil fungi with calcium dissolving ability formed clear zones surrund the colony in the media. Identification was performed by individual morphology. The research collected 14 fungal isolates from compartments 5 and 17 of Wanagama I forest. In compartment 5 there were 9 isolates and in Compartment 17 there were 12 isolates. Selection process resulted 4 soil fungal isolates with calcium dissolving ability, i.e. C9, J8, C11 and L30 isolates. Isolate C9 formed the biggest clear zone and fungal colony ratio, which was 6, 1. Fungal isolates J8 and C9 belong to genera Penicillium, while C11 is Aspergillus and L30 is Fusarium

Kata Kunci : jamur, pelapukan batuan, gamping, Wanagama I