VARIABILITAS LAJU PELARUTAN DAN POTENSI SERAPAN CO2 PADA MATAAIR KARST DI DESA GIRITIRTO, KECAMATAN PURWOSARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL
IVAN AHMAD R H, Dr. Tjahyo Nugroho Adji, M.Sc. Tech
2016 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANDewasa ini pemanasan global menjadi masalah utama dalam lingkungan. Pemanasan global terjadi akibat meningkatnya konsentrasi CO2 di udara yang menghambat pantulan sinar matahari ke luar bumi. Proses karstifikasi membutuhkan karbondioksida (CO2) sebagai unsur utama. Karbondioksida (CO2) yang terserap pada proses karstifikasi dapat mengurangi jumlah karbondioksida yang terdapat di udara. Selain itu, kandungan CO2 yang terlarut dalam air juga sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pelarutan pada batuan karbonat. Penelitian ini memiliki tujuan, (1) Mengetahui variasi laju pelarutan; (2) Mengetahui variabilitas potensi serapan CO2 di daerah kajian. Penelitian ini menggunakan data yang diambil langsung dari tiga mataair yang diteliti. Data yang dikumpulkan meliputi data debit aliran, pH air, Suhu, dan kandungan kimia air. Pengumpulan data dilakukan pada bulan November 2012 – April 2013 setiap dua minggu sekali dengan waktu pengukuran pagi dan siang hari. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, komparatif, grafis, regresi dan temporal. Tingkat kandungan CaCO3 sangat dipengaruhi oleh debit aliran dan kandungan HCO3- terlarut. Kandungan CaCO3 terlarut tertinggi pada pengukuran pagi berada pada mataair Belik Tompang, dengan rerata sebesar 337.75 mg/l dan pada pengukuran siang, Mataair Ngeleng memiliki rearata kandungan CaCO3 terlarut paling tinggi, sebesar 341,98 mg/l. Hal tersebut dikarenakan pada kedua mataair memiliki nilai kandungan HCO3- terlarut paling besar. Kandungan karbondioksida terlarut sangat ditentukan oleh jumlah debit aliran. Mataair Belik Tompang memiliki rerata kandungan karbondioksida terlarut paling besar, yaitu sebesar 526,09 (pagi) dan 472,3 mg/detik (siang). Jumlah kandungan karbondioksida pada siang hari mengalami penurunan yang diperkiran karena berakhirnya proses respirasi dari tumbuhan di sekitar mataair yang memproduksi karbondioksida.
Global warming became a major problem in the environment. Global warming caused by increasing concentrations of CO2 in the air that inhibits the reflection of sunlight out of the earth. Karstification process requires carbon dioxide (CO2) as the main element. Carbon dioxide (CO2) is absorbed in the process of karstification can reduce the amount of carbon dioxide contained in the air. Moreover, the content of CO2 dissolved in water is also very influential on the level leaching on carbonate rock. The purpose of this study, (1) Knowing the dissolution rate variation; (2) Knowing the potential variability in the CO2 sequestration study areas. Data for this study were taken directly from the three springs studied. Data collected includes discharge, water pH, temperature and chemical content of water. This data collection was conducted in November 2012 - April 2013 every two weeks with a measurement time in the morning and afternoon. The analysis used in this study is descriptive analysis, comparative, graphics, regression and temporal. Levels of CaCO3 is strongly influenced by the flow and content of HCO3- dissolved. The content of dissolved CaCO3 highest in the morning measurements currently on Belik Tompangsprings, with an average of 337.75 mg/l and on the measurement of the afternoon, Ngeleng springs have an average highest content of dissolved CaCO3, amounting to 341.98 mg/l. That is because the two springs have most dissolved HCO3- content value. Carbon dioxide that has uptaken is very determined by the amount of flow. Belik Tompang springs has a greatest average content of carbon dioxide, amounting to 526.09 (morning) and 472.3 mg/s (afternoon). The amount of carbon dioxide at afternoon decreased been anticipated since the end of the process of respiration of plants around the springs that produce carbon dioxide.
Kata Kunci : Karstifikasi, Pelarutan Batuan karbonat, Serapan CO2, Karstification, Dissolution of carbonate rocks, CO2 sequestration